Kamis, 24 Jan 2019
radarmadura
icon featured
Madura Events

Ngaji Tanpa Dasar Bisa Bingung

Diskusi Keagamaan Ludruk Santri 2018

31 Desember 2018, 13: 06: 38 WIB | editor : Abdul Basri

CERDAS: Dari kiri, Ketua Yayasan Gemma Mutiara Timur KH Syarqawi Dhofir, Rektor Inaifas Jember Rijal Mumazziq Z., Guru Besar Uinsa Surabaya KH Abd. A’la Basyir, dan anggota IAA Khalqi dalam diskusi keagamaan Ludruk Santri di Kanca Kona Kopi Sabtu (29/12).

CERDAS: Dari kiri, Ketua Yayasan Gemma Mutiara Timur KH Syarqawi Dhofir, Rektor Inaifas Jember Rijal Mumazziq Z., Guru Besar Uinsa Surabaya KH Abd. A’la Basyir, dan anggota IAA Khalqi dalam diskusi keagamaan Ludruk Santri di Kanca Kona Kopi Sabtu (29/12). (MUSTAJI/RadarMadura.id)

SUMENEP – Salah satu kegiatan di hari terakhir Ludruk Santri 2018 bertajuk Menertawakan Diri di Akhir Tahun adalah diskusi keagamaan. Diskusi bertema Islam Nusantara Berkemajuan Terpadu itu menghadirkan tiga narasumber. Mereka adalah Guru Besar Uinsa Surabaya Prof. KH. Abd. A’la Basyir, Rektor Inaifas Jember Rijal Mumazziq Z., dan Ketua Yayasan Gemma Mutiara Timu KH Syarqawi Dhofir.

Selain diskusi soal agama, kegiatan itu sekaligus bedah buku Ijtihad Islam Nusantara karya KH. Abd. A’la. Berbagai permasalahan mengenai tantangan umat Islam di era globalisasi dibahas. Termasuk bagaimana perihal Islam Nusantara dan revolusi industri 4.0.

”Sebelum membahas Islam Nusantara yang mulai ramai diperbincangkan beberapa tahun ini, kita perlu mengkaji sejarah Islam Nusantara itu seperti apa. Sebab, ngaji tanpa dasar akan menimbulkan kebingungan yang bisa berlanjut menjadi kesalahan,” ungkap A’la yang menjadi penyaji utama.

Dalam diskusi itu juga, banyak dibahas fenomena munculnya ajaran-ajaran baru dalam Islam. Lengkap dengan identitasnya. Rijal Mumazziq Z. yang menjadi salah seorang pembedah dalam kegiatan tersebut juga banyak memaparkan rentetan pemikiran para pendiri organisasi Islam di Nusantara. Termasuk bagaimana manusia pada zaman ini bisa memilki sifat toleran terhadap ajaran-ajaran baru yang muncul.

”Bagaimanapun setiap pemikiran yang muncul itu perlu kita pelajari. Artinya, kita tidak boleh tutup mata dan tutup telinga. Bukan untuk bisa, tapi untuk mengerti dan paham. Lalu kita bisa memilih ajaran mana yang paling tepat,” katanya.

Ludruk Santri terlaksana berkat kerja sama RadarMadura.id, Kanca Kona Kopi (KKK), dan Ikatan Alumni Annuqayah (IAA). Diskusi tersebut dihadiri oleh banyak pihak. Di antaranya, kaum santri, seniman, dan masyarakat umum.

Kepala JPRM Biro Sumenep Feri Ferdiansyah menjelaskan, kegiatan itu merupakan salah satu dari sembilan rangkaian Ludruk Santri 2018. Dia menyampaikan terima kasih atas semua pihak yang telah terlibat menyukseskan kegiatan tersebut. Rencananya, Ludruk Santri itu dijadikan kegiatan tahunan. ”Tentunya dengan konsep yang lebih matang,” katanya. 

(mr/aji/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia