Senin, 27 May 2019
radarmadura
icon featured
Features

Belajar Otodidak, Sapta Manfaatkan Paralon Jadi Lampu Hias

Penjualan melalui Medsos dan Dibantu Teman

06 Februari 2019, 06: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

KREATIF: Sapta mengukir paralon di rumahnya di Perumahan Griya Utama, Kota Bangkalan, kemarin.

KREATIF: Sapta mengukir paralon di rumahnya di Perumahan Griya Utama, Kota Bangkalan, kemarin. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Bekerja tidak harus di kantor. Di rumah juga bisa. Menjalankan usaha kreatif dan bernilai ekonomis. Bisnis ini mulai banyak digrandrungi. Seperti yang dilakukan Sapta.

BADRI STIAWAN, Bangkalan

BISING bunyi mesin gerinda terdengar di Perumahan Griya Utama, Blok AC, Kelurahan Mlajah, Bangkalan. Sejumlah tukang bangunan sibuk merenovasi salah satu rumah di blok itu. Pengerjaan berhenti ketika hujan mengguyur beberapa saat.

Di tengah rintik hujan, bunyi gerinda kembali terdengar. Pria berkaus merah telaten memotong paralon menggunakan mesin itu. Beberapa potongan lampu hias berjejer di lincak di teras rumah. Ada lampu hias yang sudah jadi. Ada juga yang belum ada lampunya. Hanya kerangka hiasan.

Lampu-lampu hias itu yang sedang dikerjakan. Sapta Kartika Cahyono nama perajin lampu hias itu. Paralon yang diukirnya itulah yang menjadi cikal bakal lampu hias. Dengan berbagai bentuk dan ukuran.

Obeng, solder, pisau, gerinda, dan sejumlah alat lain berada di teras tempat Sapta bekerja. Sapta menunjukkan beberapa hasil karyanya. Usaha yang digeluti pria kelahiran 1980 itu masih baru. Dimulai sekitar dua bulan lalu.

Untuk kerja kreatif, dia memulai sejak 2015. Tetap dengan membuat lampu hias. Namun, medianya menggunakan benang. Pengerjaan diakui lebih rumit. Peminat memang lebih banyak. Dia berhenti membuat lampu hias dari benang karena lelah.

”Terlalu capek kalau pakai benang. Tidak ada yang bantu. Memang lebih banyak pesanan,” ujar pria asal Kelurahan Pangeranan, Bangkalan, itu kemarin (5/2).

Awalnya bergelut dengan bisnis pembuatan lampu hias berangkat dari coba-coba. Mencari nafkah dari sumber yang berbeda. Rupanya ada respons. Bahkan seminggu ada pesanan 30–40 unit lampu hias dengan media benang. Harganya bisa Rp 75 ribu hingga Rp 80 ribu. Motifnya macam-macam. Gambar kartun dan sebagainya.

Pengerjaan satu lampu hias benang cukup melelahkan bagi Sapta. Selain itu, membutuhkan waktu cukup lama. Untuk satu lampu hias benang, pengerjaannya sampai tiga hari baru bisa rampung dan siap jual. Mulai pembuatan, dijemur, hingga finishing.

”Kalau paralon ini lebih mudah. Tidak lama prosesnya. Untuk dasar, sehari bisa membuat sampai tujuh hiasan,” kata suami Nanik Fibriani itu. ”Masih kurang rapi. Kekurangan alat,” ucap Sapta menunjukkan beberapa bagian hiasan lampu yang sudah jadi.

Alumnus SMKN 1 Bangkalan yang menyelesaikan pendidikannya pada 1999 itu mengatakan, keterbatasan alat menjadi kendala. Modal juga. Saat ini dia masih bekerja sendiri. Itu juga jadi kendala. Tidak ada yang membantu.

Proses menggeluti bisnis itu dimulai dari belajar sendiri. Belajar di internet. Cari referensi dengan berselancar di dunia maya. Awalnya banyak yang keliru potong karena keterbatasan alat. Kemudian belum paham pembuatannya.

”Otodidak. Ini masih dikerjakan sendiri. Coba ada yang bantu bisa lebih cepat. Untuk beli alat dan bahan masih keterbatasan modal,” ujar ayah Ricky Surya Asmara dan Meisya Kartika Putri itu.

Sapta tidak memastikan penghasilan dari bekerja kreatif itu. Penghasilan bergantung pada pesanan. Satu unit lampu hias kalau temannya yang membantu penjualan dilepas dengan harga Rp 40 ribu. Sebab, temannya juga butuh untung dari penjualan.

Kalau dijual sendiri bisa Rp 50 ribu sampai Rp 55 ribu. ”Masih gratis ongkir. Bela-belain antar ke rumah pemesan karena masih memperkenalkan produk,” tutur pria 38 tahun itu.

Untuk memperluas jangkauan pemasaran, dia memperkenalkan karyanya lewat media sosial (medsos). Perlahan pesanan mulai berdatangan. Meski tak sebanyak lampu hias menggunakan benang yang digelutinya dahulu.

Jangkauan penjualan sejauh ini masih kawasan Kota Bangkalan. Usaha itu merupakan pekerjaan sampingan. Sehari-hari Sapta buka lapak di stadion. Menjadi pedagang kaki lima (PKL). Tapi, musim hujan seperti saat ini jarang dia berjualan.

”Sementara mengerjakan ini untuk menambah pemasukan,” ucapnya. Dia berharap ada bantuan modal. Baik dari dermawan, instansi, maupun pemerintah. Setidaknya berupa pinjaman modal usaha untuk membeli alat. ”Harapannya, karya ini semakin diterima di pasaran,” kata Sapta.

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia