Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Pamekasan

AKI dan AKB Masih Tinggi

Libatkan Lintor untuk Tekan Kematian

12 Januari 2019, 01: 01: 08 WIB | editor : Abdul Basri

AKI dan AKB Masih Tinggi

Share this      

PAMEKASAN — Angka kematian bayi (AKB) di Pamekasan masih tinggi. Dalam setahun mencapai puluhan kasus. Sedangkan angka kematian ibu (AKI) relatif lebih rendah.

Pada 2016, AKI mencapai 16 kasus. Sedangkan untuk kasus AKB berjumlah 72. Pada tahun berikutnya, AKI dan AKB mengalami penurunan. Yakni, AKI 8 dan AKB 52 kasus.

Kasi Kesehatan Keluarga dan Gizi Masyarakat Dinkes Pamekasan Bambang Budiyono mengatakan, kasus yang terjadi pada 2018 meningkat daripada tahun sebelumnya. Itu terjadi karena banyak faktor. Mayoritas disebabkan keterlambatan penanganan.

”Kalau jumlah AKI dan AKB 2018 belum selesai direkap. Sekarang masih dalam proses direkap. Tapi, kalau dibandingkan dengan tahun sebelumnya sepertinya ada peningkatan,” katanya kemarin (10/1).

Bambang menyampaikan, keterlambatan penanganan karena beberapa kendala. Di antaranya, sulitnya akses jalan menuju rumah sakit atau bidan. Seperti yang terjadi di daerah perbukitan.

Di Kecamatan Waru, Pasean, Batumarmar dan lain-lain masih terdapat jalan setapak yang tidak dilewati kendaraan roda empat. Hal itu yang menjadi penghambat dalam penanganan.

Pendarahan dan eklamsi atau keracunan kehamilan juga menjadi penyebab meningkatnya AKI. Sulitnya pendeteksian eklamsi juga menjadi penghambat. Ketika tiba di rumah  sakit, kondisi sudah pendarahan sehingga menyebabkan kematian.

Sering juga ditemukan ibu hamil yang tidak memeriksakan kehamilannya selama mengandung. Padahal, hal itu sangat penting untuk mengetahui perkembangan janin. Biasanya, hal itu terjadi pada ibu hamil yang berstatus TKI.

”Biasanya orang Madura itu pulang ketika mau melahirkan. Tiba-tiba datang ke rumah sakit mau melahirkan. Itu akan mempersulit bidan atau dokter untuk melakukan persalinan. Sebab, riwayat kehamilan juga penting untuk mempermudah proses melahirkan,” terangnya.

Menurut dia, kematian sering terjadi pada saat proses melahirkan. Namun, bukan berarti pasca melahirkan bisa selamat. Bambang juga menemukan kasus kematian yang disebabkan kurangnya perawatan setelah melahirkan.

Masa-masa ketika nifas juga sangat rawan. Sebab, pasca melahirkan sering terjadi infeksi yang bisa mengakibatkan kematian. Hal itu karena jika kesehatan orang tua terganggu, akan berdampak pada kesehatan bayi.

”Kalau kematian bayi mayoritas karena fungsi jantung tidak normal. Misalnya, lahir dalam kondisi berat badan lahir rendah (BBLR). Itu terjadi karena orang tua mengidap beberapa penyakit sehingga berpengaruh pada kesehatan bayi,” ungkapnya.

Untuk mengantisipasi masalah tersebut, dinkes akan melibatkan masyarakat lintas sektor (lintor). Misalnya tokoh masyarakat, kepala desa atau lurah, dan beberapa pihak lain. Mereka akan dilibatkan untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga kehamilan.

”Orang Madura mempunyai kepatuhan yang tinggi kepada tomas dan yang lainnya. Makanya, kami akan mencoba untuk melibatkan mereka agar ikut terlibat dalam menekan AKI dan AKB,” terang Bambang.

Anggota Komisi IV DPRD Pamekasan Taufiqurahman mengatakan, pemkab harus terus melakukan upaya pencegahan kematian ibu dan anak. Dia meminta pemkab untuk menigkatkan sosialisasi terhadap pasangan pranikah maupun baru nikah. Mereka perlu diberikan pengetahuan tentang perkembangan kandungan dari janin hingga terbentuk bayi sempurna.

Selain itu, Taufik mendesak dinas terkait untuk mengadakan bimbingan teknis kepada semua bidan terkait kasus-kasus pada saat proses kehamilan. Cara menjaga kesehatan saat kehamilan juga perlu diperhatikan. ”Itu harus kontinu,” ujarnya.

Menurut dia, yang tak kalah penting adalah perlu adanya program perbaikan gizi pada ibu hamil. Apalagi, ibu hamil kurang mampu. Dengan begitu, ibu hamil yang tidak mampu bisa menjaga keselamatan bayi dan orang tuanya. (bil)

(mr/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia