Minggu, 17 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Features
Harkoni Madura, Guru Sekaligus Penyair

Penulis yang Baik Adalah Pembaca yang Baik

11 Februari 2019, 09: 24: 49 WIB | editor : Abdul Basri

BERSAHAJA: Harkoni bersama anaknya, Githa dan Aliya menunjukkan buku Antologi Puisi Nusantara di rumahnya di Desa Jatra Timur, Kecamatan Banyuates, Sampang, Sabtu (9/2).

BERSAHAJA: Harkoni bersama anaknya, Githa dan Aliya menunjukkan buku Antologi Puisi Nusantara di rumahnya di Desa Jatra Timur, Kecamatan Banyuates, Sampang, Sabtu (9/2). (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Apoy ban marda asaloy dhaddhi settong

e sakobhengnga mayyit atalabuyan

bhume Sorbhaja rebbhang mera ngadherbhang

dara ngalocor, tana bella ancor.

ZAINAL ABIDIN, Sampang

ITU petikan puisi karya Harkoni Madura berjudul 10 Nopember 1945. Puisi tersebut pernah terbit di koran harian Radar Madura pada momentum Hari Pahlawan 2016. Wartawan RadarMadura ke rumah Harkoni di Desa Jatra Timur, Kecamatan Banyuates, Sampang, Sabtu (9/2).

Tidak sulit untuk sampai ke rumah penyair nasional ini. Rumahnya sekitar 50 meter dari lapangan bola Jatra Timur. Warga sekitar mengenal Harkoni. Sebab, selain penyair, pria kelahiran 3 Desember 1969 itu merupakan guru yang mengajar di SDN Banyuates 4.

Koran ini disambut setumpuk buku antologi puisi nusantara, piagam penghargaan, dan lukisan karapan sapi di teras rumah. Tidak lama kemudian, dari rumah tersebut keluar seorang pria berkumis mengenakan seragam PGRI.

”Dari Radar Madura, ya? Anak buah Mas Lukman Hakim AG? Mari silakan duduk,” kata pria itu sembari menyuguhkan makanan dan minuman.

Selain syair, dia juga menulis puisi, esai, pantun, ilustrasi, vignet, dan cerita pendek (cerpen). Puisinya banyak dimuat di koran harian Jawa Pos, Jawa Pos Radar Madura, majalah Tera, Jokotole, dan Semeru.

Puisi Harkoni juga dimuat di 85 judul buku Antologi Puisi Nusantara. Antara lain, antologi Dzikir Pengantin Taman Sare terbitan 2010, Tikar Pandan di Stingghil 2011, Semangat Baru untuk Rohingya 2015, Indonesia dalam Dilema, Untaian Kata untuk Ibu Tercinta yang sama-sama terbit pada 2015.

Lalu, Memo Anti Kekerasan terhadap Anak 2016, Lebih Baik Putih Tulang daripada Putih Mata 2017, Jejak Air Mata, dan Mengunyah Geram yang juga diterbitkan di tahun yang sama. Puisinya banyak dikenal dan mengantarkan Harkoni meraih sejumlah penghargaan nasional.

Yakni, juara I lomba cipta puisi nasional yang diselenggarakan penerbit NuNu Publisher pada 2015. Di tahun yang sama Harkoni menyabet juara II di lomba cipta puisi Nasional yang digelar penerbit Rumah Kita.

Pada 2018, orang tua Nadhifatul Maghfirah, Githa Kholifatul Ilmi, dan Aliya Naura Salsabilla itu meraih juara III lomba cipta puisi nasional tentang Kiai As’ad Syamsul Arifin yang diselenggarakan IKSASS Bondowoso.

”Menulis puisi sejak sekolah di SPGN Bangkalan pada 1986. Setiap hari saya menulis puisi minimal tiga judul. Dan setiap puisi yang saya buat selalu dikoreksi berulang-ulang,” ucapnya.

Sebelum menulis, Harkoni merupakan seorang kartunis. Sejak 2006–2009 kartun Si Botak yang merupakan karyanya sering tampil di koran harian Jawa Pos. Dia banyak meraih penghargaan di lomba lukis dan kaligrafi di tingkat Jatim.

Setiap menulis puisi dan syair, suami Faizah itu memperbanyak koleksi buku sebagai sumber referensi. Dia menjadikan karya orang lain sebagai sumber ilham untuk mulai menulis. Tentu dengan tidak memplagiat tulisan orang.

Setiap hari Harkoni menyempatkan menulis. Baik saat berada di sekolah maupun ketika santai di rumah bersama keluarga. Dia menularkan bakat tersebut ke anak-anaknya dan siswa.

”Alhamdulillah, anak saya yang paling tua sudah banyak meraih prestasi di lomba melukis. Begitu juga dengan anak didik di sekolah,” tuturnya.

Menulis tidak butuh keahlian khusus. Terpenting ialah kemauan yang kuat. Kemauan untuk mulai menulis dan menyelesaikan tulisan itu. Penulis tidak jauh beda dengan seorang koki restoran. Dengan satu bahan bisa menghasilkan beragam macam makanan dan penyajian berbeda.

”Begitu juga dengan tulisan. Bergantung ide dan pengolahan kata. Bagaimana kata itu dirangkai hingga menjadi sebuah karya yang bagus dan banyak menginspirasi masyarakat atau pembaca,” katanya.

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Penyair yang baik adalah penyaksi yang baik. Penulis harus banyak membaca. Tetapi membaca saja tidak cukup jika tidak dijadikan sebagai ide untuk menulis.

Orang yang suka membaca alangkah baiknya bisa menulis. Tulisan tidak harus bagus. Referensi tulisan bisa mengambil dari semua hal yang ada di lingkungan. Misalnya, kehidupan sehari-hari, budaya masyarakat, atau kearifan lokal.

”Penyair harus bisa melahirkan karya dari hal yang dianggap biasa menjadi karya yang mempunyai makna yang luar biasa. Syair berasal dari renungan yang diselesaikan,” ucapnya.

Masih sedikit kekayaan alam dan budaya Madura yang tergarap menjadi karya tulisan. Sebab, selama ini mindset masyarakat terhadap tulis-menulis relatif rendah. Terutama para generasi muda.

Banyak yang menilai bahwa menjadi penulis atau seniman tidak akan menghasilkan apa-apa. Padahal seni merupakan kegiatan positif. Seni tidak merusak. Seni bisa mempertajam insting dan memperhalus perasaan.

Dengan seni pikiran akan menjadi indah dan terhindar dari perbuatan negatif. ”Saya dulu menulis puisi dan syair tidak langsung dimuat di koran atau buku antologi puisi. Semuanya butuh proses. Saya terus menulis sampai tulisan saya dimuat di buku dan dibaca orang banyak,” tuturnya.

”Kalau kata Pak Zawawi, berani nulis itu sudah luar biasa dan lebih dibandingkan dengan orang yang hanya diam dan menilai tulisan orang. Jadi menulislah yang bagus. Penghargaan itu akan datang dengan sendirinya,” gugah dia.

Saat ini Harkoni tengah menggarap buku puisi berjudul Karapan Sapi dan Sorbaja Asaloy Tajing Mardeh. Buku tersebut merupakan kumpulan puisi Madura yang diangkat dari budaya dan kearifan lokal di Madura.

Untuk bisa menghasilkan karya yang berkualitas, pria yang mengagumi budayawan D. Zawawi Imron itu meminta kepada penyair terkenal untuk menulis kata pengantar dan endorsman di bukunya. Misalnya, Acep Zamzam Noor, Iman Budisantosa, Soni Farid Maulana, dan Lukman Hakim AG.

”Jika tidak ada halangan, buku puisi Karapan Sapi Madura akan terbit tahun ini. Kalau Sorbaja Asaloy Tajing Mardeh ditargetkan terbit pada 2020. Mohon doanya,” ucap dia.

(mr/nal/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia