Senin, 27 May 2019
radarmadura
icon featured
Features
Cerita Nelayan Terombang-ambing di Laut

Bekal Habis, Minum Air Hujan untuk Bertahan Hidup

05 Februari 2019, 07: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BERCERITA: Dari kanan, Niatun, Sahwari, Muhlis, Sa’a, dan Camat Dungkek Heru Santoso saat tiba di rumah di Desa Romben Barat, Minggu malam (3/2).

BERCERITA: Dari kanan, Niatun, Sahwari, Muhlis, Sa’a, dan Camat Dungkek Heru Santoso saat tiba di rumah di Desa Romben Barat, Minggu malam (3/2). (DAFIR/RadarMadura.id)

Niat ingin mencari ikan demi menafkahi anak dan istri. Namun, nasib berkata lain. Lima nelayan asal Kecamatan Dungkek, Sumenep, terseret arus hingga ke Lombok Timur.

DAFIR, Sumenep

HARU dan tangis. Itulah suasana di rumah Sa’a, 49, salah seorang nelayan yang terdampar di Desa Belanting, Kecamatan Sambelia, Kabupaten Lombok Timur, Minggu malam (3/2).

Sejak pukul 22.00,  rumah Sa’a di Dusun Toraja, Desa Romben Barat, Kecamatan Dungkek, ramai. Keluarga, kerabat dekat, dan tetangga banyak yang datang. Mereka menunggu kepulangan Sa’a, Muhlis (anak Sa’a), Mat Rai’e, Niatun, dan Sahwari.

Tepat pukul 22.47, mobil dinas Camat Dungkek Heru Santoso melaju dengan kecepatan tinggi dari barat. Mobil tersebut membawa lima nelayan setelah dijemput di kantor BPBD Sumenep.

Dengan ciri khas nelayan, mereka satu per satu turun dari mobil. Mereka langsung dipeluk. Tangis pecah. Niatun dan Sahwari menuju rumah Sa’a yang juga rumah Muhlis. Sementara Mat Ra’i tidak ikut ke rumah Sa’a. Dia dijemput keluarganya menggunakan kendaraan roda dua.

Tiba di rumah Sa’a dan Muhlis, mereka duduk dan mempersilakan Camat Dungkek Heru Santoso masuk. Mereka bercerita selama terombang-ambing di tengah laut hingga berlabuh ke Lombok Timur.

Mereka juga bercerita kelucuan-kelucuan di pesawat. Sebab, mereka baru kali pertama naik pesawat. Mereka bercerita bahwa Senin (28/1) hendak pulang. Namun, cuaca buruk. Mereka berlabuh di Pulau Kangean. Selasa (29/1) mereka melanjutkan lagi perjalan laut. Pukul 15.00 mesin perahu yang mereka tumpangi meledak.

Ketika mesin perahu mati, Sa’a mencoba memasang layar agar bisa berlabuh ke pinggir laut, namun salah arah. Perahu bukan ke pinggir, tapi malah mengarah ke tenggara. Perahu mereka pun ikut arus. Sebab jika dipaksakan melawan arus. Perahu akan terpental dan mengancam keselamatan.

Sempat melambaikan tangan dan menaikkan bendera. Namun, tak ada yang menggubris. Padahal banyak kapal besar yang lewat. ”Niatnya mau minta tolong sebagai tanda, tapi tidak direspons,” tutur Sa’a.

Selama di tengah laut, banyak hal yang belum terjadi sebelumnya. Misalnya, bekal habis. Bahkan air minum ikut habis. Jalan satu-satunya menadah air hujan agar bisa minum. ”Plastik epamodel carat ngamba’ aeng ojan,” katanya berbahasa Madura.

Biasanya tiap hari masak nasi ukuran lima gelas. Demi pengiritan, tiap hari hanya dua gelas. ”Sejak Senin (28/1) sudah dua gelas kalau mau masak nasi. Pokoknya di tengah laut mulai hari Selasa sampai Sabtu (2/2),” tuturnya.

Sa’a menyampaikan, persediaan bekal yang benar-benar hampir habis itu pada Rabu (30/1). Rokok pun bergiliran. ”Ting, itu pertanda rokok harus digilir. Ya, gantian satu batang rokok,” terangnya.

Sejak berangkat 14 Desember 2018, persediaan bekal yang dibawa yakni beras 5 kg dan air dua galon. ”Habis hari Kamis (31/1) semua. Sempat satu gelas air tidak boleh habis supaya yang lain bisa minum,” ucapnya.

Sabtu pagi (2/2) tiba-tiba sudah terlihat permukiman warga. Tapi, posisi perahu tetap di tengah laut. Hanya mulai ke pinggir. Akhirnya, Muhlis dan Niatun berenang ke pinggir dengan tujuan beli air. ”Pas beli air, Muhlis nanya ternyata sudah ada di Lombok Timur,” jelasnya.

Ketika Muhlis bilang terombang-ambing di tengah laut dan nelayan dari Sumenep, banyak warga setempat yang memberikan air dan makanan. ”Muhlis tidak kunjung balik ke perahu,” tutur Sa’a.

Sa’a menceritakan, Muhlis menangis luar biasa karena ada orang Lombok Timur hidup sebatang kara. Tetapi, dia mau membantu dengan memberikan air minum. ”Orang itu hidup sendirian. Hanya sepetak ruangan buat tidur. Itu yang membuat Muhlis nangis,” imbuhnya.

Saat ini, tambah  Sa’a, perahu miliknya dititipkan di Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. ”Kami di Lombok juga ditemui bupati. Terima kasih atas semua bantuannya,” pungkas dia.

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia