Kamis, 27 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Cari Generasi Penulis, KML Gelar Baca Puisi Na'-Kana' Bhângkalan

Editor Bahasa JPRM Bacakan Sajak Skizofrenia

25 Februari 2019, 22: 13: 27 WIB | editor : Haryanto

EKSPRESIF: Ina Herdiyana membacakan sajaknya yang berjudul Skizofrenia.

EKSPRESIF: Ina Herdiyana membacakan sajaknya yang berjudul Skizofrenia. (KML for RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Penyair membaca puisi itu biasa. Tapi, Komunitas Masyarakat Lumpur (KML) akan menjadikan kegiatan tersebut sebagai agenda bulanan. Untuk kali pertama digelar di Jalan Teuku Umar Nomor 24, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Kota Bangkalan, Minggu sore (24/2).

Kegiatan tersebut bertajuk Baca Puisi Na’-kana’ Bhângkalan (BPNB). Ada 18 peserta pembaca puisi. Mereka adalah M. Helmy Prasetya, Roz Ekki, Muzammil Frasdia, Anwar Sadat, Putra Mulya Nurjaya, dan Agus Alan Kusuma.

Kemudian ada R. Nike Dianita Febriyanti, M. Holel Shangsa, Dini Islami, Joko Sucipto, Safii, dan Hayyul Mb. Lalu, Ina Herdiyana, R. Dian Kunfillah, Nisful Komar, Nurul Ramadhan, Hoiri Asfa, dan Homaidi.

BERDEDIKASI: M. Helmy Prasetya membaca puisi yang berjudul Kau Pernah Kuanggap Segalanya.

BERDEDIKASI: M. Helmy Prasetya membaca puisi yang berjudul Kau Pernah Kuanggap Segalanya. (KML for RadarMadura.id)

Joko Sucipto, Ketua Bagian Arsip dan Dokumentasi KML mengatakan, Baca Puisi Na’-kana’ Bhângkalan salah satu agenda baru KML. Even itu untuk mengapresiasi puisi. Pembacaan puisi di depan khalayak sudah sering dilakukan para penyair dalam berbagai kegiatan.

”Setiap orang memiliki gaya khas saat membaca puisi. Tinggal bagaimana puisi itu dibacakan dan diperdengarkan ke publik. Selain bergantung konten puisi, secara auditif juga tergantung pada kekhasan pembacanya,” terangnya.

Joko Sucipto menambahkan, kadang ada pembacaan puisi yang dinanti-nantikan gegara pembawaan sang penyair menarik dan menggugah hati. Ada juga yang membaca dengan sayup-sayup.

Ada juga yang sangat bergairah sambil merentangkan tangan, menghentakkan kaki, dan membusungkan dada. Tapi, ada pula mengusung konsep teatrikal ataupun atraktif.

”Semuanya itu sungguh sangat menyenangkan dan menjadikan puisi lebih survive, tidak berakhir sebagai bahasa yang mungkin hanya membisu,” jelas Joko.

M. Helmy Prasetya, pendiri KML menambahkan, acara baca puisi itu dibuka untuk umum. Makanya disebut na’-kana’. Bukan penulis atau penyair. Kalau ditulis penulis atau penyair khawatir tidak ada yang mau bergabung.

”Acara ini juga dalam rangka mencari generasi penulis secara umum. Hanya tahap ini yang bisa dilakukan. Karena cukup punya respons dan mengasyikkan,” jelas dosen STKIP PGRI Bangkalan ini.

Semua peserta wajib membacakan puisi karya sendiri. Dengan begitu, kata Helmy, tidak akan sulit lagi Bangkalan mengirimkan karya ke Jawa Pos Radar Madura (JPRM). ”Stok akan banyak,” tandasnya.

Ina Herdiyana, Editor Bahasa JPRM juga membacakan sajak berjudul Skizofrenia. Ina berproses bersama KML sejak awal 2017. ”Terima kasih KML. Kegiatan ini bisa menjadi media silaturahmi untuk belajar bersama-sama,” kata perempuan asal Sumenep itu.

(mr/luq/yan/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia