Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon-featured
Hukum & Kriminal

Idris Dituntut Hukuman Seumur Hidup

13 Maret 2019, 13: 00: 41 WIB | editor : Abdul Basri

SEUMUR HIDUP: Terdakwa Idris duduk menghadap majelis hakim PN Sampang mendengarkan tuntutan yang dibacakan jaksa dalam sidang kemarin.

SEUMUR HIDUP: Terdakwa Idris duduk menghadap majelis hakim PN Sampang mendengarkan tuntutan yang dibacakan jaksa dalam sidang kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Idris, 31, warga Desa Sokobanah Laok yang menjadi terdakwa perkara pembunuhan menjalani sidang pembacaan tuntutan di Pengadilan Negeri (PN) Sampang kemarin (12/3). Dia dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU).

Sidang dihadiri keluarga dan istri korban Subaidi, 35, warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, Sampang. Simpatisan Subaidi dari Ikatan Alumni Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata (Ikaba) turut mengikuti jalannya sidang.

Sidang dipimpin hakim ketua Budi Setyawan, hakim anggota I Gede Perwata dan Afrizal. Bertindak sebagai panitera Yuli Karyanto. Sidang berlangsung lancar selama lebih kurang satu jam dimulai pukul 10.00.

JPU Kejaksaan Negeri (Kejari) Sampang Anton Zulkarnaen mengatakan, agenda sidang hanya pembacaan tuntutan. Menurut dia, tuntutan yang diberikan kepada terdakwa di hadapan majelis hakim sudah berdasarkan bukti di persidangan dan mempertimbangkan hal yang memberatkan serta meringankan. ”Terdakwa kami tuntut hukuman penjara seumur hidup,” tegasnya.

Dijelaskan, Idris didakwa melakukan pembunuhan berencana sehingga dijerat pasal 340 KUHP. Terdakwa juga dianggap melanggar pasal 1 ayat 1 UU Darurat Nomor 12 Tahun 1951 tentang Kepemilikan Senjata Api. ”Ada dua pasal yang sudah kami buktikan di persidangan. Dari dua pasal itu, terdakwa kami tuntut maksimal,” jelasnya.

Jaksa yang akrab disapa Anton itu menambahkan, hal yang memberatkan terdakwa yakni menyebabkan hilangnya nyawa korban, hilangnya tulang punggung perekonomian keluarga korban, menghilangkan ayah seorang anak, dan menghilangkan suami dari istri. Sementara yang meringankan, yaitu terdakwa merupakan tulang punggung perekonomian keluarga, menyerahkan diri dan tidak pernah dipenjara. ”Fakta di persidangan, terdakwa menyerahkan diri, bukan ditangkap,” ungkapnya.

Anton menjelaskan, jika tuntutan dikabulkan oleh majelis hakim, terdakwa akan mendekam di penjara selama hidupnya sampai meninggal. Jadi, hukuman seumur hidup berbeda dengan hukuman mati. Hukuman mati dieksekusi mati.

Setelah tuntutan dibacakan dan disampaikan kepada majelis hakim, terdakwa memutuskan melakukan pembelaan. Maka dari itu, agenda sidang selanjutnya adalah pembelaan. ”Setelah konsultasi dengan penasihat hukumnya, terdakwa mau melakukan pembelaan,” ungkapnya.

Penasihat hukum terdakwa Arman Syaputra mengatakan, pihaknya akan melakukan pembelaan pada sidang berikutnya. Hal itu berdasarkan kesepakatan dan hasil diskusi dengan terdakwa.

”Kami meminta waktu selama satu minggu kepada majelis hakim untuk menyusun pembelaan terhadap terdakwa. Alhamdulillah dikabulkan,” ucapnya.

Hakim Ketua Budi Setyawan menegaskan, sidang dengan terdakwa Idris dalam kasus pembunuhan ditutup dan dibuka kembali pada Selasa (19/3). Agenda sidang minggu depan yaitu pembelaan terdakwa. ”Sidang kami tutup dan dibuka lagi minggu depan. Terima kasih,” katanya. (rus/hud)

(mr/rus/hud/bas/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia