Senin, 16 Dec 2019
radarmadura
icon-featured
Hukum & Kriminal

Tangis Nurfaizah Pecah dalam Sidang

30 Januari 2019, 01: 50: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TERINGAT SUAMI: Nurfaizah berjalan setelah mengikuti sidang di PN Sampang kemarin.

TERINGAT SUAMI: Nurfaizah berjalan setelah mengikuti sidang di PN Sampang kemarin. (RUSYDI ZAIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Tangis Nurfaizah pecah di ruang sidang Pengadilan Negeri (PN) Sampang kemarin (29/1). Istri almarhum Subaidi, 35, warga Desa Tamberu Timur, Kecamatan Sokobanah, itu tak kuasa menahan air mata ketika menjadi saksi sidang kasus yang merenggut nyawa sang suami.

Sidang dimulai dengan agenda pembacaan dakwaan oleh jaksa penuntut umum (JPU) Anton Zulkarnaen. Terdakwa Idris tidak mengajukan keberatan atas dakwaan yang dibacakan jaksa. Kemudian dilanjutkan pemeriksaan dua saksi, Nurfaizah dan orang tuanya, Bahruji.

Suasana di ruang persidangan sempat senyap ketika Nurfaizah meneteskan air mata dan suaranya sedikit parau saat memberikan kesaksian. Saat itu dia menceritakan bahwa suaminya menelepon dan memberi tahu telah ditembak seorang bernama Idris, 31, warga Desa Tamberu Laok, Kecamatan Sokobanah, Sampang. ”Kami teringat almarhum,” ucap Nurfaizah usai sidang.

Kasipidum Kejari Sampang Tulus Ardiansyah mengatakan, saksi yang akan dihadirkan ke persidangan 12 orang. Anton Zulkarnaen menambahkan, dakwaan yang ditujukan kepada Idris merupakan dakwaan kombinasi. Meliputi, dakwaan primer, subsider, dan lebih subsider serta dakwaan tentang kepemilikan senjata api.

Dakwaan primer terkait pembunuhan berencana. Kemudian disubsider dengan pembunuhan biasa. Lalu, penganiayaan yang mengakibatkan kematian. Kedua, dakwaan tentang kepemilikan senjata api. Pihaknya menegaskan, senjata yang digunakan terdakwa untuk membunuh Subaidi yakni senpi jenis pen gun beserta 20 butir amunisi yang dimilikinya.

”Dakwaan di atas diterima oleh terdakwa dan penasihat hukumnya,” ujarnya. Ancaman hukuman pasal 340 dan pasal 338 maksimal 20 tahun, seumur hidup, dan hukuman mati. Sementara untuk pasal tentang kepemilikan senpi maksimal 20 tahun penjara.

Sidang dilanjutkan pada 6 Februari 2019. Sepuluh saksi lain diharapkan hadir memenuhi panggilan dalam agenda dua kali sidang. ”Satu agenda sidang, lima saksi dihadirkan,” jelas Budi Setyawan, ketua majelis hakim yang memimpin sidang.

(mr/rus/luq/bas/JPR)

Alur Cerita Berita

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia