Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Kiai dan Peta Elektoral Madura 2019

Oleh Asip Irama*

19 Februari 2019, 10: 22: 46 WIB | editor : Abdul Basri

Kiai dan Peta Elektoral Madura 2019

Share this      

THE Initiative Institute pada 10–18 Oktober 2018 melakukan survei elektabilitas calon presiden di Jawa Timur dan menemukan bahwa pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan angka 57,7 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 19,7 persen. Keunggulan pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mewakili semua wilayah di Jawa Timur. Di Madura, pasangan Prabowo-Sandi justru menang dengan angka 43 persen, sementara pasangan Jokowi-Ma’ruf hanya memperoleh 20,5 persen.

Bayang-bayang kekalahan Jokowi-Ma’ruf di Madura tidak bisa dinafikan. Bahkan, jika melihat hasil Pilpres 2014 menunjukkan bahwa pasangan Prabowo-Hatta unggul 138.337 suara dari Jokowi-JK. Saat itu, perolehan suara Prabowo-Hatta di Madura mencapai 830.968 dan Jokowi-JK hanya memperoleh 692.631 suara. Keadaan serupa akan berulang pada Pilpres 2019 jika tim kampanye pasangan Jokowi-Ma’ruf tidak mampu mendeteksi strategi yang efektif untuk mendulang suara di Pulau Garam.

Karena itu, pelacakan secara sosio-antropologis penting dilakukan untuk mengetahui aktor-aktor yang memainkan pengaruh dalam kehidupan masyarakat. Di Madura, ada tiga hierarki yang menjadi spirit masyarakat, yakni bapha’-babhu’, guru, rato (bapak-ibu, guru, dan pemerintah). Ketiga elemen ini merupakan hierarki ketaatan yang telah membentuk pola pandang masyarakat Madura. Mereka menjadi rujukan utama dalam laku, termasuk dalam menentukan pilihan politik sekalipun.

Jika dilihat secara politik, titik perbedaan ketiga hieraraki itu terletak pada cakupan pengaruhnya. Bapak-ibu hanya berpengaruh secara internal di lingkungan keluarga. Adapun pemerintah lebih luas pengaruhnya. Ia bisa menjangkau setiap segmen masyarakat. Tetapi, saat ini pemerintah cenderung diidentikkan dengan persoalan administratif. Ia harus menggandeng aktor-aktor lain agar mempunyai pengaruh lebih luas. Meskipun, di sisi lain, tidak menutup kemungkinan pemerintah mampu memberikan pengaruh besar melalui legitimasi kekuasaan formalnya.

Meski begitu, dalam konteks ini, kiai adalah aktor paling dominan dalam menebar pengaruh di masyarakat. Ia mempunyai segenap modal yang dapat mengukuhkan hegemoninya. Asal-usul genealogis seperti ilmu pengetahuan, nasab, dan kesetiaan mangayomi umat menjadi titik penentu bagaimana kiai relatif dominan memengaruhi masyarakat. Bahkan dalam praksis politik, kiai adalah vote getter yang bisa menentukan ke mana suara masyarakat akan berlabuh.

Dalam konstelasi politik Madura, posisi kiai sangat vital. Ia bisa menggunakan loyalitas masyarakat sebagai modal untuk melakukan political bargaining. Kiai bisa menjadi instrumen untuk merealisasikan cita-cita politisi dengan memanfaatkan modalitas yang dimilikinya. Namun, belakangan kataatan masyarakat digunakan oleh sebagian kiai untuk mengakses kekuasaan struktural. Mereka secara terang-terangan terjun ke politik dengan menggunakan kekuatan kulturalnya demi meraih kekuasaan struktural.

Karisma seorang kiai menjadi indiktor penting untuk mengetahui sejauh mana ia berkuasa. Antropolog Liek Arifin Mansurnoor (1990) menyinggung, semakin karismatik kiai, maka kekuasaan yang melekat dalam dirinya akan semakin kukuh. Ini artinya indikator pengaruh seorang kiai terhadap masyarakat terlatak pada karisma di dalam dirinya. Kiai mampu memengaruhi bahkan menghegemoni pemilih dalam menentukan pilihannya. Dalam hal ini, preferensi pemilih bertumpu pada alasan ”berbakti pada guru”.

Segendang sepenarian, kiai akan kembali menjadi penentu kemenangan pasangan Jokowi- Ma’ruf dan Prabowo-Sandi di Madura. Semakin banyak dukungan kiai, potensi menang akan lebih besar. Itulah alasan mengapa elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi dalam survei yang dilakukan The Initiative Institute. Alasannya, dukungan kiai terhadap Jokowi-Ma’ruf kurang masif.

Perang Elektabilitas

Sosok Ma’ruf Amin yang notabene adalah kiai dan tokoh berpengaruh di Nahdlatul Ulama (NU) belum mampu menaikkan elektabilitas mereka di Madura. Padahal, Ma’ruf Amin sendiri pernah menjabat Rois Aam PB NU yang dipilih oleh sembilan ulama senior melalui sistem ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Penunjukan Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden mestinya mampu mengonsolidasi dukungan nahdliyin akar-rumput. Tapi, kenyataannya tak demikian. Ada beberapa faktor yang menyebabkan elektabiltas Jokowi-Ma’ruf kalah dari Prabowo-Sandi di Madura.

Pertama, menguatnya populisme Islam. Sejak aksi 212 di Jakarta pada 2016 silam Islam politik di Madura kian menunjukkan eksistensinya. Front Pembela Islam (FPI) merupakan motor penggeraknya. FPI gampang masuk dan diterima di Madura karena Aliansi Ulama Madura (AUMA) ikut memfasilitasinya. Keberadaan FPI ini pelan-pelan mengusik NU. Sejumlah kiai penting di Madura mulai tertarik dan bergabung dengan FPI. Alih-alih menyuarakan narasi Islam rahmatan lil 'alamin, mereka tergabung dalam arus dan gerakan #2019GantiPresiden.

Pada Pilpres 2019, sejumlah tokoh FPI di Sumenep menyatakan sikap untuk mendukung pasangan Prabowo-Sandi. Mereka adalah kiai yang tidak sekadar berpengaruh di FPI, tetapi juga disegani oleh kalangan nahdliyin. Sebagai sosok influencer, mereka dapat menggerus basis massa pendukung Jokowi-Ma’ruf karena kemampuan memobilisasi massa dan kecerdikan “menggoreng” isu yang penuh sentimen.

Kedua, minimnya dukungan dari kiai. Pengaruh besar kiai belum mampu dimaksimalkan oleh tim kampenya Jokowi-Ma’ruf. Kiai dimaksud di sini ialah mereka yang tidak tergabung dengan FPI, baik yang mempunyai pesantren maupun tergabung secara struktural di Nahdlatul Ulama (NU). Kelemahan ini disadari oleh tim lawan. Mereka mengakomodasi sejumlah kiai di Madura untuk memberikan dukungan elektoral kepadanya. Padahal, pasangan Jokowi-Ma’ruf memiliki pertalian kuat dengan NU. Meskipun secara resmi NU tidak memberikan dukungan pada siapa pun, kiai-kiai NU berhak menentukan pilihan politiknya. Lemahnya elektabilitas Jokowi-Ma’ruf di Madura salah satunya disebabkan oleh kurang masifnya dukungan kiai terhadap mereka.

Kendati demikian, bukan tidak mungkin pasangan Jokowi-Ma’ruf dapat mengalahkan Prabowo-Sandi di Madura. Modal paslon 01 telah mencukupi, hanya butuh konsolidasi agar berjalan efektif. Ma’ruf Amin adalah kiai yang berpengaruh dan cukup masyhur di kalangan NU. Yang dibutuhkan ialah mengenalkannya lebih jauh pada kalangan nahdliyin Madura agar popularitasnya semakin tinggi sehingga bisa memantik layolitas masyarakat terhadap dirinya.

Di sisi lain, meminjam bahasanya Clifford Geertz (1960) kiai mempunyai peran sebagai perantara kuktural (cultural broker). Atas dasar itu, peran kiai tidak boleh dinafikan, terutama untuk menguatkan konsolidasi kalangan nahdliyin akar rumput agar melabuhkan pilihannya pada pasangan Jokowi-Ma’ruf. Siapa pun yang menyadari dan memaksimalkan peran kiai, kemungkinan besar akan unggul dan menang di Madura. Toh, Pulau Garam galib disebut sebagai kunci kemenangan di Jawa Timur. 

*) Mantan ketua Perpustakaan SMA Annuqayah; alumnus Fakultas Hukum UBK Jakarta; Kornas Himpunan Aktivis Milenial Indonesia.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia