Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Sumenep

Disdik Akan Terapkan Pendidikan Berbasis Pesantren

17 Desember 2018, 11: 55: 00 WIB | editor : Abdul Basri

Disdik Akan Terapkan Pendidikan Berbasis Pesantren

Share this      

SUMENEP – Dinas Pendidikan (Disdik) Sumenep akan menerapkan kebijakan baru. Yakni, implementasi pendidikan berbasis pesantren. Kebijakan tersebut akan diberlakukan mulai tahun ajaran 2019/2020.

Kasubbag Perencanaan Keuangan dan Barang Milik Daerah Disdik Sumenep Edy Suprayitno menyampaikan, pendidikan berbasis pesantren bukan berarti sekolah wajib menyediakan asrama. Siswa tidaklah dipondokkan layaknya santri yang bermukim di pesantren.

Penerapan pendidikan berbasis pesantren, papar dia, lebih kepada penanaman nilai-nilai luhur pesantren. Implementasi pendidikan berbasis pesantren akan dituangkan dalam beberapa program.

Antara lain, rencana penerapan busana muslim bagi guru dan siswa setiap Jumat. Kemudian, pemisahan antara kelas putra dan kelas putri. ”Setiap hari sebelum pelajaran, siswa bersama-sama membaca salawat nabi, asmaul husna, dan Yasin,” jelas Edy Suprayitno.

Kebijakan lainnya yakni mewajibkan sekolah menyediakan buku-buku berkonten lokal. Mulai dari buku sejarah, budaya, kesenian Sumenep, dan sebagainya. Hal itu guna meningkatkan pengetahuan siswa akan daerahnya sendiri. Buku-buku berkonten lokal akan memguatkan karakter anak didik. Mereka bisa paham tentang diri sendiri, lingkungan, dan sejarah nenek moyangnya.

”Setiap Selasa guru dan siswa wajib berbahasa Madura di lingkungan sekolah,” jelasnya. ”Ada pula program minggu budaya yang diselenggarakan setiap dua bulan sekali pada saat car free day,” tegasnya.

Yang tak kalah penting, mulai tahun depan Disdik Sumenep akan memberlakukan lima hari akademik dan satu hari nonakademik. Artinya, siswa hanya akan belajar di dalam kelas mulai Senin sampai Jumat, sedangkan Sabtu menjadi hari bebas.

Setiap Sabtu tidak ada ada atribut sekolah. Siswa juga tidak diwajibkan memakai seragam sekolah. Sabtu akan menjadi hari yang menyenangkan bagi siswa.

”Setiap Sabtu siswa datang ke sekolah untuk main sesuai dengan hobinya,” jelas pria yang masuk nomine tokoh pendidikan populer Madura Awards 2018 itu. ”Sembari bermain, siswa akan diperkenalkan dengan lingkungan sosial. Mulai ke kelurahan, desa, sawah, peternakan, dan lainnya,” tukas Edy Suprayitno. 

(mr/mam/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia