Minggu, 17 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Siapkan 8 Hektare Hutan Mangrove

29 Januari 2019, 10: 37: 02 WIB | editor : Abdul Basri

POTENSI WISATA: Slaman menunjukkan lahan yang akan dijadikan eduwisata mangrove di pantai Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, kemarin.

POTENSI WISATA: Slaman menunjukkan lahan yang akan dijadikan eduwisata mangrove di pantai Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, kemarin. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN – Rencana pemerintah untuk membangun eduwisata mangrove di Desa Lembung, Kecamatan Galis, Pamekasan, terus digalakkan. Berbagai persiapan dilakukan untuk merealisasikan tempat wisata pendidikan tersebut. Delapan hektare lahan siap untuk disulap menjadi tempat wisata.

Pendiri Kelompok Tani Hutan Sabuk Hijau Slaman mengatakan, lahan seluas itu dibangun berbagai wahana pendidikan tentang mangrove. Mangrove yang sudah dikembangkan di antaranya jenis rhizophora stylosa dan mucronata, avicennia lanata, sonneratia alba, dan lain-lain. Jenis mangrove tersebut mempunyai fungsi masing-masing yang bisa bermanfaat bagi ekosistem laut.

”Dari variasi jenis mangrove itu akan memberikan keindahan tersendiri. Selain itu, kita bisa belajar manfaat dan fungsinya. Misalnya, mangrove apa yang bisa dibuat bahan roti dan yang lainnya,” katanya kemarin (28/1).

Lahan yang sudah disediakan juga akan dimanfaatkan untuk mengembangkan beberapa jenis mangrove. Dengan begitu, pertumbuhan mengrove tetap terjaga. Di samping itu, seluruh wahana yang akan dibangun mengandung pendidikan.

Di antara wahana yang akan disiapkan di dalam hutan mangrove yakni pembibitan mangrove apung, budi daya kepiting mangrove, dan galeri mangrove. Lebah mangrove juga akan dibangun yang dilengkapi dengan terapinya. ”Juga sangkar burung terbuka, galeri mangrove, dan perpustakaan mangrove. Semua wahana serba penelitian. Pengunjung yang datang disuguhi pendidikan,” papar Slaman.

Sejak awal pihaknya sudah memberikan edukasi tentang hutan mangrove kepada masyarakat sekitar. Pengetahuannya tentang ekosistem laut membuat mahasiswa bahkan ilmuan meminta bantuannya untuk mendampingi saat penelitian.

Pihaknya juga akan menghormati slogan Pamekasan sebagai Kota Gerbang Salam. Pengunjung harus berpakaian islami. Sebab, selama ini tempat wisata banyak yang menjadi perbincangan masyarakat karena pengunjung tidak sopan. ”Kami tidak ingin itu terjadi di sini,” ungkapnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Pamekasan Achmad Sjaifuddin mengatakan, ada dokumen yang harus dilengkapi sebelum pembangunan dimulai. Yakni, dokumen lingkungan atas analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), upaya pengelolaan lingkungan hidup dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UKL/UPL), serta surat pernyataan pengelolaan lingkungan hidup (SPPL).

Detail engineering design (DED) juga belum selesai. Meski begitu, pihaknya sudah menyusun masterplan sebagai pedoman dalam pembangunan dan pengembangan eduwisata mangrove. ”Secepatnya kami selesaikan agar pembanguann eduwisata cepat dibangun,” katanya.

Mantan kepala dinas PU pengairan itu mengungkapkan tahun ini fokus pada pembangunan eduwisata mangrove. Pembangunan Pantai Jumiang dan Pantai Talang Siring dihentikan karena sudah cukup. ”Mungkin hanya melengkapi yang kurang-kurang,” ujarnya. (bil)

(mr/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia