Kamis, 21 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Gaul Nggak Harus Lo Gue

Oleh Mustaji*

22 Februari 2019, 13: 43: 19 WIB | editor : Abdul Basri

Gaul Nggak Harus Lo Gue

PERNAHKAN Anda merasa terganggu dengan bahasa yang dipakai oleh orang yang ada di sekitar Anda? Misalnya karena pengucapan yang tidak pas, intonasi yang salah karena lidah yang medok, atau karena isu yang lebih besar, seperti lunturnya satu bahasa karena bahasa lain?

Fenomena terakhir di atas itu saya temui di Madura. Saat ini banyak orang Madura yang lebih bangga berbahasa Indonesia ketimbang bahasa Madura sendiri. Mungkin kalau bahasa Indonesia masih bisa dimaafkan dan lebih mudah untuk ditoleransi. Tapi bagaimana denga bahasa gaul ala ibu kota, misalnya seperti lo gue.

Pertanyaan selanjutnya, pernahkan Anda bayangkan atau bahkan temui bagaimana lidah medok orang Madura yang menggunakan bahasa lo gue? Maaf ini seratus persen bukan mendiskreditkan suku atau golongan tertentu.

Saya sendiri bukan orang Madura. Mungkin kalau diibaratkan judul buku, saya ini adalah buku Anak Semua Bangsa (karya Pramudya Ananta Toer). Begini maksud saya. Saya lahir di Palembang, Sumatera Selatan. Dalam diri saya mengalir darah suku Jawa, tepatnya Jawa Tengah dan Banyuwangi, Jawa Timur. Bapak saya asli Kebumen dan ibu saya Banyuwangi.

Desa saya adalah perbatasan antara empat suku besar hasil dari transmigrasi bedol desa pemerintah era 1970-an. Di sana ada suku Bali, Jawa, Sunda, dan Komoring. Jelas, akulturasi budaya dan bahasa terjadi di kehidupan saya setiap hari. Hal itu juga yang membuat saya kaya akan pengetahuan berbahasa.

Meski begitu, saya tetap percaya diri menggunakan bahasa Jawa. Bukan berarti saya tidak bisa berbahasa Komoring atau bahasa Bali. Tapi, bahasa di daerah saya adalah identitas diri.

Saya tidak tahu apakah hal itu juga (masih) berlaku di Madura. Apakah di Tanah Garam ini masih berlaku bahwa bahasa adalah identitas dari suku Madura?

Maksud saya seperti ini, saat ini banyak ditemui fenomena orang lebih bangga menggunakan bahasa gaul ketimbang bahasa Madura. Bahkan, saat ini banyak anak usia pelajar yang lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia saat berbicara dengan orang yang lebih tua. Kenapa? Karena mereka tidak bisa berbahasa Madura halus, enggi-bunten.

Kalimat di atas bukan saya kutip dari jurnal penelitian atau buku pelajaran guru atau dosen, tapi dari cerita mulut ke mulut. Parahnya, pernyataan di atas itu dibenarkan oleh budayawan Madura.

Saat ini para budayawan, khususnya di Sumenep, sedang sibuk mencari formulasi cara menjaga eksistensi dari bahasa ibu mereka. Sampai begitukah kebosanan suku Madura pada bahasanya?

Budayawan Syaf Anton WR pernah berkata kepada saya, untuk melestarikan bahasa ibu sebelum bahasa itu dilarang. Bukan tanpa alasan, dia berkaca pada kejadian 21 Februari 1952. Saat itu mahasiswa dan masyarakat di Bengali (Bangladesh) turun ke jalan untuk memprotes peminggiran bahasa Bengali oleh pemerintah pusat Pakistan yang hanya mengakui bahasa Urdu.

Dalam kejadian itu, sejumlah mahasiswa tewas menjadi korban kekerasan aparat dalam rangka gerakan bahasa tersebut. ”Karena itu, UNESCO memilih 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional,” kata Anton.

Saat ini, siapa yang masih peduli dengan bahasa daerah? Siapa yang akan melestarikan bahasa Madura kalau bukan orang Madura sendiri? Apakah harus orang seperti saya yang datang, lalu ”menjajah” yang harus melestarikan bahasa Madura?

Bagaimana dengan aktivis mahasiswa? Dalam sejarah aktivis mahasiswa bisa berbangga diri, karena merekalah organisasi kelas dunia seperti UNESCO menjadikan 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Tapi, sepertinya gelar mahasiswa sebagai perintis gerakan bahasa tidak lagi pantas disematkan.

Sifat kritis yang seharusnya menjadi kekuatan aktivis mahasiswa saat ini seperti tidak lagi ada. Buktinya, tidak ada gerakan yang bisa membuat penguasa membuat kebijakan yang baik untuk menjaga eksistensi bahasa Madura.

Lalu, berapa lama lagi bahasa Madura akan bertahan? Bukan tidak mungkin beberapa puluh tahun lagi kita bisa melihat anak asli suku Madura tidak tahu kalau dia pernah punya bahasa sendiri, bahasa Madura. 

*)Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia