Sabtu, 19 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Gengsi Adalah Fiksi

Oleh Imam S. Arizal

04 Februari 2019, 10: 18: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Imam S. Arizal Wartawan Jawa Pos Radar Madura

Share this      

Jika ditanya kota mana yang pemudanya paling rela melepas rasa gengsi, maka Jogjalah jawabannya. Setidaknya itulah yang pernah saya alami selama sekitar delapan tahun tinggal di Kota Gudeg. Dalam kunjungan terakhir ke daerah istimewa itu, bahkan saya berjumpa dengan seorang pemuda bergelar magister dari perguruan tinggi ternama yang tanpa gengsi menjadi pengemudi ojek online.

***

GERIMIS halus turun membasahi bumi malam itu. Udara dingin menelusup halus pada pori-pori tubuh. Lalu-lalang kendaraan masih melaju di Jalan Raya Malioboro, Kota Jogjakarta.

Sudah sekitar sepuluh menit saya menunggu pengemudi ojek online. Ini penantian yang cukup lama. Padahal biasanya hanya antara dua hingga lima menit lamanya. Hampir saja saya membatalkan orderan sebelum seorang pemuda yang mungkin usianya lebih muda dari saya datang menghampiri. ”Maaf, Mas, agak lambat. Soalnya orderan malam ini cukup padat,” katanya membuka pembicaraan.

Saya memintanya diantarkan ke kedai kopi Blandongan. Aktivis mahasiswa Jogja generasi 2000-an tentu akrab dengan kedai yang satu ini. Bahkan dulu ada ungkapan: tidaklah sempurna menjadi aktivis Jogja bila belum pernah ngopi di Blandongan.

Di perjalanan, mas ojek itu bertanya asal tempat tinggal saya. Dia sangat pintar menciptakan suasana akrab dengan penumpangnya. Pembicaraan pun mengalir hingga akhirnya saya pun penasaran ingin tahu dari mana asal dan di mana dia tinggal sekarang.

Si abang ojek itu rupanya berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Timur. Dan yang membuat saya tertegun, dia sudah belasan tahun tinggal di Jogja. Mulai sejak SMA hingga lulus pascasarjana.

Saya tanya mengapa dia mau jadi pengemudi ojek online? Bukannya banyak pekerjaan lain yang lebih menjanjikan? Apa dia tidak gengsi? Dan pertanyaan-pertanyaan lain pun terus saya suguhkan.

Jawabannya sungguh di luar dugaan. Katanya, dia sebenarnya ingin jadi pegawai negeri sipil (PNS), tapi saat mendaftar tidak lulus. Tetapi menjadi pengemudi ojek menurutnya juga bukanlah pekerjaan yang buruk. Bahkan dari segi pendapatan, dia bisa meraup keuntungan lebih besar daripada PNS yang tak berpangkat.

Soal gengsi, dia sudah melemparnya jauh-jauh. Baginya, gengsi hanya akan membuatnya terpuruk. Orang yang gengsi akan terus dihantui oleh ketakutannya sendiri hingga dia lupa yang mana realitas dan yang mana harus dijalani.

Bagi penganut gengsiisme, tentu tidaklah rela bila lulusan pascasarjana menjadi tukang ojek. Dia lebih memilih menjadi pengangguran, sembari menunggu pekerjaan kantoran datang. Kemudian, dia akan memperhatikan grafik statistik tentang ribuan sarjana yang tidak punya pekerjaan. Lalu merasa senasib seperjuangan dan ramai-ramai mengutuk pemerintah yang tidak bisa menyediakan lapangan pekerjaan yang memadai.

Pekerjaan seakan-akan hanya yang duduk di kantoran. Pandangan semacam ini tertanam kuat, terutama bagi orang-orang yang hidup di zaman Orde Baru. Bagi mereka, menjadi PNS merupakan satu-satunya kehormatan meski dengan bayar ratusan juta sekalipun.

Padahal zaman sudah berkembang pesat. Konon tukang ojek dianggap aib, tapi berkat perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, kini sudah menjadi pekerjaan idaman. Setidaknya bisa kita lihat hari ini sangat mudah menjadi lulusan perguruan tinggi ternama yang tanpa malu menjadi pengemudi ojek online.

Ngapain gengsi. Toh sepeda motor juga milik mereka sendiri. Dia juga bisa mendapatkan pahala karena telah mengantarkan orang lain ke tempat tujuan. Selain itu, jelas rezeki yang mereka dapatkan lebih halal daripada hanya yang mengandalkan proposal ke kantor-kantor pemerintahan.

Di Jogjakarta, ada ratusan bahkan mungkin ribuan mahasiswa yang setangguh mas ojek online tersebut. Jika ingin bukti, datanglah ke Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di Jalan Parangtritis, Bantul. Pesantren ini telah meluluskan ratusan alumnus yang seluruhnya berideologi ”gengsi tai kucing”.

Istilah ”gengsi tai kucing” ini kali pertama diungkapkan oleh almarhum KH Zainal Arifin Thoha, pendiri pesantren tersebut. Kepada para santri, pria yang akrab disapa Gus Zainal itu selalu mewanti-wanti agar melepas rasa gengsi. Menurutnya, sikap gengsi, malu, atau terlalu mengagung-agungkan harga diri, tak lebih dari kotoran kucing yang tak berharga.

Santri-santri di sini rela bekerja serabutan demi mencapai kesuksesan. Ada yang menjadi loper koran. Ada pula yang jualan buku, jualan gorengan, dan pekerjaan-pekerjaan yang butuh mental kuat lainnya. Bagi santri, yang penting bisa hidup mandiri dengan jerih payah sendiri.

Di pesantren ini, seluruh santri harus hidup mandiri. Tidak boleh ada santri yang minta kriman kepada orang tua. Kalaupun mau minta kiriman, maksimal hanya tiga bulan sejak hari pertama mondok.

Mayoritas mahasiswa di pesantren ini kuliah di UIN Sunan Kalijaga. Sebelum 2010, sangat mudah mencari santri Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari di kampus tersebut. Tinggal perhatikan baju dan sepeda ontel yang digunakan. Jika penampilannya kucel, sepeda ontelnya karatan, dan tubuhnya kurus kerempeng, itu sudah bisa dipastikan santri Kutub, sebutan lain Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari.

Tapi jangan heran, meski penampilannya sangat memalukan, intelektualitas mereka di atas rata-rata. Setiap saat tulisan-tulisan santri Kutub tayang di media massa. Baik media massa lokal ataupun nasional.

Menulis menjadi jalan hidup atau jihad santri Kutub. Bagi mereka, menulis akan memperpanjang usia. Atau bahkan, menulis bisa menutupi utang. Dengan honor-honor yang diterima, mereka bisa membayar utang atau buat makan sehari-hari.

Banyak pemuda-pemuda asal Madura yang nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Mereka datang ke Jogja dengan modal nekat, ingin kuliah tapi tanpa membebani orang tua. Alumninya pun kini tersebar di berbagai daerah dan sukses dengan profesinya masing-masing. Ada yang menjadi dosen, tenaga ahli DPR RI, penyelenggara dan pengawas pemilu, pengusaha, kiai, dan semacamnya.

Mahwi Air Tawar, Achmad Muhlis Amrin, Bernando J. Sujibto, Salman Rusydie Anwar adalah sederet penulis produktif asal Sumenep yang pernah nyantri di Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari. Bagi penikmat sastra, tentu akrab dengan nama-nama di atas. Mereka adalah orang-orang yang dulu pernah melepas rasa gengsi demi mencapai kesuksesan hakiki.

Seandainya Rocky Gerung pernah bertemu dengan santri Kutub, barangkali dia akan mengatakan bahwa gengsi itu fiksi. Dan seandainya kalimat itu benar-benar diucapkan, untuk pertama kalinya saya akan bersepakat dengan dia. 

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia