Selasa, 19 Feb 2019
radarmadura
icon featured
Features
Cuaca Ekstrem, Bayi Sejam Dilahirkan Mati

Sebulan, 14 Anak Pengungsi di Dua Barak Meninggal

20 Januari 2019, 15: 37: 23 WIB | editor : Abdul Basri

MELAWAN DINGIN: Bocah pengungsi Suriah saat membersihkan tumpukan salju menggunakan sekop.

MELAWAN DINGIN: Bocah pengungsi Suriah saat membersihkan tumpukan salju menggunakan sekop. (ACT for Radarmadura.id)

SURIAH – Selain konflik perang, cuaca ekstrem menjadi salah satu pemicu meningkatnya angka kematian di Suriah. Buktinya, dalam sebulan terakhir ada 15 orang meninggal gara-gara suhu di sejumlah wilayah di bawah 10 derajat celcius.

Geert Cappelaere, utusan PBB untuk urusan anak-anak, mengakui jika cuaca ekstrem di Suriah mengancam keselamatan anak-anak. Termasuk, kaum rentan seperti lansia maupun disabilitas.

"Suhu yang membeku dan kehidupan yang keras di kamp pengungsian Rukban, mempertaruhkan nyawa anak-anak, para lansia dan difabel," ujarnya.

Kamp Rukban merupakan kawasan pengungsian padat dan letaknya sebelah selatan Suriah. Jaraknya dekat perbatasan Jordan. Kabar terkini dari Kamp Rukban, delapan anak-anak pengungsi Suriah wafat karena sakit yang disebabkan cuaca ekstrem.

Berita duka juga datang dari kamp lain bernama Hajin, wilayah eskalasi perang di sebelah utara Kamp Rukban (lokasinya dekat perbatasan Jordan, Red). Di kamp Hajin, ada tujuh anak-anak pengungsi Suriah meninggal karena hawa dingin membeku.

Sampai hari Kamis (17/1), 15 anak pengungsi Suriah tewas akibat cuaca ekstrem. Mengutip data Telegraph, 15 bocah tersebut wafat sebulan terakhir. Mayoritas berusia di bawah empat bulan. Bahkan, ada yang mati setelah sejam dilahirkan.

"Keluarga yang mencari selamat kesulitan meninggalkan zona konflik. Mereka berhari-hari menunggu cuaca dingin tanpa tempat berlindung dan pasokan makanan," kata Geert Cappelaere. 

(mr/*/yan/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia