Selasa, 23 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Features

Mahasiswa Asal Thailand Belajar Kesenian di Paguyuban Mitro Budoyo

20 Februari 2019, 10: 49: 48 WIB | editor : Abdul Basri

SEMANGAT: Mahasiswa Universitas Walailak, Thailand, belajar menabuh alat musik tradisional di Paguyuban Mitro Budoyo, Jalan Letnan Singosastro, Kelurahan Kraton, Bangkalan, kemarin.

SEMANGAT: Mahasiswa Universitas Walailak, Thailand, belajar menabuh alat musik tradisional di Paguyuban Mitro Budoyo, Jalan Letnan Singosastro, Kelurahan Kraton, Bangkalan, kemarin. (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

Di Indonesia terdapat beragam bahasa, agama, budaya, dan tradisi. Tidak sedikit yang tertarik mempelajari kekayaan Indonesia itu. Seperti dilakukan mahasiswa Universitas Walailak, Thailand, yang belajar kesenian Madura.

JUPRI, Bangkalan

PUKUL 13.30 kemarin (19/2) Radar Madura berada di markas Paguyuban Mitro Budoyo di Jalan Letnan Singosastro, Kelurahan Kraton, Kota Bangkalan. Terdengar suara musik tradisional. Puluhan siswa berseragam putih memenuhi sanggar. Mereka adalah siswa SMAN 1 Bangkalan yang tergabung dalam Komunitas Pecinta Seni (Kopes).

Siswa berseragam olahraga dengan lihai memainkan alat musik tradisional. Mereka adalah siswa SDN Kraton 4 yang tergabung dalam Paguyuban Ke’ Lesap. Kopes dan Paguyuban Ke’ Lesap merupakan binaan Paguyuban Mitro Budoyo yang menyambut tamu mahasiswa Universitas Walailak, Thailand. Mereka datang ke paguyuban itu untuk belajar musik dan budaya Madura.

Mereka mendapat sambutan hangat dari Ketua Paguyuban Mitro Budoyo Didik Wahyudi. Dia berterima kasih karena paguyubannya mendapat kepercayaan dikunjungi. Mahasiswa itu disuguhi permainan musik tradisional dengan lagu anak-anak berbahasa Madura oleh Paguyuban Ke’ Lesap.

Lalu dipertontonkan tarian Sambut Manten dari Kopes yang diiringi musik tradisional. Setelah penyambutan dari Ke’ Lesap dan Kopes, mahasiswa Universitas Walailak membalasnya dengan tarian khas Thailand. Tarian itu mendapat tepuk tangan dari puluhan anggota Paguyuban Ke’ Lesap dan Kopes.

Setelah saling balas pertunjukan, dosen dan tujuh mahasiswa asal Thailand memperkenalkan diri. Lucunya, setiap nama dianggap asing dan sulit ditirukan. Tak pelak, setiap nama disebutkan mendapatkan gelak tawa siswa.

Hal lain yang dianggap unik yaitu setiap mahasiswa memiliki nama panggilan Indonesia. Nama panggilannya berbeda jauh dengan aslinya. Mahasiswa itu di antaranya bernama Kundita Pichaorerk dengan nama Indonesia Fia, Wipharat Phiromrak (Melati), Cherreda Thongman (Chika), Suphanida Ardmhad (Gita Yanti), Jutatip Yodtong (Yuni), dan Nisachom Chuchai (Beam). Dosen mereka bernama Pensri Panich.

Tujuh mahasiswa dan seorang dosen dari Negara Gajah Putih itu didampingi Ahmad Jami’ul Amil yang merupakan dosen program studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Juga seorang perempuan Pensri Pabich yang merupakan dosen dari Universitas Walailak, Thailand.

Ahmad Jami’ul Amil mengatakan, kedatangan tujuh mahasiswa dan seorang dosen dari Thailand itu bertujuan menjalankan program bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). Delapan turis dari Thailand tersebut akan mempelajari bahasa, budaya, dan musik tradisional Madura selama dua minggu.

Pria yang biasa disapa Alul itu mengatakan, pihaknya sengaja membawa mahasiswa Universitas Walailak, Thailand, ke Paguyuban Mitro Budoyo karena pembinaan yang dilakukan selama ini dikenal bagus. Bahkan salah satu pertimbangannya, alat musik tradisional yang tersedia terbilang lengkap.

Alul berharap, kegiatan itu dapat mempromosikan bahasa, tari, dan budaya Madura. Dengan begitu, bahasa, tari, dan budaya Madura bisa dikenal di Thailand.

Dosen Universitas Walailak Pensri Panich mengaku, Indonesia kaya akan budaya. Dia merasa senang bisa belajar musik tradisional di Paguyuban Mitro Budoyo. Dia mengatakan, alat musik tradisional Indonesia dan Thailand tidak begitu jauh berbeda. Menurut dia, bukan perkara mudah bisa belajar menabuh musik tradisional seperti yang dipertunjukkan Paguyuban Ke’ Lesap dan Kopes. ”Gong di Thailand ada. Kalau gamelan tidak ada,” ucapnya dengan Bahasa Indonesia.

Dia berterima kasih karena telah diterima belajar di Paguyuban Mitro Budoyo. Dia berjanji akan mempromosikan budaya dan bahasa Indonesia di Tahiland. ”Tentu ini akan disebarluaskan di negara kami,” ucapnya.

Salah seorang mahasiswa, yakni Kundita Pichairerk, menuturkan, dirinya terkesan dengan sambutan orang Madura yang dinilai ramah dan sopan. Dia Mengaku kaget saat pertama merasakan masakan di Madura. ”Masakannya sama-sama pedas dengan di Thailand. Tetapi, di sini lebih manis. Kalau di negara kami lebih suka asin,” ucap perempuan yang dipanggil Fia itu.

Ketua Paguyuban Mitro Budoyo Didik Wahyudi mengaku, kunjungan dari luar negeri tersebut merupakan kali pertama. Selama ini paguyuban yang dipimpinnya hanya kerap didatangi pejabat dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kajian budaya Madura oleh Kemendikbud sering dilaksanakan di paguyuban itu. ”Menyangkut budaya. Baik itu seni pertunjukan saronen, sandur, atau taneyan lanjang,” tuturnya.

Didik tidak menyangka paguyubannya menjadi pilihan mahasiswa Thailand untuk belajar budaya Madura. Ini menjadi motivasi bagi dirinya untuk terus memacu semangat berkreasi. Dia berharap, Indonesia dan Madura dikenal bangsa lain.

Kunjungan mahasiswa asal Thailand itu menjadi bagian promosi budaya Madura. ”Kami yakin ke depan akan banyak kunjungan seperti ini,” tukasnya.

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia