Sabtu, 07 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Features
Kuasai Pasar Tradisional

Inilah bentuk Wajan Raksasa Paling Tebal Se-Indonesia

10 Januari 2019, 13: 13: 20 WIB | editor : Abdul Basri

TAHAN LAMA: Muhammad menunjukkan wajan raksasa buatannya di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Sumenep.

TAHAN LAMA: Muhammad menunjukkan wajan raksasa buatannya di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Sumenep. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP - Orang boleh tinggal di tempat yang jauh dari kota. Tapi selama memiliki kreativitas dan skill, dia akan tetap sukses. Seperti Muhammad, perajin wajan raksasa asal Sumenep yang setiap bulan bisa berpenghasilan Rp 50 juta lebih.

Jarak tempuh menuju rumah Muhammad sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Sumenep. Jika menggunakan kendaraan bermotor dengan kecepatan sedang, dibutuhkan waktu sekitar 30 menit untuk sampai di rumah tersebut. Dia tinggal di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget.

Radar Madura menyambangi rumah Muhammad Rabu siang (9/1). Rumahnya terletak tak jauh dari kantor PT Garam Kalianget. Tapi bukan di pinggir jalan raya, melainkan masih masuk ke utara. Jika baru kali pertama berkunjung, cukup sulit mencari rumah Muhammad. Banyak jalan bercabang menuju rumah pria kelahiran 5 Desember 1961 itu.

Meski jauh dari perkotaan, tetapi rumah ini selalu ramai. Saat koran ini tiba, banyak tamu yang hendak membeli wajan di rumah Muhammad. Koran ini ditemui Rusiyati, istri Muhammad. ”Silakan duduk dulu. Bapak masih salat,” kata Rusiyati.

Usai salat, Muhammad datang dengan pakaian khas. Celana pendek dan kaus pendek. Sempat bincang-bincang sebentar, tapi dia pamit untuk melayani para pembeli yang siang kemarin memborong banyak wajan.

Diceritakan, sebelum menjadi pengusaha wajan, dia kali pertama bekerja sebagai kuli di salah satu perajin wajan di Kalianget. Saat itu sekitar tahun 1990. Keterbatasan ekonomi membuat dia bekerja apa saja, termasuk menjadi kuli di kerajinan wajan.

”Pada waktu itu ekonomi saya kurang, sehingga saya bekerja sembari belajar. Setelah tahu ilmunya, saya mencoba memproduksi sendiri,” kata pria lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Sumenep itu.

Dia mulai merintis usahanya sekitar tahun 1994. Saat itu pesanan langsung banyak. Bahkan, dia bisa mempekerjakan hingga 50 orang. Mereka yang bekerja merupakan warga sekitar. ”Sampai sekarang Alhamdulillah pesanan tambah padat,” tegasnya.

Wajan yang dibuat Muhammad bermacam-macam. Mulai dari ukuran kecil, sedang, hingga besar. Saat ini dia juga memiliki wajan raksasa. Wajan tersebut berdiameter satu meter dengan ketebalan lima milimeter.

Wajan raksasa ini terbilang langka. Secara ukuran, mungkin banyak perajin-perajin lain yang membuatnya. Tapi dari segi ketebalan, Muhammad berani menjamin bahwa wajan buatannya inilah yang paling tebal di Indonesia.

Menurut Muhammad, biasanya ketebalan wajan hanya sekitar 3 milimeter. Dia sengaja membuat lebih tebal agar lebih awet. Untuk ukuran ketebalan 3 milimeter bisa dipakai hingga 20 tahun. Sementara yang 5 milimeter bisa dipakai sepanjang waktu.

”Saya katakan wajan raksasa karena ketebalannya mencapai lima milimeter. Ini tidak diproduksi di tempat lain, baik di Madura ataupun di Indonesia secara umum,” paparnya.

Wajan milik Muhammad diproduksi secara tradisional. Dia menggunakan lembaran aluminium asli. Bahan tersebut dibakar oleh perajin dan kemudian dibentuk polanya sesuai ukuran yang dibutuhkan. Untuk wajan ukuran kecil, pembakaran menggunakan kompor. Sedangkan wajan ukuran raksara dibakar memakai kayu atau janur kering.

Dalam sehari, satu orang pekerja bisa menghasilkan 32 wajan ukuran kecil atau lebih. Untuk ukuran besar bisa membuat hingga delapan unit. Sementara untuk ukuran raksasa harus dibuat dua orang pekerja. Itu pun dalam sehari hanya bisa menghasilkan satu unit wajan raksasa.

Karena kualitas wajan milik Muhammad cukup bagus, pesanan kepadanya terus mengalir. Dalam sebulan dia mengaku bisa menjual hingga satu juta unit wajan. Wajan-wajan tersebut dikirim ke berbagai pasar tradisional di Indonesia.

”Di Madura hampir semua pasar menjual wajan saya,” katanya. ”Di sebagian besar pasar tradisional di Jawa Timur juga tersedia wajan buatan saya,” tambahnya.

Wajan yang diproduksi Muhammad juga dikirim ke Jawa Tengah, Jawa Barat, Jakarta, Bali, Lombok, Kalimantan, dan daerah-daerah lainnya. Tak heran bila pendapatan Muhammad setiap bulannya melimpah. Dia mengaku bisa berpenghasilan Rp 50 juta setiap bulannya.

”Berbisnis wajan ini menyenangkan. Setiap hari selalu ada yang beli. Jadi pasti untung,” jelasnya. ”Apalagi wajan dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat,” ucapnya mengakhiri perbincangan.

(mr/mam/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia