Kamis, 21 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Polda: Laporkan jika Ada Fakta Baru

12 Maret 2019, 11: 40: 29 WIB | editor : Abdul Basri

BEBERKAN BUKTI: Ahmad Junaidi memberikan keterangan saat ditemui di rumahnya di Desa/Kecamatan Torjun, Sampang, Minggu (10/3).

BEBERKAN BUKTI: Ahmad Junaidi memberikan keterangan saat ditemui di rumahnya di Desa/Kecamatan Torjun, Sampang, Minggu (10/3). (DARUL HAKIM/RadarMadura.id)

PENGAKUAN mantan Camat Kedungdung Ahmad Junaidi setelah bebas dari jeruji besi direspons oleh Polda Jawa Timur (Jatim). Korps baju cokelat itu meminta kepada Junaidi, jika memang ada fakta baru di lapangan, segera laporkan dan akan diproses.

Hal itu diungkapkan Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Frans Barung Mangera. Barung menuturkan, jika ingin mengungkapkan tersangka baru, perintah pengadilan untuk melakukan penyidikan kasus DD-ADD di Sampang terhadap orang-orang yang terbukti dalam persidangan. Jadi harus disampaikan hakim pada saat putusan kepada yang bersangkutan. ”Jangan yang bersangkutan sendiri koar-koar di luar setelah diputus,” ujarnya saat dihubungi Jawa Pos Radar Madura kemarin (11/3).

Sebab, lanjut mantan Kabid Humas Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) itu, fakta dalam persidangan tidak menuntut seseorang. Jika memang ada fakta persidangan seperti yang disampaikan hakim dan dikuatkan oleh mantan camat yang sudah bebas tersebut, pihaknya mempersilakan melapor. ”Kami akan tanggapi,” janjinya.

Perwira menengah berpangkat tiga melati emas di pundaknya itu menjelaskan, fakta-fakta persidangan yang muncul di sidang kasus fee DD-ADD itu dan dikuatkan oleh apa yang diutarakan camat. Maka dari itu, silakan Junaidi melaporkan.

”Kami akan tanggapi jika memang seperti itu,” urainya. ”Bukti baru itu manakala ada interupsi. Kalau interupsi itu muncul di sidang pengadilan, itu bukti baru. Tinggal pelaporan saja,” jelasnya.

Mengenai mantan camat memiliki saksi kunci yang belum pernah dihadirkan ketika penyidikan maupun dalam persidangan. Saksi tersebut mengetahui besaran fee DD-ADD dan lokasi penyetoran. Barung menyatakan akan membuka pintu selebar-lebarnya jika untuk melakukan laporan atas kasus tersebut. Pihaknya merujuk terhadap bukti-bukti persidangan yang ada. ”Kalau memang ada koordinator dan ada instruksinya, kenapa tidak lapor? Laporlah. Kata kuncinya di situ,” tegas dia.

Polda mengeluarkan berita acara pemeriksaan (BAP) warna merah yang sangat tebal. Jika dilihat dari ketebalan susunan BAP, tidak mungkin tersangka hanya dua orang. Menanggapi ketebalan BAP tersebut, pria lulusan Akpol 1993 itu menyatakan, berat tidaknya BAP bukan bukti yang merujuk pada pembuktian materiel maupun formil.

Jika formilnya seberat 15 kilogram, pihaknya tidak ingin bukti-bukti materiel dan formil tidak terangkai. BAP sudah terangkai. Maka dari itu, pihaknya menjadikan bukti pelaksanaan daripada pemungutan DD-ADD.

Kenapa ada pernyataan hakim di persidangan, BAP tebal namun tersangka hanya dua orang. ”Ada bukti yang kami ajukan,” pungkasnya.

Ahmad Junaidi meyakini, jika melihat ketebalan BAP dari Polda Jatim, seharusnya tersangka tidak hanya dua orang. Fakta di lapangan, lanjut dia, memang banyak pihak terlibat. ”Saya ada rekamannya apa yang dibicarakan hakim saat persidangan,” katanya.

Mantan camat Kedungdung itu menegaskan, pihaknya tidak ingin membeberkan sesuai hukum. Akan tetapi, pihaknya ingin mengungkapkan kebenaran yang sebenarnya terjadi di lapangan.

”Saya hanya ingin mengungkapkan apa yang terjadi di lapangan. Saksi yang dimintai keterangan oleh penyidik Polda Jatim dan pengadilan memberikan keterangan yang tidak sesuai. Itu membuat kami berat dan kecewa,” ucapnya.

(mr/rul/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia