Minggu, 15 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Esai Ay Potree Jenang: Sa-raksa

Oleh Ay Potree Jenang*

20 Januari 2019, 18: 57: 23 WIB | editor : Abdul Basri

Esai Ay Potree Jenang: Sa-raksa

Share this      

”sa-raksa los-alos ru-biru,

mon korang nyare dibi’”

KALIMAT itu kembali terdengar dalam perjalanan ”seru-seruan” saya bersama teman masa kecil, menyusuri terjal bebatuan Gunong Pekol, sebuah bukit yang dikenal dengan rimbunnya pohon duwet (jamblang) dengan buah manis menggiurkan. Menyusuri jalan setapak berliku di bawah terik matahari membuat kami kelelahan, maka berhenti sejenak menikmati bekal air mineral dan satu kresek kerupuk adalah pilihan tepat bagi kami saat itu.

Belum sempat air saya teguk, terdengar seorang teman mengucapkan kata yang lama tak terdengar itu (oleh saya khususnya, selama beberapa tahun terakhir berada di pesantren). Sontak saya tertegun, berada 8 tahun di pesantren (ternyata) telah memberikan jarak antara saya dengan masyarakat dan adat ritualnya. Nuansa intelektual-religius pesantren yang mengakrabi setiap hari membuat saya lupa, bahwa ada banyak hal yang tak tertulis dalam lembaran mushaf dan tumpukan kertas tak terpikirkan, serta luput dari kajian pengembangan wawasan keilmuan.

Sa-raksa, memberikan sebagian makanan kepada alam (tak kasatmata) adalah satu dari sekian ritual tradisi itu, ”ma’ olle  ta’ ero’-toro’ setan”. Begitu ungkap para pendahulu, dan dengan sukarela mereka melakukannya. Dalam lingkup yang lebih besar, masyarakat juga melaksanakan Lolobaran, Rokat Tase’, Makane Bume, dan lainnya dengan ritual yang hampir sama. Maksud dan tujuan? Tentu bukan hal yang sembarangan, karena setiap hal dilakukan dengan alasan untuk mendapat kebenaran.

 

Sa-raksa dan Upaya Menjaga Kebajikan

Tak ada yang bisa menjamin, semakin maju peradaban semakin tinggi pula kualitas moral, dan tak ada yang bisa mengklaim jumudnya peradaban adalah tolok ukur rendahnya perilaku sosial. Sepuluh tahun yang lalu jarang kita temui orang-orang melakukan pembelaan dengan disertai sumpah serapah. Jarang ditemui kata ”haram” sebagai ancaman dalam kalimat larangan, ja’ lakone, Cong, juba’, begitu kata yang terlontar ketika orang-orang dulu menegur dan melarang. Tanpa umbul-umbul dalil, dengan serta-merta yang terucap akan dipegang erat, sebab mandi, katanya dedawuh oreng kona.

Istilah mandi dalam bahasa Madura digunakan untuk memberikan sifat akan kekuatan pitutur kata seseorang yang telah mendapatkan kepercayaan masyarakat umum sebab tindak tanduknya yang dapat diteladani, sebab perilakunya yang menginspirasi dan ritual ibadahnya tak diragukan lagi.

Terlebih apa yang mereka tunjukkan dalam sikap, tentunya lebih dari yang terucap. Maka segala ritual yang kerap mereka lakukan akan dilanjutkan oleh generasi penerusnya tanpa sungkan, karena diyakini akan menjauhkan dari mudharat, dan sa-raksa adalah bagian dari tradisi yang terwariskan itu.

Apa yang tergambarkan dalam sa-raksa mengajarkan kita untuk senantiasa mengasihi, menyayangi, dan menghargai. Mengasihi dan menyayangi siapa saja yang ada di bumi, mengasihi mereka para hewan, pepohonan, bebatuan, dan siapapun dia makhluk ciptaan, bahkan yang tak terlihat sekalipun, karena dengan menyayangi dan mengasihi kita akan menjadi yang terkasih dan tersayang, ”Sayangilah yang ada di bumi, niscaya yang ada di langit akan menyayangimu”, begitu rasul menjelaskan.

Membagikan makanan dalam sa-raksa berarti kita diajak untuk berbagi, membagi apa yang kita punya untuk menyenangkan hati sesama. Makanan yang kita buang, nyatanya tidak terlepas sia-sia, karena ada makhluk lain yang menerima.

Bukan tidak mungkin, secuil sisa makanan yang dibuang akan menjadi santapan lezat binatang melata, bahkan tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya proses menyisihkan makanan itu adalah rangkaian takdir untuk akhirnya rezwki itu sampai kepada empunya, ”karena tidak satu pun dari binatang melata yang ada di bumi, kecuali Allahlah yang menanggung rezekinya”, janji yang diucapkan Allah dalam firman-Nya.

Sa-raksa juga mengajarkan kita untuk menghargai mereka, makhluk ciptaan walaupun yang tak tampak sekalipun. Dalam bahasa religius, sa-raksa menjadi bagian dari penguat keimanan, iman terhadap makhluk gaib. Karena apa yang kita lakukan bukan dengan niat menuhankan dan menjadikannya sebagai wujud yang ditakuti, melainkan sebagai makhluk ciptaan yang senantiasa menjadi pelengkap kehidupan serta bukti kesempurnaan dan kemahakuasaan zat-Nya.

Sa-raksa hanya satu dari sekian banyak kearifan lokal masyarakat (Madura, khususnya) yang mesti kita terjemahkan, warisan budaya yang sarat akan makna kebenaran, walaupun kenyataannya bukanlah patokan umum tonggak keimanan. Setidaknya melalui renungan ini kita menyadari bahwa para sesepuh sejatinya mengajarkan kita untuk senantiasa mewariskan nilai-nilai luhur terhadap generasi penerus, mengajarkan mereka makna hidup langsung melalui aplikasi dan tindak nyata, tidak hanya sebatas kata-kata.

Maka seharusnya kita juga berpikir, apa yang akan kita wariskan kepada generasi selanjutnya, kelak? 

*)Santri Annuqayah Lubangsa Putri, menjalani aktivitas sebagai anggota Lembaga Kepenulisan, dan Komunitas Diskusi Kompas Pagi (Diskopag).

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia