Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Sengketa Kandang Ayam Harus Beres Dua Pekan

19 Februari 2019, 13: 31: 03 WIB | editor : Abdul Basri

MINTA KEADILAN: Puluhan warga melakukan aksi unjuk rasa di PN Bangkalan kemarin.

MINTA KEADILAN: Puluhan warga melakukan aksi unjuk rasa di PN Bangkalan kemarin. (BAHRUL ULUM/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Perkara dugaan penutupan sementara tempat usaha kandang anyam di Dusun Pocogan II, Desa Lajing, Kecamatan Arosbaya, terus menggelinding. Pengadilan Negeri Bangkalan menggelar sidang mediasi pelapor dengan terlapor kemarin (18/2). Pada saat bersamaan, puluhan warga pendukung pelapor Badrud Taman, 40, warga Kelurahan Tunjung, Kecamatan Burneh menggelar demonstrasi.

Dalam sidang tersebut Badrud didampingi penasihat hukum (PH)Arif Sulaiman dan tim. Sementara para ketujuh tergugat diwakili Bakhtiar Pradinata selaku PH dan tim. Dalam kasus tersebut Badrud menggugat Bupati Abdul Latif Amin Imron, Plt Kasatpol PP Ismed Effendi, Kepala DPMPTSP Moh. Hasan Faisol, Kepala DLH Ishak Sudibyo, Kepala Bappeda Moh. Fahri, Plt Kepala DPRKP Taufan Zairinsyah, dan Kades Lajing Sohib.

Sidang dipimpin hakim mediator Anastasia Irene tidak menemukan titik terang. Kemudian Badrud didampingi Arif melakukan pertemuan di kantor bupati. Pertemuan itu dihadiri Ismed Effendi, Moh. Hasan Faisol, dan Sohib. Mereka membahas penutupan sementara tempat usaha kandang anyam petelur milik Badrud.

Arif Sulaiman mengatakan, setelah pertemuan di kantor bupati terjadi beberapa kesepakatan damai. Plt Kasatpol PP menyarankan Kades Lajing memberikan kunci kandang. Penggugat juga harus mencari solusi agar kandang ayam petelur tidak bau. Badrud juga diminta melakukan pendekatan kepada warga yang tidak setuju.

Jika dalam dua pekan sudah tidak ada permasalahan, segel kandang akan dibuka. Namun, jika tidak ada kesepakatan dan kandang ayam petelur tetap disegel, pihaknya akan melanjutkan perkara tersebut. ”Kalau klir tidak akan kami lanjutkan,” ancamnya.

Ismed menerangkan, penyegelan kandang ayam dilakukan atas pengaduan warga karena khawatir terjadi keributan. Dia memberi waktu satu sampai dua minggu agar Badrud melakukan pendekatan kepada masyarakat sehingga bisa menerima usaha ayamnya. Penggugat juga harus bisa mencari solusi agar di lokasi kandang tidak bau. ”Kalau sudah setuju, nanti kita buka lagi segelnya,” ucapnya.

Sementara Bakhtiar Pradinata mengatakan, puluhan massa yang melakukan demo bukan warga Desa Lajing. Keberadaan kandang ayam petelur sangat mengganggu masyarakat. Selain berbau, ada yang tidak dipatuhi pemilik. Upaya yang dilakukan pemkab sudah sesuai aturan dan prosedur.

Pihaknya memastikan kasus tersebut akan dilanjutkan pada sidang pokok perkara. ”Kami menunggu pemanggilan dari pengadilan perkara ini masuk pada pokok acara,” tutupnya.

Kasus tersebut berawal dari penutupan kandang ayam Badrud oleh Pemkab Bangkalan. Pemkab bergerak berdasar aduan masyarakat. Namun, penutupan tersebut dinilai janggal hingga Badrud menggugat melalui pengadilan. 

(mr/bam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia