Jumat, 26 Apr 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

K-Conk Mania: Suporter Panggilan Hati

19 Maret 2019, 10: 23: 06 WIB | editor : Abdul Basri

BERI DUKUNGAN: Suporter Madura United ketika berada di tribun Stadion Maguwoharjo, Sleman, beberapa waktu lalu.

BERI DUKUNGAN: Suporter Madura United ketika berada di tribun Stadion Maguwoharjo, Sleman, beberapa waktu lalu. (HENDRA WIDODO FOR RadarMadura.id)

BANGKALAN – Atribut tim Madura United dan Persebaya Surabaya sudah menjadi ciri khas suporter asal Bangkalan K-Conk Mania. Suporter yang berbasis di barat Pulau Madura tersebut secara geografis memang dekat dengan Kota Surabaya, hanya dibelah Selat Madura.

K-Conk Mania merupakan suporter asal Bangkalan yang berdiri karena Perseba Bangkalan di era 2009. Saat ini mereka selalu memenuhi tribun stadion ketika Madura United bermain.

Bahkan ketika Persebaya Surabaya bermain pun, beberapa suporter K-Conk Mania hadir di tribun. Meski menempuh jarak yang tak cukup dekat ke Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya.

Menjadi suporter sepak bola merupakan panggilan hati bagi pemuda asal Bangkalan Ahmad Faisol, 26. Ke mana pun Madura United bermain, dia turut hadir memberikan dukungan.

Salah satunya saat Madura United bermain di ajang Piala Presiden 2019, tepatnya di babak grup. Pada pertandingan pertama menghadapi tuan rumah PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Faisol bersama rombongan suporter lain turut hadir di tribun.

Faisol merupakan salah seorang dirigen K-Conk Mania. Dia memimpin aksi koreografi seluruh suporter di salah satu sudut tribun Stadion Maguwoharjo, Sleman. ”Kami datang ke Sleman untuk mendukung pertandingan Madura United. Kami ingin menyaksikan permainan Madura United bersemangat,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Madura.

Saat itu suporter yang hadir tidak semuanya bertolak langsung dari Pulau Madura. Sebagian berasal dari K-Conk Mania wilayah Jogjakarta. K-Conk Solo juga hadir. Meskipun, lanjut Faisol, terdapat beberapa suporter yang langsung berangkat dari Sumenep. ”Ada K-Conk Sumenep yang memang spesialis away,” ungkapnya.

Ada yang menarik ketika K-Conk Mania dan suporter Madura lainnya berada di tribun. Yaitu, justru suporter tuan rumah tak ada satu pun yang hadir di tribun. Padahal, suporter berjuluk BCS tersebut disebut-sebut sebagai salah satu suporter terbaik di Asia.

Kabarnya, suporter memboikot laga tersebut dan mengajukan beberapa permintaan kepada klub untuk segera dituruti. Jadinya, suara nyanyian dan teriakan suporter K-Conk Mania menggema ke seluruh penjuru Stadion Maguwoharjo.

Tak ayal, laga tersebut berakhir dengan kemenangan skuad Laskar Sape Kerrap dengan skor 2-0. ”Kami ingin menunjukkan kepada Indonesia bahwa Madura adalah harga diri kami. Tidak hanya bagi suporter, bagi tim dan pemain seharusnya berkarakter seperti itu,” ujar Faisol.

Kalimat itu tercetak di spanduk besar berwarna merah yang tulisannya berwarna putih yang biasanya dibentangkan di pagar tribun stadion. Menurut Faisol, makna kalimat dan warna tersebut mencirikan karakter orang Madura. Yakni, memiliki harga diri yang tinggi.

”Ada istilah Ango’ Pote Tolang Tembang Pote Mata. Kami tidak ingin Madura United yang menjadi representasi warga Madura kehilangan harga dirinya. Mereka harus menjaga harga dirinya dengan memenangkan setiap pertandingan,” ucap Faisol.

Orang Madura ada di mana-mana sehingga setiap ada pertandingan away Madura United, mereka datang ke stadion memberikan dukungan. ”Di mana matahari terbit, di sana ada orang Madura,” pungkasnya.

(mr/dam/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia