Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Tentang Buku Potret sang Jagoan

Sepatu Robek hingga Lokomotif Tua

15 Maret 2019, 20: 55: 54 WIB | editor : Abdul Basri

MAJUKAN OLAHRAGA: Dari kiri, moderator Fathorrahman, pembahas Moh. Subhan, Ketua Harian KONI Jatim M. Nabil, tiga peserta, penulis 1 Maksum, GM JPRM M. Tojjib, dan penulis 2 Fuad Ariyanto berfoto bersama usai bedah buku Potret sang Jagoan kemarin.

MAJUKAN OLAHRAGA: Dari kiri, moderator Fathorrahman, pembahas Moh. Subhan, Ketua Harian KONI Jatim M. Nabil, tiga peserta, penulis 1 Maksum, GM JPRM M. Tojjib, dan penulis 2 Fuad Ariyanto berfoto bersama usai bedah buku Potret sang Jagoan kemarin. (A.YUSRON FARISANDY/RadarMadura.id)

Share this      

JAWA Pos Radar Madura (JPRM) bekerja sama dengan KONI Jawa Timur (Jatim) menggelar bedah buku Potret sang Jagoan kemarin (14/3). Kegiatan tersebut mendapat apresiasi dari insan olahraga di Kota Salak. Mulai dari pengurus KONI, pengurus cabor, atlet, guru olahraga, dan mahasiswa.

Diskusi yang dipimpin Redaktur JPRM Fathorrahman berjalan lancar. Redaktur Olahraga JPRM Moh. Subhan ditunjuk menjadi pembahas pada bedah buku yang digelar di aula STKIP Bangkalan. Dua penulis buku yang berisi profil atlet KONI Jatim peraih medali emas, Maksum dan Fuad Ariyanto, juga hadir.

Di hadapan peserta diskusi, Subhan menjelaskan kehadiran buku Potret sang Jagoan bisa menjadi motivasi dan inspirasi bagi atlet, pengurus KONI, dan pengurus cabor di Madura untuk meningkatkan prestasi. Buku karangan Maksum dkk tersebut tidak hanya berisi biodata atlet. Sisi humanis mereka selama berjuang mewujudkan cita-cita menjadi atlet profesional juga dibahas.

Banyak kisah atlet di buku ini yang bisa menjadi penyemangat dan menggairahkan kembali pembangunan olahraga di Jawa Timur, termasuk Madura. Ada sejumlah atlet yang tidak hanya berjuang melawan kerasnya latihan. Tapi, juga dihadapkan pada persoalan ekonomi.

Seperti yang dialami atlet sepak takraw asal Blitar, Syamsul Hadi. Pada sebuah pertandingan, dia harus meminjam sepatu temannya karena sepatu miliknya robek. Maklum, atlet kelahiran 16 November 1989 itu berasal dari keluarga sederhana sehingga tidak memiliki uang untuk membeli sepatu cadangan. Namun, berkat kerja kerasnya kini dia sudah diangkat menjadi PNS.

Kisah yang dialami Gunawan juga tidak kalah miris. Di awal karirnya, atlet wushu asal Surabaya tersebut pernah gagal bertanding karena tidak memiliki alat transportasi yang memadai. Dia berangkat ke tempat pertandingan menggunakan sepeda ontel bersama bapaknya. Sesampainya di lokasi, kompetisi sudah bubar.

Namun, peristiwa itu justru menjadi titik awal kebangkitan atlet wushu yang sebelumnya menggeluti cabor silat dan tinju tersebut. Pada turnamen yang sudah bubar itu, dia bertemu dengan dua pelatih. Dua orang tersebut lantas menjadi pelatihnya di olahraga wushu.

Kemudian, ada atlet tenis meja yang tidak mau menyerah pada usia, Christine Ferliana. Sehingga, meski sudah berusia di atas 30 tahun dan memiliki dua anak, dia tidak mau mengundurkan diri sampai ada atlet Jatim junior yang bisa mengalahkam dan menggantikan posisinya. Penulis mengibaratkannya sebagai lokomotif tua yang tetap jos.

Yang membanggakan salah satu di antara atlet berprestasi di buku itu berasal dari Madura, yakni Adinda Larasati Dewi. ”Buku ini menjadi bukti bahwa atlet Madura bisa sejajar dengan atlet dari daerah lain,” kata wartawan asal Sumenep tersebut.

(mr/daf/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia