Kamis, 24 Oct 2019
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Kesenian Perspektif Pesantren

Oleh Shofan Azizi*

03 Februari 2019, 21: 49: 41 WIB | editor : Abdul Basri

Kesenian Perspektif Pesantren

Share this      

MENGHADAPKAN kesenian dengan pesantren akan menemukan paradigma umum bahwa kesenian memiliki pintu sempit. Hal ini barangkali didasarkan atas banyaknya komentar dan keputusan ulama-ulama klasik yang sebagian besar mengharamkan hal itu. Dalam berbagai kitab fikih, komentar tersebut dapat kita temukan. Karena itu, pesantren memiliki produk kesenian yang relatif sempit.

Kita patut melihat sejarah di masa silam, mengapa pesantren memiliki nilai yang –mungkin, apabila dibandingkan dengan pandangan publik– memiliki nilai yang relatif sempit. Dalam hal ini, karena pesantren memiliki kaitan erat dengan keagamaan, khususnya agam Islam. Berbicara soal pesantren sama halnya dengan berbicara agama. Pesantren sebagai tempat pendidikan khas Indonesia adalah hasil integrasi kultural antara agama dan budaya setempat. Maka di Indonesia, melihat pesantren sama halnya dengan melihat Islam secara budaya.

Dalam dinamika peradaban yang dibangun manusia, seni memiliki roda rintangan tersendiri dalam dunia keagamaan, khususnya Islam. Hal ini dapat kita lihat bagaimana kesenian berkembang. Perkembangan ini kemudian dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan hukum agama (fiqh) pada masa kehidupan yang selanjutnya.

Banyak ulama dan penafsir memberikan pandangan mengenai kesenian. Terhadap seni, mereka ada yang mendukung dan ada pula yang menolak. Bahkan, terhadap aliran yang kedua, mereka menggunakan vonis hukum agama untuk kemudian memberikan larangan yang memberikan pandangan bahwa kesenian tidak memiliki panggung kebebasan dalam keagamaan.

Pada aliran pertama, mereka yang mendukung terhadap seni pemikiran bahwa sebagaimana yang dijelaskan Ali Audah mantan dekan fakultas Hukum Universitas Ibnu Khaldun, kesenian dan kreativitas dianggap sebagai salah satu bagian dari kebudayaan. Ia berada di luar jangkauan agama sedikit pun. Oleh karena itu, kesenian dapat berbuat apa pun demi kebebasan kreativitas, meskipun kebebasan tersebut masih juga dibatasi dengan batasan-batasan agama.

Dalam sebagian keterangan hadis yang kontroversial, menuntut sebagian ulama melarang melukis semua bentuk sesuatu yang bernyawa dalam bentuk fisik utuh. Atas adanya keputusan ini, sudah jelas bahwa banyak pelukis kemudian merasa takut untuk menghasilkan karya dengan sebebas-bebasnya dan juga menggerakkan kreativitasnya tanpa penghalang apa pun.

Sedangkan pada aliran kedua, yang tidak memberikan kebebasan secara keseluruhan terhadap kesenian, mereka memiliki pandangan bahwa kesenian dapat memicu timbulnya kelakuan kesyirikan terhadap Tuhan. Asumsi ini didasarkan atas adanya suatu fakta bahwa pada saat kesenian mencapai puncak perkembangannya pada masa dulu, orang Arab Pagan menganggap kesenian, khususnya kesenian berupa patung, sebagai berhala atau tuhan mereka yang patut disembah. Pada masa itu, segala bentuk kreativitas manusia cenderung mengarah kepada praktik upacara penyembahan berhala. Bahkan, masyarakat kala itu menganggap hasil kreativitas manusia seperti patung sebagai sesuatu yang patut disucikan. Ia dianggap sebagai sesuatu yang absolut dan tidak boleh tersentuh hal-hal kotor.

Aliran yang kedua ini kemudian mengangkat ayat-ayat Alquran sebagai landasan argumentasinya. Hal ini dapat ditemukan dengan adanya kesenian kaligrafi Arab sebagai bantuk pemindahan perhatian dari seni lukis, ayat suci Alquran yang dilantunkan dengan suara merdu sebagai pemindah perhatian dari seni suara, dan ukiran-ukiran berbentuk bunga dan geometri pada dinding-dinding masjid sebagai bentuk pemindah perhatian dari seni arsitektur. Semua itu adalah produk-produk yang terjadi setelah masa penyaringan kesenian yang realnya berbenturan dengan ajaran agama Islam.

Setelah adanya dua pemikiran tersebut, lalu bagaimana kesenian menurut pesantren? Patut diketahui terlebih dahulu bahwa kesenian merupakan sesuatu yang menuntut adanya keindahan-keindahan. Keindahan memang merupakan sesuatu yang dibutuhkan manusia secara universal. Dalam belahan dunia mana pun, manusia pasti akan selalu terobsesi dan mengagungkan segala bentuk keindahan ini, seperti keindahan alam, keindahan kata, keindahan gaya hidup, dan lain sebagainya. Bahkan dalam sebuah hadis dijelaskan bahwa seorang mukmin jika mengerjakan sesuatu, kerjakanlah dengan sebaik dan seindah mungkin. Dalam hadis yang lain juga dijelaskan bahwa Allah itu adalah indah dan akan selalu mencintai keindahan-keindahan. Hal ini tentunya dapat dilihat dari adanya berbagai nama tuhan dalam Alquran yang kemudian disebut sebagai ”Asmaul Husna”.

Pesantren sebagai tempat pendidikan tertua di Indonesia tentunya bertujuan mencetak manusia yang memiliki nilai integritas tinggi, berkemampuan intelektual berkualitas, dan memiliki kepekaan moral-spiritual tinggi pula, berupa keindahan. Yang disebutkan terakhir adalah merupakan tujuan yang sangat diprioritaskan, karena sisi spiritual manusia dapat mengantarkan dirinya terhadap keharibaan tuhan sebagai zat penciptanya sendiri.

Dengan alasan demikian, seni menurut pesantren adalah kesenian yang dapat mengantarkan dirinya kepada tuhannya. Kesenian dijadikan sebagai alat berpijak untuk merasakan kedekatan diri dengan sang Tuhan. Kesenian perspektif ini merupakan kesenian yang mengantarkan kesadaran jiwa manusia terhadap tuhannya. Seni kesadaran jiwa ini apabila terus dilatih secara temporal akan berdampak terhadap pola hidup dirinya dengan Tuhan, pola hidup dirinya dengan kehidupan sosial, dan pola kehidupan dirinya dengan alam semesta.

Jika ini telah terjadi, derajat manusia akan terangkat naik lebih maju dari yang sebelumnya. Dan dengan hal ini pula, semua tujuan pesantren yang disebutkan di atas akan tercapai. Integritas hanya akan dirasakan apabila bersinggungan dengan kehidupan sosial. Intelektualitas hanya akan dicapai apabila belajar secara terus-menerus dari hasil perenungan-perenungan. Dan moral-spiritual hanya akan dicapai apabila melakukan pendekatan-pendekatan terhadap tuhan sebagai sesuatu yang maha indah di hamparan alam semesta. (*)

*)Santri PP Annuqayah Daerah Latee sekaligus mahasiswa Instika Guluk-Guluk Sumenep.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia