Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Fogging Hanya Salah Satu Upaya Cegah DBD

Tiap Rumah Bayar Rp 10 Ribu

11 Februari 2019, 09: 20: 46 WIB | editor : Abdul Basri

WASPADA: Petugas mem-fogging rumah salah satu warga di Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan, kemarin.

WASPADA: Petugas mem-fogging rumah salah satu warga di Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan, kemarin. (RadarMadura.id)

Share this      

Penyakit DBD membuat sebagian warga waswas. Misalnya, sejumlah warga Desa Langkap, Kecamatan Burneh, Bangkalan, yang meminta lingkungan rumah mereka di-fogging. Warga rela membayar Rp 10 ribu tiap rumah untuk upaya pencegahan DBD tersebut.

***

NURUL HIDAYATI, 30, warga Desa Langkap mengaku, dia dan warga sekitar berkoordinasi dengan puskesmas terdekat agar dilakukan fogging. ”(Biaya fogging) murah, satu rumah hanya Rp 10 ribu,” ucapnya kemarin (10/2).

Dia menyatakan, di lingkungan tempat tinggalnya tidak ada yang menderita DBD. Meski begitu, perempuan dua anak itu menganggap penting dilakukan fogging sebagai antisipasi DBD. ”Biasanya fogging dilakukan pemerintah kalau sudah ada korban. Ini (kami yang minta) sebagai antisipasi,” imbuhnya.

Kepala Puskesmas Burneh Handayaningsih mengatakan, fogging dilakukan ketika ada warga yang menjadi korban DBD. Menurut dia, fogging dapat dilakukan jika ada permintaan dari masyarakat. ”Kalau fogging atas permintaan masyarakat, kami cuma minta (biaya) untuk bensin atau solar,” ujarnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Bangkalan Moh. Rasuli mengapresiasi langkah pencegahan DBD yang dilakukan masyarakat. Dia menilai fogging bukan langkah yang tepat untuk mencegah demam berdarah.

Menurutnya, fogging hanya membunuh nyamuk, namun tidak berdampak pada jentik. ”Fogging itu bukan solusi yang bagus. Mestinya melalui gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ucapnya.

Dia mengatakan, gerakan PSN perlu dilakukan masyarakat untuk mencegah korban DBD. Dalam gerakan PSN ada tiga cara utama yang perlu dilakukan. Yaitu, mengubur, menguras, dan menutup (3M).

”Untuk mencegah DBD, kami juga memberikan abate. Fungsinya, membunuh telur-telur nyamuk,” terang Rasuli.

Dia meminta masyarakat aktif menjaga kebersihan. Jentik nyamuk yang dapat menimbulkan DBD hidupnya di genangan air yang tidak menyentuh tanah. ”Perilaku hidup bersih sehat (PHBS) perlu ditingkatkan,” imbaunya.

Rasuli tidak menampik fogging dilakukan jika telah ada korban DBD. Nyamuk yang mengakibatkan seseorang terkena DBD bisa menularkan penyakit kepada orang lain. ”Biasanya fogging kalau sudah kejadian, atau permintaan dari masyarakat karena ada warganya yang terkena DBD,” ucapnya.

Untuk diketahui, dari Januari hingga 7 Februari, korban DBD di Bangkalan mencapai 67 penderita. Satu korban diketahui meninggal dunia, dan masih anak-anak. (jup)

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia