Selasa, 23 Jul 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Penanganan Kasus Puskesmas Torjun Mulai Diragukan

19 Februari 2019, 13: 20: 04 WIB | editor : Abdul Basri

AMBRUK: Polisi berada di lokasi Puskesmas Torjun yang ambruk tak lama setelah putus kontrak karena melewati tahun anggaran.

AMBRUK: Polisi berada di lokasi Puskesmas Torjun yang ambruk tak lama setelah putus kontrak karena melewati tahun anggaran. (RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Keseriusan kepolisian dalam menangani kasus gedung Puskesmas Torjun yang ambruk mulai diragukan. Sebab, sampai sekarang perkara tersebut tidak ditindaklanjuti dengan gelar perkara. Padahal, semua saksi telah dipanggil dan dimintai keterangan oleh penyidik.

Ketua Komisi IV DPRD Sampang Amin Arif Tirtana mengatakan, pihaknya sudah memperoleh banyak pertanyaan dari masyarakat mengenai kasus tersebut. ”Publik mulai meragukan keseriusan polres. Ini yang tidak bagus bagi kacamata penegakan hukum di Sampang,” terangnya.

Maka dari itu, pihaknya berharap kepada kepolisian supaya melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik. Pihaknya tidak ingin, penanganan kasus apa pun oleh kepolisian berhenti di tengah jalan. ”Polisi harus bisa terus menunjukkan wibawanya,” pungkasnya.

Kapolres Sampang AKBP Budi Wardiman melalui Kasatreskrim AKP Hery Kusnanto mengklaim penanganan kasus Puskesmas Torjun berlanjut. Pihaknya sudah melakukan penyelidikan dengan memanggil seluruh saksi. ”Penyelidikan kami maksimal dalam kasus ini, kami akan gelar kasus ini di polda,” katanya kemarin (18/2).

Gelar perkara tersebut dimaksudkan untuk menentukan dan menetapkan status perkara. Apakah dinaikkan ke penyidikan atau tetap penyelidikan. ”Kami masih terus berkoordinasi dengan polda. Karena, di sana masih banyak juga gelar perkara dari polres lain,” ujarnya.

Di sisi lain, pihaknya juga mengaku belum ada koordinasi dengan tim audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim terkait kerugian. ”Kami berharapnya nanti berbarengan dengan pihak audit gelar perkaranya, itu malah lebih baik soalnya,” tegasnya.

Gedung senilai Rp 1,7 miliar tersebut dikerjakan CV Yala Indah Perkasa. Pada saat pengerjaan, melebihi masa kontrak pada Desember 2018. Bahkan oleh dinas kesehatan, kontraktor tersebut diputus kontrak. Minggu, 20 Januari 2019, bagian depan gedung ambruk. 

(mr/rus/luq/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia