Kamis, 27 Jun 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Kades Sikapi Dugaan Pemukulan

17 Februari 2019, 17: 57: 06 WIB | editor : Abdul Basri

Kades Sikapi Dugaan Pemukulan

Share this      

PAMEKASAN – Kepala Desa Potoan Daya, Kecamatan Palengaan, Moh. Rofiuddin angkat bicara terkait dugaan penganiayaan oleh Pamong Desa Safiudin terhadap Sri Handayani. Dia mengaku baru mengetahui kasus tersebut dari media dan masyarakat.

”Saya baru mengetahui kasus ini setelah mendapatkan informasi dari rekan-rekan media dan masyarakat jika ada pamong desa saya dilaporkan ke kepolisian,” kata pria yang akrab disapa Rofi’ tersebut.

Karena menyangkut aparat desa, dia berjanji akan mengkroscek kebenaran kasus tersebut. Kedua belah pihak akan dimintai keterangan. Baik kepada orang yang diduga melakukan pemukulan maupun kepada korban. ”Saya akan kroscek dulu permasalahan yang sebenarnya seperti apa. Sehingga, informasi dari kedua belah pihak bisa utuh,” terangnya kemarin (16/2).

Jika informasi tersebut benar, dia berharap agar bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Sebab, menurut dia, pelapor dengan terlapor masih ada ikatan keluarga. Karena itu, kasus tersebut tidak perlu ditindaklanjuti ke ranah hukum. ”Semoga tabayun kepada kedua belah pihak bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik,” harap Rofi’.

Kemudian, dia memastikan bedah rumah itu bukan program pemerintah desa. Desa tidak menganggarkan bedah rumah. Itu program yang dimotori oleh TNI. ”Saya terkejut ketika ada informasi bahwa program ini dari desa dan juga ada bantuan berbentuk uang. Padahal itu tidak ada,” terangnya.

Sementara itu, Babinsa Potoan Daya Sersan Mayor (Serma) Moh. Yusuf menjelaskan, bedah rumah tidak layak huni (RTLH) tersebut merupakan program yang dimotori Kodim dan Koramil. Bantuan kepada masyarakat berbentuk material. Jadi dengan pemerintah desa hanya sebatas koordinasi.

”Pelaksanan kegiatan dari masyarakat diharapkan gotong royong. Mereka tidak diberikan ongkos tukang. Karena dari kegiatan tersebut diharapkan gotong rotong,” terangnya.

Sebelumnya, Safiudin dilaporkan ke polisi oleh Sri Handayani, 21, atas dugaan tindak pidana penganiayaan pada Jumat (15/2). Koordinator LBH Pusara M. Alfian mengatakan, dugaan tindak pidana penganiayaan terjadi Minggu (10/2). Kronologinya, Jumat (8/2) Safiudin mengantarkan bantuan ke rumah Bu Sunarya, bibi Sri Handayani.

Bantuan tersebut informasinya untuk RTLH. Tapi, yang diberikan hanya batu bata sebanyak 500 batang. Sebagai tanda terima kasih, Bu Sunarya membelikan Safiudin rokok. Sri Handayani menyarankan agar tidak membelikan rokok dengan harga mahal. Sebab bantuannya hanya batu.

Pernyataan Sri Handayani membuat Safiudin marah. Pada Minggu (10/2), pamong desa itu mendatangi Sri Handayani dan membentak dengan kata-kata kasar. Perempuan berkerudung itu dipukul menggunakan tangan kosong. ”Setelah kejadian itu, klien kami sering pingsan,” kata Alfian. 

(mr/sin/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia