Sabtu, 23 Mar 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Curiga Ada Kios Pupuk Nakal

02 Januari 2019, 00: 25: 51 WIB | editor : Abdul Basri

MENDUNG: Petani menaburkan pupuk ke tanaman padi di Desa Gunung Maddah, Sampang.

MENDUNG: Petani menaburkan pupuk ke tanaman padi di Desa Gunung Maddah, Sampang. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

SAMPANG – Pada awal musim tanam padi, petani membutuhkan pupuk bersubsidi. Jenis pupuk yang paling banyak dibutuhkan petani yakni Urea dan SP-36. Kondisi itu cenderung dimanfaatkan oknum distributor atau kios pupuk nakal.

Anggota Komisi III DPRD Sampang Sohebus Sulton menduga ada penyimpangan distribusi pupuk oleh distributor. Dia meminta Dinas Pertanian (Disperta) Sampang mengubah sistem pendistribusian pupuk mulai dari distributor, kios, hingga kepada petani.

Sistem pengawasan pendistribusian pupuk harus diperketat. Terutama di kios-kios yang berlokasi di wilayah perbatasan. Tujuannya, agar stok pupuk tidak dikirim ke daerah lain.

”Kami mendapat laporan dari petani di Kecamatan Jrengik. Mereka kesulitan mendapat pupuk Urea. Padahal sekarang baru memasuki musim tanam. Kami minta kios pupuk yang lokasinya jauh dari pengawasan dipindah,” kata politikus Gerindra itu.

Dia berharap disperta segera mengecek stok pupuk di kios-kios. Termasuk mencari kios nakal yang menjual pupuk di atas harga eceran tertinggi (HET) kepada petani. Mahalnya harga pupuk biasa terjadi pada awal musim tanam padi. Sebab, kebutuhan terhadap pupuk meningkat.

”Pada awal musim tanam padi, pupuk yang paling banyak dibutuhkan petani yakni Urea dan SP-36. Stok pupuk di Sampang tahun ini banyak. Kami harap mencukupi kebutuhan petani selama musim tanam,” ujarnya.

Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Disperta Sampang Suyono mengatakan, persediaan pupuk bersubsidi selama musim tanam tahun ini mencapai 30.264 ton. Perinciannya, pupuk Urea 19.872 kilogram (kg), SP 36 4.993 kg, ZA 2.081 kg, MPK 2.336 kg, dan pupuk organik 1.082 kg.

Dia mengklaim sudah berkoordinasi dengan 85 kios dan empat distributor pupuk resmi di Sampang. Dari puluhan kios tersebut sudah ada pengawasan dari tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPPP) yang terdiri atas penyuluh pertanian, TNI, dan polisi. ”Jadi, kecil kemungkinan akan ada distributor atau kios nakal yang memainkan harga dan menjual pupuk ke luar daerah,” tegas Suyono Selasa (1/1).

Pengawasan berkaitan dengan pengadaan, peredaran, penyimpanan, dan penggunaan pupuk. Harga pupuk subsidi di tiap wilayah juga diawasi. Pihaknya meminta petugas di kios aktif melakukan verifikasi dan pendataan stok pupuk. Apabila terjadi kekurangan pupuk segera melapor disperta.

Harga pupuk bersubsidi lebih murah daripada nonsubsidi. Dia menerangkan, harga pupuk subsidi stabil. Pupuk Urea seharga Rp 90 ribu per 50 kg, SP-36 Rp 100 ribu per 50 kg, ZA Rp 70 ribu per 50 kg, Phonska Rp 115 ribu, dan Petroganik Rp 20 ribu.

Untuk harga pupuk eceran maksimal Rp 8 ribu per kg. ”Harga itu sudah termasuk harga jenis pupuk subsidi lainnya dan berlaku di seluruh kios atau distributor di Sampang,” tegas Suyono.

Dia menjelaskan, pendistribusian pupuk ke tiap kios bergantung pada daerah penghasil padi. Jika luas lahannya banyak, jatah pupuk juga banyak. Dia mengaku sudah berkoordinasi dengan 85 kios dan empat distributor pupuk resmi di Sampang untuk tidak melayani pembelian dari petani luar daerah.

”Kami sudah meminta kepada distributor untuk ikut mengendalikan pupuk. Salah satunya, tidak boleh melayani pembelian dari luar daerah. Jika masih mokong, bisa dicoret,” tandas Suyono.

(mr/nal/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia