Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Pedagang Keluhkan Penataan Pasar Srimangunan

10 Maret 2019, 14: 52: 18 WIB | editor : Abdul Basri

SEMRAWUT: Pedagang berjualan di Pasar Srimangunan, Sampang, kemarin.

SEMRAWUT: Pedagang berjualan di Pasar Srimangunan, Sampang, kemarin. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Penataan Pasar Srimangunan mendapat keluhan dari pedagang. Ikatan Pedagang Pasar Srimangunan (IPPS) meminta Pemkab Sampang serius dalam memperhatikan tatanan pedagang di pasar tersebut.

Ketua IPPS Feri Agus Nusulan menuturkan, pasar sebenarnya ramai karena jumlah pedagang bertambah. Setiap tahun selalu ada pedagang baru yang masuk dan berjualan. Namun, hal itu tidak ditopang dengan penyediaan tempat atau kios yang memadai.

Akibatnya, banyak pedagang yang berjualan tidak pada tempatnya. Misalkan, di bawah tangga dan di sejumlah akses bagi pengunjung. Kondisi tersebut mengakibatkan pengunjung tidak leluasa saat berbelanja di pasar. ”Selama ini penataan pedagang semrawut. Seharusnya pemkab menyediakan tempat yang memadai bagi pedagang. Sehingga, penataan pedagang bisa bagus. Tidak sesak seperti ini,” tuturnya.

Di Pasar Srimangunan terdapat 127 kios yang sudah lama tidak ditempati. Seandainya kios tersebut bisa dipakai, kata dia, penataan pedagang akan lebih bagus. Dengan begitu, pedagang dan pembeli bisa lebih nyaman saat bertransaksi. ”Padahal, Srimangunan merupakan ikon pasar Sampang,” katanya.

Pria 38 itu berharap agar pemkab bisa tegas dalam mengatur lokasi yang tidak boleh ditempati pedagang untuk berjualan. Hal itu penting dilakukan agar pedagang tidak sembarangan mendirikan lapak atau menggelar dagangan di lokasi yang tidak seharusnya. ”Pemkab harus tegas menata pedagang. Jangan mau kalah dengan oknum pedagang yang tidak mau diatur,” ucapnya.

Kepala Disperdagprin Sampang Wahyu Prihartono mengatakan, tatanan pedagang tidak teratur karena banyak pedagang yang sebelumnya berjualan di belakang pindah ke depan dengan alasan dagangan sepi. Pedagang yang sebelumnya menempati kios juga ikut pindah dan berjualan di luar dengan membuat lapak semipermanen.

Pihaknya sudah berupaya untuk merapikan tatanan pedagang dengan meminta untuk segera pindah dan berjualan di kios. Akan tetapi, upaya tersebut tidak mendapat respons positif dari pedagang. ”Rata-rata pedagang tidak mau pindah. Kami tidak bisa melakukan penertiban karena faktor kemanusiaan,” tuturnya.

Pedagang yang berjualan di luar kios mayoritas pedagang yang tidak memiliki kios dan los. Pihaknya berencana memindahkan semua pedagang yang berjualan di depan dan di bawah tangga ke lokasi di bagian belakang. Namun, tempatnya dan tidak bisa menampung semua pedagang.

”Jumlah pedagang di Pasar Srimangunan melebihi kapasitas. Dari 850 menjadi 1.200 pedagang. Selama ini kami tidak bisa melarang pedagang yang mau berjualan di pasar,” tukasnya. 

(mr/nal/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia