Jumat, 23 Aug 2019
radarmadura
icon-featured
Politik Pemerintahan

Penyelenggara Harus Profesional

Ratusan Caleg Adu Keberuntungan

15 Maret 2019, 15: 31: 18 WIB | editor : Abdul Basri

BERI PENJELASAN: Ketua KPU Sampang Syamsul Mu’arif memberikan penjelasan kepada awak media kemarin.

BERI PENJELASAN: Ketua KPU Sampang Syamsul Mu’arif memberikan penjelasan kepada awak media kemarin. (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Pemilihan umum (pemilu) serentak 2019 semakin dekat. Calon anggota legislatif (caleg) yang berebut kursi DPRD Sampang mencapai 420 orang. Ratusan caleg itu terdiri atas 250 laki-laki dan 170 perempuan. Mereka maju dari 15 partai politik (parpol).

Ketua KPU Sampang Syamsul Mu’arif mengatakan, ratusan caleg yang akan meramaikan pesta demokrasi lima tahunan berkurang satu sehingga berjumlah 419 orang. Salah satu caleg dari Partai Hanura meninggal dunia. Peluang ratusan caleg dari masing-masing daerah pemilihan (dapil) memiliki kesempatan sama.

Cara ampuh yang dilakukan caleg salah satunya melakukan sosialisasi atau berkampanye seperti menyampaikan visi misi. Dia mengakui di Madura tidak terlepas dari patronasi. ”Apalagi di level tingkat desa,” ujarnya kemarin (14/3). ”Saya berharap masyarakat bisa memilih berdasarkan pertimbangan yang logis dan rasional,” imbuhnya.

Berkaca dari pemilu sebelumnya, Sampang selalu ada persoalan. KPU harus belajar dari pengalaman. Selaku penyelenggara pihaknya menyiapkan SDM yang bekerja secara profesional dan berintegritas. ”Itu kuncinya. Masalah kontestasi di luar, yang penting kami memberikan pelayanan, tidak ada keberpihakan,” tegasnya.

Dua hal itu yang pihaknya jadikan perhatian utama supaya memperbaiki kualitas demokrasi di Sampang. Pihaknya juga berharap dukungan dari semua pihak supaya pesta demokrasi lima tahunan di Sampang semakin baik. ”Kami akan memberikan yang terbaik dalam pelaksanaan pemilu 17 April mendatang,” janjinya.

Ketua Bawaslu Sampang Insiyatun mengatakan, pihaknya melakukan langkah-langkah seperti sosialisasi supaya pelanggaran menjelang pemilu, saat pemilu, dan sesudah pemilu tidak terjadi pelanggaran. Jika menemukan pelanggaran pasti akan diproses. ”Kami juga ada tim dari tingkat kabupaten, kecamatan, dan desa,” tambahnya.

Pengamat Politik dari Universitas Trunojoyo Madura (UTM) Surokim Abdussalam mengatakan, tradisi pemilihan selama ini di Madura yang paling menentukan faktor figur. Faktor figur jauh lebih dominan daripada identitas partai, ideologi, dan semacamnya. ”Perilaku memilih masyarakat lebih banyak didasarkan atas patron referensi dari figur itu,” jelasnya.

”Misalnya, siapa yang dipilih kiai, siapa yang dipilih tokoh masyarakat dan orang yang selama ini menjadi patron masyarakat, itu yang biasanya punya banyak peluang. Setelah figur, baru orang berbicara tentang afiliasi, politik, partai, dan lain-lain,” imbuhnya.

Figur-figur penting di Madura pertama tokoh agama. Dalam hal ini kiai, kemudian tokoh masyarakat, dan tokoh pemerintahan. Tokoh masyarakat biasanya guru yang memiliki kuasa di masyarakat setempat. ”Tokoh pemerintahan juga berpengaruh baik di tingkat lokal atau daerah,” ungkapnya.

Konfigurasi kekuatan figur masih dominan berpengaruh. Tipikal masyarakat pemilih Madura yang paling dominan ada di level pedesaan. Sementara di perkotaan masih kalah. Pada pemilu legislatif, presiden, dan pilkada tidak ada kedekatan emosional secara langsung kepada pemilih. ”Sehingga manut saja mau pilih yang mana. Tergantung dari patronnya,” jelasnya.

Sementara itu, dia juga menyoroti persoalan yang sering terjadi setiap pemilu di Sampang. Terakhir ketika pemilihan kepala daerah (pilkada) 2018 harus diselesaikan melalui putusan Mahkamah Konstitusi (MK) setelah pemungutan suara ulang (PSU).

Surokim Abdussalam mengatakan, kesadaran politik masyarakat semakin meningkat seiring dengan akses informasi semakin luas melalui media sosial. KPU dan Bawaslu harus sungguh-sungguh. ”Penyelenggara pemilu harus profesional dan berdiri di atas alas hukum. Tidak partisan,” tegasnya.

Menurut Surokim, jika penyelenggara sudah ”bisa dibeli”, maka sejatinya sedang mengubur harapan peningkatan kualitas pemilu di Madura. ”Penyelenggara menurut saya menjadi sentral. Terutama di Sampang,” ujarnya.

Tim sukses (timses) masing-masing caleg juga berperan untuk menyukseskan pemilu. Madura memiliki catatan panjang terkait pemilu. Manipulasi dan rekayasa sudah menjadi rahasia umum. Terutama Sampang dan Bangkalan. Karena itu, pada pemilihan kali ini dijadikan momentum untuk profesional bagi penyelenggara dan timses supaya memperoleh catatan positif.

Masyarakat juga harus membantu penyelenggaraan pemilu dengan berpartisipasi atas dasar basis kesadaran. Tidak memaklumi praktik-praktik money politics. ”Dengan penyelenggara yang antisuap, masyarakat anti money politics, rasanya pemilu masih memiliki makna di Sampang,” pungkasnya.

(mr/rul/luq/bas/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia