Minggu, 17 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Genangan Bukan Kenangan

Oleh Darul Hakim

01 Februari 2019, 10: 53: 49 WIB | editor : Abdul Basri

Darul Hakim Wartawan Muda Jawa Pos Radar Madura.

Darul Hakim Wartawan Muda Jawa Pos Radar Madura. (RadarMadura.id)

JIKA melihat judul sepintas ada kemiripan rima. Namun, dipastikan berbeda. Baik kata maupun arti. Yang membedakan hanya satu huruf ”g” dan huruf ”k” di awal kata. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata genangan berarti tempat atau daerah yang berair. Sedangkan kenangan sendiri memiliki arti sesuatu yang membekas dalam ingatan. Seperti seseorang, tempat, atau semua benda, dan segala yang dibendakan.

Salah satu contoh kalimat yang biasa diungkapkan anak milenial: Hujan banyak kenangan eh genangan. Dalam ungkapan kalimat tersebut seolah ada kekeliruan yang tidak disengaja. Namun, langsung dibenarkan hanya dengan kata eh. Kalimatnya menggelitik. Bahkan, membuat kita senyum-senyum sendiri ketika membacanya. Tidak demikian bagi seseorang yang hatinya gundah gulana. Atau bagi mereka yang galau.

Terlepas dari itu, berbicara genangan pikiran saya langsung tertuju pada luapan Sungai Kamoning di Sampang. Akibat luapan terjadilah genangan. Iya genangan. Genangan yang membuat beberapa daerah terendam. Terutama di perkotaan. Terjadi setiap tahun. Saat musim hujan seperti sekarang.

Di Kota Bahari, selama Januari sudah tiga kali banjir akibat luapan Sungai Kamoning. Sehingga ada genangan. Semakin meluas. Tidak hanya kediaman warga yang menjadi sasaran. Lahan pertanian, lembaga pendidikan, perkantoran, tempat ibadah, dan lain sebagainya tidak luput menjadi sasaran genangan.

Kedalaman air bervariasi. Mulai dari tumit hingga pinggang orang dewasa. Bahkan, ketinggian mencapai dada. Warga di daerah terdampak ketika musim penghujan seakan paham datangnya ”tamu” tak diundang itu. Misalnya, ketika hujan lebat turun. Terutama di daerah pantai utara (pantura).

”Siap-siap Sampang (daerah perkotaan) akan kedatangan tamu”. Celetukan seperti itu biasa terdengar. Kalimat tersebut diungkapkan sebagai candaan. Juga bentuk kekecewaan, bahkan kekesalan.

Berbicara ”genangan”, bukan hanya Sampang yang sering disinggahi. Tiga kabupaten lain di Madura, yaitu Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep juga kerap terjadi. Genangan semakin meluas membuat masyarakat waswas. Bagi anak-anak, ”genangan” membuat mereka senang. Wilayah terdampak dijadikan tempat bermain.

Siapa yang akan disalahkan? Pemilik lahan yang mendirikan perumahan, kos-kosan, took, dan lain sebagainya, sehingga lahan pertanian semakin sempit? Atau pemerintah yang tidak tanggap menyikapi? Seperti membangun irigasi atau saluran di sekitar bangunan yang sudah mulai pesat.

Meskipun ada irigasi tapi tersumbat saking banyaknya sampah yang menumpuk jadi satu. Hal itu perlu dikaji. Perlu dibicarakan oleh kepala daerah. Dibahas untuk mencari solusi. Bukan ujuk-ujuk membangun instalasi pompa banjir di lima titik.

Sementara normalisasi serta pemasangan sheet pile baru digarap. Banyak dampak akibat ”genangan” yang meluas. Infrastruktur seperti jalan cepat rusak. Tebing di pinggir sungai abrasi. Saking derasnya aliran.

Tidak sedikit kesehatan warga terganggu. Misalnya penyakit leptospirosis. Penyakit tersebut disebabkan bakteri leptospira. Penyebaran melalui urine atau darah hewan yang terinfeksi bakteri. Seperti anjing dan tikus. Mirisnya lagi, ada warga yang meninggal terseret arus banjir. Saking derasnya.

Setiap tahun menjadi langganan banjir di Sampang. Berbagai macam cara dilakukan untuk mengatasi agar bebas dari genangan. Nyatanya, ”tamu” tak diundang masih saja singgah.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah pembangunan instalasi pompa banjir. Proyek tersebut lebih kurang menyedot anggaran Rp 42 miliar. Sedangkan proyek yang sedang berjalan yakni normalisasi Sungai Kamoning dan pemasangan tiang pancang atau sheet pile Rp 365,3 miliar.

Pekerjaan mulai 2017 hingga 2019. Pekerjaan multiyear contract (MYC) itu harus diselesaikan akhir tahun ini. Meskipun, pekerjaannya diberhentikan sementara karena faktor cuaca. Tidak hanya itu, Pemkab Sampang akan membangun floodway atau sodetan. Saat ini proses pembebasan lahan.

Sodetan yang akan dibangun dengan panjang 7 kilometer dan lebar 70 meter. Sedikitnya terdapat 237 lahan penduduk terdampak. Lahan itu terdiri dari rumah dan tambak. Namun, pembebasan yang seharusnya dimulai 2018 itu belum terlaksana. Pembebasan lahan dianggarkan Rp 5 miliar.

Pola dan tatanan pemerintahan di Sampang perlu ada perombakan. Nah, gebrakan Bupati Sampang H Slamet Junaidi dan Wabup H Abdullah Hidayat ditunggu-tunggu masyarakat. Bukan hanya gebrakan perkara banjir. Tapi, semua persoalan di Sampang. Kita lihat saja, seperti apa pola kepemimpinan mereka.

Berklai-kali berganti pemimpin, persoalan banjir tak kunjung membuahkan hasil. Pun peningkatan infrastruktur. Yang menjadi salah satu tolok ukur kepala daerah adalah bisa membawa daerah selangkah lebih maju. Bukan hanya Sampang, pemimpin di Bangkalan, Pamekasan, dan Sumenep untuk berlomba-lomba meningkatkan prestasi. Bukan hanya adu argumentasi atau mencari sensasi.

(mr/*/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia