Minggu, 17 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Features

Enggan Tinggalkan Profesi Jurnalis karena Cinta

09 Februari 2019, 13: 44: 24 WIB | editor : Abdul Basri

PEJUANG: Reporter RRI Miftahol Umar (tengah) memantau karyawan saat melayani pelanggan di Tasya Laudry di Kelurahan Pangeranan, Bangkalan, kemarin.

PEJUANG: Reporter RRI Miftahol Umar (tengah) memantau karyawan saat melayani pelanggan di Tasya Laudry di Kelurahan Pangeranan, Bangkalan, kemarin. (VIVIN AGUSTIN HARTONO/RadarMadura.id)

Jadi jurnalis karena cinta. Jalankan usaha untuk keluarga. Begitu aktivitas wartawan Radio Republik Indonesia (RRI) Miftahol Umar setiap hari.

BAHRUL ULUM, Bangkalan

BEGINILAH keadaan tempat usaha saya, berantakan dengan pakaian pelanggan yang akan di-laundry,” kata Miftahol Umar kepada RadarMadura.id di tempat usaha usahanya Perumahan Soka Park, Blok Indah 3, Bilaporah, Socah, Bangkalan kemarin (8/2).

Istri pria kelahiran Sumenep 17 November 1984 itu kemudian datang. Miftah meminta istrinya membuatkan kopi. Koran ini melihat deretan mesin cuci dan mesin pengering, beberapa setrika uap, dan alat elektronik lain.

Selain itu, keranjang berisikan pakaian yang siap dicuci. Kemudian, mengajak koran ini menuju rumahnya di sebelah timur. Tidak jauh dari tempat usahanya.

Miftah terlahir dari keluarga menengah ke bawah. Kondisi perekonomian orang tuanya pas-pasan. Miftah kecil mengenyam pendidikan di SDN Bilapora Timur, Kecamatan Ganding, Sumenep dan lulus 1996.

Kemudian lanjut ke MTs Al Islah, Desa Bilapora Barat, hingga 1999. Lalu ke MAN Sumenep. Dia lulus 2002. Keinginan untuk melanjutkan pendidikan sangat besar. Bermodal doa dan restu orang tua, Miftah memberanikan diri melanjutkan di Univesitas Trunojoyo Madura.

Dia memillih program studi (prodi) akuntansi fakultas ekonomi. Semasa kuliah bukan tanpa kendala. Saat duduk di bangku kuliah, keuangannya sangat minim. Untuk menutupi kekurangan isi kantongnya, pada 2005 dia bekerja sebagai penyiar Radio Amanna FM.

Rutinitas kuliah dan pulang harus menjadi penyiar dia jalankan dengan ikhlas. Pada 2007 dia diwisuda. Namun, penyiar radio terus dilakukan hingga 2009. Saat itu dia menikah dengan Sari Fatun.

Usai menikah, Miftah pindah tempat kerja menjadi wartawan RRI di Bangkalan. Lalu, mengkredit rumah di Perum Soka Park, Blok Indah, Desa Bilaporah, Socah, Bangkalan. Hasil pernikahan dengan pujaan hatinya itu dia dikaruniai dua anak.

Anak pertama Anis Tasya Camelia lahir 2010. Anak kedua, Tasya Camila lahir 2014. Satu tahun sebelum lahir anak kedua, dia memberanikan diri membuka usaha laundry. Awal membuka usaha laundry dengan menggunakan satu mesin cuci dan mengontrak rumah untuk tempat usaha.

Sekarang rumah yang dulu dia kontrak itu sudah dibeli. Sementara usahanya diberi nama Tasya Laundry. Awalnya, sang istri pesimistis usaha itu bisa berjalan karena jauah dari keramaian. Namun Miftah bisa menyakinkan dengan cara kualitas cucian harus bersih dan bisa menjaga hubungan baik dengan pelanggan.

Usahanya terus maju. Pelanggan terus berdatangan. Kemudian dia membuka cabang Tasya Laundry di Jalan KH Moh. Kholil Gg IX/6 Legung Raya, Kelurahan Pangeranan. Kios tempat usahanya itu ngontrak. Di tempat itu dia memperkerjakan enam karyawan.

Sekarang Tasya Laundry tidak hanya melayani cuci pakaian. Juga melayani cuci sepatu, cuci boneka, karpet, sofa, helm, springbad, dan membersihkan interior mobil. ”Kami punya tagline Semua Bisa,” terangnya.

Selama sebulan dia meraup untung bersih belasan juta. Telah dipotong biaya, sabun, listrik, dan gaji karyawan. Berkat usaha itu dia juga bisa membeli rumah. Rumah itu jadi usaha. ”Alhamdullah bisa menafkahi istri dan anak,” ucapnya.

Meski demikian profesi sebagai jurnalis juga tetap jalan. Pagi berangkat liputan. Berita ditarget rampung siang. Setelah itu bergelut dengan usahanya. ”Kalau ada peristiwa sore, ya berangkat liputan dulu,” kata pria yang dipercaya menjadi ketua Komunitas Wartawan Bangkalan (KWB) itu.

Kendati hasil usaha lebih besar dengan gaji sebagai jurnalis, Miftah tidak akan berhenti sebagai wartawan. Sebab, dengan menjadi wartawan, dia bisa terus mengasah keilmuan serta menambah teman dan jaringan. Pihaknya selalu mengenalkan dan mempromosikan usaha laundry-nya. Tidak sedikit relasi dan teman yang menjadi pelanggan. ”Tidak mau meninggalkan profesi saya. Saya terlalu cinta sebagai wartawan,” katanya.

(mr/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia