Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

Wiro Sableng Ajak Santri Ramaikan Perfilman Indonesia

13 Januari 2019, 13: 30: 25 WIB | editor : Abdul Basri

LEGENDA: Herning Sukendro, pemeran Wiro Sableng memeragakan jurus pukulan kunyuk melempar buah di hadapan santri, Jumat (11/1).

LEGENDA: Herning Sukendro, pemeran Wiro Sableng memeragakan jurus pukulan kunyuk melempar buah di hadapan santri, Jumat (11/1). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Nama Herning Sukendro atau yang populer dipanggil Ken Ken melejit setelah memerankan Wiro Sableng. Pengetahuan dan kemampuan silat mengantarkan dia menjadi salah satu tokoh legendaris dalam perfilman Indonesia.

DENGAN berpakaian serba putih,  Herning Sukendro memasuki halaman madrasah Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Ulum Bata-Bata (Muba), Pamekasan. Penampilannya masih seperti pada saat memerankan Wiro Sableng, pendekar Naga Geni 212. Rambut panjang dengan ikat kepala putih dan terdapat jambul di belakang menjadi ciri khasnya.

Riuh tepuk tangan ribuan santri, alumni, dan masyarakat menyambut kedatangan aktor legendaris era 90-an itu. Wiro Sableng dengan tubuh perkasanya berjalan menuju panggung sambil tersenyum menyapa orang-orang yang berada di sekitarnya.

”Wiro Sableng... Wiro Sableng.... Wiro Sableng...,” teriakan moderator dan penonton menyambut kedatangan Ken Ken. Dia tampak semringah mendengar namanya dipanggil.

Ketika berada di atas panggung, Ken Ken mengajak santri belajar jurus-jurus andalan yang pernah diperagakan saat memainkan film yang diangkat dari novel Wiro Sableng karya Bastian Tito. Tiga santri naik ke panggung setelah ditunjuk Ken Ken.

”Banyak jurus yang saya peragakan. Malam ini saya akan mengajarkan jurus andalan yang sering digunakan Wiro Sableng. Jurus pukulan sinar matahari dan pukulan kunyuk melempar buah,” katanya, Jumat malam (11/1).

Suami Sandra Arizky itu kemudian mengambil posisi kuda-kuda. Begitu juga dengan santri yang berada di sampingnya. Ken Ken memeragakan jurus pukulan kunyuk melempar buah dengan lihai sambil memandu santri mengikutinya. ”Jurus pukulan kunyuk melempar buah lebih sering saya gunakan saat main film,” ujarnya.

Ken Ken mengaku bermain film sejak usia muda. Puluhan film dari berbagai genre dia mainkan. Di antaranya, Macho, Perawan Lembah Wilis, Angling Darma 3, Walet Merah, Mahkota Mayangkara, Jaka Gledek, dan Singgasana Brahma Kumbara.

”Sejak 1992 saya sudah main film bersama Barry Prima. Sampai sekarang pun saya masih main film. Film yang terbaru judulnya Jaka Gemblung yang berkerja sama dengan director dari Korea,” terangnya.

Dia bercerita awal mula masuk ke dunia perfilman. Dia terpilih menjadi pemeran utama Wiro Sableng setelah diseleksi. Modal utama yang dimiliki ilmu bela diri. ”Pendidikan saya berhenti di SMA. Ilmu bela diri yang pernah saya pelajari menjadi modal untuk masuk ke industri perfilman. Semuanya berkat ilmu bela diri yang saya miliki,” ungkap pria kelahiran 21 Maret 1968 itu.

Seni bela diri yang dipelajari Ken Ken yakni Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT). Sejak 1994, dia sudah belajar teknik bela diri di perguruan PSHT di daerahnya. Berkat bela diri yang dimilikinya, dia bisa dikenal banyak orang.

Prinsip dalam bela diri tidak hanya mengandung seni. Bela diri akan mengantarkan seseorang menjadi pribadi yang lebih baik. Sebab ilmu bela diri memberikan ketenangan dalam menjaga kehormatan pribadi dan orang lain.

”Ilmu bela diri itu tidak hanya berguna bagi pribadi, tapi juga untuk membantu orang lain. Misalnya ketika ada seseorang yang teraniaya atau terzalimi. Harus siap membantu selagi benar dan harus memberikan yang terbaik bagi sesama umat,” jelas Ken Ken.

Dia mengajak santri ikut bersaing dalam dunia entertainment. Santri memiliki banyak peluang untuk mengisi film-film religi di Indonesia. Bahkan bisa viral disukai di luar negeri.

Apalagi persaingan perfilman cukup pesat seiring dengan perkembangan teknologi. Generasi sekarang harus bisa mengambil peran sebagai generasi bangsa. Tentunya harus mengandung pesan-pesan moral untuk masyarakat Indonesia.

”Dunia perfilman perlu regenerasi. Film-film dalam negeri harus bisa bersaing dengan film luar negeri. Itu termasuk dari tugas generasi bangsa untuk mengambil peran. Saya yakin, putra-putri bangsa mampu bersaing ke arah entertain yang lebih baik dan maju,” pungkasnya. (bil)

(mr/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia