Senin, 25 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Features

Tangan Tak Sempurna, Lukisan Karya Misnaya Cukup Menawan

Selain Hobi Juga sebagai Sumber Rezeki

13 Januari 2019, 13: 32: 34 WIB | editor : Abdul Basri

BERBAKAT: Misnaya S saat melukis di rumahnya di Desa Torbang, Kecamatan Batuan, Sumenep.

BERBAKAT: Misnaya S saat melukis di rumahnya di Desa Torbang, Kecamatan Batuan, Sumenep. (DAFIR/RadarMadura.id)

Meminta-minta bukan prinsip Misnaya. Keterbatasan fisik justru menjadi pemacu semangat baginya untuk berkarya. Dia gemar melukis, dan dari melukis dia memperoleh rezeki.

***********

RUMAH Misnaya tidak jauh dari pusat Kota Sumenep. Pria 35 tahun itu berdomisili di Desa Torbang, Kecamatan Batuan. RadarMadura.id berkunjung ke rumahnya, Kamis (10/1) pukul 08.29.

Sempat tidak yakin rumah berukuran 6 x 12 meter itu merupakan kediaman Misnaya. Di halaman rumah terlihat perempuan berkerudung memanjakan anaknya. Menjadi yakin setelah Misnaya nongol dari dalam rumah itu.

Misnaya mempersilakan koran ini masuk. Dia menunjukkan lukisan hasil karyanya. Hampir seluruh ruangan dipenuhi lukisan pesanan orang. ”Tadi itu istri dan anak saya,” kata dia sambil memperlihatkan hasil lukisannya.

Dia gemar melukis sejak 2000. Namun sebenarnya potensi melukis dia asah sejak masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Lukisan yang dibuat layaknya anak SD pada umumnya. ”Melukis gunung, laut, sawah, dan lain-lain. Seperti anak SD dululah,” ucapnya tersenyum.

Dari hasil melukis dia bisa membantu kebutuhan keluarga. Orang-orang mengapresiasi sehingga tidak sedikit yang memesan lukisannya. Biasanya ada yang datang memesan lukisan dengan memberikan foto. Tapi ada juga yang langsung membeli lukisan bernuansa natural karya Misnaya.

Selain itu, dia diundang untuk melukis tembok milik madrasah. Pernah ke ke Pulau Giligenting dan kecamatan lain. ”Yang sulit itu foto lama, kemudian mintanya mendadak. Sulit karena harus menyamakan karakter orang dalam foto tersebut,” terangnya.

Suami Salani ini mengaku lukisan yang digelutinya adalah realis. Dia bisa melukis lukisan abstrak bisa, tapi membutuhkan waktu cukup lama. ”Lebih banyak realis yang saya lukis,” jelasnya.

Lukisan-lukisan yang dia buat sering diikutkan pameran. Paling jauh sampai Surabaya. Itu karena keterbatasan biaya transportasi. ”Paling banyak di Sumenep. Terutama menerima pesanan,” tuturnya.

”Alhamdulillah, ada lukisan saya yang diapresiasi Rp 600 ribu hingga Rp 2 juta. Cukup membantu perekonomian keluarga. Apalagi sekarang saya punya anak (Mohammad Abqori Jabil) yang baru berumur 10 bulan,” ucapnya.

Hanya kerja kreatif yang bisa dia lakukan. Selain hobi, untuk bekerja di bidang lain dia tidak bisa. Keterbatasan fisik menjadi kendala. Tetapi tidak menjadi penghalang untuk berbuat dan menghasilkan karya.

”Keterbatasan fisik harusnya menjadi pemacu semangat untuk berbuat. Bukan jadi penghalang apalagi malas,” ujarnya.

Dia menceritakan, pada 2017 lalu pernah mendapat penghargaan Sumenep Awards kategori difabel yang aktif berkesenian. ”Saya bergabung dengan komunitas perupa di Sumenep,” paparnya.

Keterampilan melukis dia tekuni secara otodidak. Pengembangannya karena bergabung dengan komunitas perupa dan guru-guru seni rupa. ”Dari situ terus dikembangkan,” ucapnya mengakhiri pembicaraan. Misnaya lalu kembali pada aktivitas melukisnya.

(mr/daf/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia