Kamis, 21 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Arach Djamaly dan Pembelajaran Sastra Madura

Oleh Lukman Hakim AG.*

15 Februari 2019, 10: 54: 09 WIB | editor : Abdul Basri

Arach Djamaly dan Pembelajaran Sastra Madura

Ka temor ngamba’a are moncar

Ka bara’ mapaga are ngerrem

Aba’ ta’ loppa’a dha’ junan towan, dhu guru

Se ampon noduwi enggunna

Are moncar ban are ngerrem

Mon aba’ epasthe kellar ngatammagi Quran,

Ka attas ngamba’a sorat Patteha

Ka baba mapaga sorat Qulhu

Aba’ ta’ loppa’a dha’ junan towan, dhu guru

Se ampon noduwagi enggunna

Sorat Patteha ban sorat Qulhu

Dhu nagara,

Dhu sagara,

Dhu bindara,

Neteba guru kaula.

SELAIN buku pelajaran, bahan bacaan apa yang dikonsumsi guru bahasa Madura (BM) untuk menunjang tugasnya sebagai pendidik? Bahan bacaan berbahasa Madura memang tidak sebanyak literatur berbahasa Indonesia. Bahkan, jauh lebih sedikit dibanding buku-buku berbahasa asing; terutama Inggris dan Arab.

Betapa banyak buku bahasa asing di perpustakaan dan di toko buku. Bahkan, di lapak pedagang buku di pasar kecil sekalipun menumpuk. Di lapak yang sama hanya ada buku Kosa Kata Basa Madura Kaangguy SD/MI, SMP/MTs karangan Moh. Makhfud Ashadi-Ghazi Al Farouk (1992) dan Kosa Kata Bahasa Madura Lengkap tulisan Bastari-Yoesi Ika Fiandarti (2009).

Belakangan ada secercah harapan sastra (tulis) Madura kembali diminati. Beberapa buku ditorehkan generasi muda. Antara lain tiga buku Lukman Hakim AG., Sagara Aeng Mata Ojan (puisi, 2008), Cengkal Burung (puisi, 2017), dan Oreng-Oreng Palang (carpan, 2018). Kemudian M. Toyu Aradana menerbitkan Embi’ Celleng Ji Monentar (carpan, 2016), Zainal A. Hanafi menulis Èsarèpo Bèncong (carpan, 2017), Supriyadi Afandi menerbitkan Èghirrep Sètan (carpan, 2017). Yayan Ks juga mewariskan Kèjhung Aghung (puisi) dan Grânyeng (puisi).

Tak kalah menggembirakan sambutan luar biasa terhadap ruang khusus sastra berbahasa Madura di Jawa Pos Radar Madura (JPRM). Sejak pekan terakhir Juli 2015 menerbitkan sanja’ dan careta pandha’ (carpan). Mayoritas penulis di halaman ini adalah pemuda. Dari ruang ini kemudian lahir buku Tora; Satengkes Carpan Madura (2017). Bahkan, belakangan Mahwi Air Tawar dan Ahmad Muhli Junaidi menulis esai berbahasa Madura.

Selain itu, Balai Bahasa Jawa Timur sejak 2008 juga menerbitkan Majalah Jokotole. Pakem Maddu Pamekasan juga menerbitkan buletin. Jauh sebelum itu, Tim Pembina Bahasa Madura (Nabara) Sumenep secara konsisten menerbitkan buletin Konkonan hingga edisi ke-66 (1990–2003).

Apakah para pengampu mata pelajaran bahasa Madura sudah memiliki dan membaca buku, majalah, buletin, dan koran tersebut? Apakah lembaga pendidikan tempat mereka mengabdi telah memfasilitasi agar guru dan siswanya memiliki dan membaca karya tersebut? Bagaimana peran dinas pendidikan dalam mendukung pelestarian dan pengembangan bahasa dan sastra Madura? Ironisnya, ada dinas pendidikan di Madura yang ditawari buku bahasa Madura justru berminat jika diberi secara gratis!

Tidak semudah menerbitkan karya berbahasa Indonesia. Mereka yang menerbitkan buku bahasa Madura termasuk berani ambil risiko. Harus merogoh kocek sendiri untuk biaya cetak. Sebab, tidak ada penerbit yang mau menanggung rugi karena pertimbangan pasar. Di titik inilah pemangku kebijakan semestinya mengambil peran untuk menerbitkan secara masal dan dapat dinikmati semua guru bahasa Madura dan siswa di lembaga pendidikan. Semua itu dapat dilakukan jika memang serius ingin melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah. Bukan hanya wacana!

Mengenang Arach Djamaly

Puisi Neteba di atas merupakan karya Arach Djamaly yang dipetik dari manuskrip Rarengganna Tana Kerreng (1997) yang ditulis 1991. Dia lahir di Sumenep, 15 Februari 1939 (80 tahun yang lalu). Bernama asli Abd. Rachem. Pekerjaan terakhir hingga pensiun sebagai kepala Kantor Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (Kandep Dikbud) Kecamatan Kota Sumenep. Sejak 1987 menekuni pembinaan bahasa dan sastra Madura dan bergabung dalam Tim Nabara Sumenep.

Pada masa hidupnya, suara Arach Djamaly sering mengudara melalui program bahasa dan sastra Madura di RRI Pro 1 Sumenep tiap Jumat malam. Sejak September 1996 mengampu mata kuliah bahasa dan sastra Madura di STKIP PGRI Sumenep bagi mahasiswa semester tujuh. Untuk menunjang tugasnya sebagai dosen, dia menyusun bahan ajar yang diberi judul Bahasa Madura I (2004).

Selain di Konkonan, puisinya menghiasi antologi Cermin-Cermin (Sanggar Tirta, 1995), Mardika (RRI Sumenep, 1995), dan Nyelbi’ e Nemor Kara (GHOT, 1997). Cerpen Maduranya yang berjudul Kajal diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan dimuat dalam buku Wulan Senduwuring Geni (Yayasan Obor Indonesia, 1998). Buku ini juga memuat puisi bahasa Madura Ibnu Hajar Bulan Tasellem ka Sagara beserta terjemahan bahasa Indonesianya.

Selain Rarengganna Tana Kerreng, buku karyanya yang siap terbit adalah Bato Ko’ong (carpan), Jung-Kejungan Madura, Arya Wiraraja Adipati Pertama Sumenep (roman sejarah bahasa Indonesia), dan Lalampanna Adipati Arya Wiraraja (roman sejarah bahasa Madura). Sang pengarang wafat 5 Juni 2006. Namun, lima manuskrip berharga tersebut belum diterbitkan hingga saat ini.

Sungguh sangat menarik jika ada pihak yang bersedia menerbitkan secara masal untuk dapat dibaca. Dinas perpustakaan dan kearsipan (DPK) bisa ambil bagian melalui program literasi, dinas pariwisata, kebudayaan, pemuda, dan olahraga (disparbudpora) bisa turun tangan melalui program pelestarian dan pengembangan sastra Madura. Lebih-lebih dinas pendidikan yang sangat mungkin melalui pengadaan bahan bacaan di sekolah.

Dengan menerbitkan lima karya berharga tersebut berarti ikut melestarikan bahasa dan sastra daerah, menghargai karya sastra dan pengarangnya dalam rangka melaksanakan program literasi dan kebudayaan. Tidak mungkinkah dari tiga instansi di Sumenep itu tidak ada yang mau menghargai karya putra daerah? Sementara pada saat bersamaan membeli karya ”orang luar” untuk pengadaan buku? Tentu harus melalui musyawarah dengan ahli waris sebelum karya tersebut diterbitkan.

Penulis petik tiga bait terakhir puisi Arach Djamaly yang berjudul Mon Gi’ Badha Karena Nyaba (ditulis 1992):.../Arengreng arenteng okara/ Daddi cerpen novel tor puisi/ Atandang akenca’ noro’agi ca-kancana.// Mostekana ate se edina badda’/ Gincu dubbang gante’e lipstik/ Beddha’ temmo gante’e revlon/ Arenggane aba’ noro’ kamajuwan.// Mon gi’ badha karena nyaba,/ Aba’ ngokera kaju mosteka/ Novel cerpen agebbugan/ Nebbusa kadinggalan.//.

Betapa Arach Djamaly memandang masa depan dan mengikuti perkembangan zaman dengan menorehkan setumpuk novel, cerpen, dan puisi untuk menebus ketertinggalan.

*Pengarang sastra Madura. Warga Cangkreng, Lenteng, Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia