Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Esai

Belajar dari Terpuruknya Rupiah

Oleh M. Wahyudin Setiawan

16 Desember 2018, 16: 45: 16 WIB | editor : Abdul Basri

Belajar dari Terpuruknya Rupiah

Share this      

"Kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS saat ini yang tembus di angka Rp 15.065 dianggap sebagai permulaan dari kondisi ekonomi yang bisa lebih berbahaya lagi., Kalau kita tidak siap karena impor yang terus banjir, rupiah Rp 15 ribu ini baru permulaaan saja," ungkap, Rizal Ramli Menteri Bidang Kemaritiman.

Mengapa saya mengambil kutipan diatas karena di artikel ini saya akan membahas tentang Tekanan Rupiah Terpuruk, Dolar Naik. Seperti yang sudah diketahui bahwa sekarang ini mata uang garuda ditransaksikan pada kisaran Rp  15.065 per dolar. Hal ini akan dianggap sebagai permulaan dari kondisi ekonomi yang semakin terpuruk. Hal itu terlihat dari melemahnya nilai tukar Rupiah, belum lagi diperparah dengan adanya rencana kenaikan suku bunga .

Belakangan ini Indonesia di guncang masalah kenaikan nilai mata uang rupiah yang jauh melesat dengan mata uang dolar. Nilai tukar ini mempengaruhi perekonomian dan kehidupan kita sehari-sehari, karena ketika rupiah menjadi lebih bernilai terhadap mata uang asing. Namun dalam sistem yang dianut di Indonesia ini secara tidak langsung masih terdapat campur tangan Bank Indonesia. Ketidakstabilan nilai tukar mata rupiah menandakan lemahnya kondisi untuk melakukan transaksi luar negeri baik itu untuk impor maupun hutang luar negeri. Kenaikan nilai rupiah secara tajam dapat menyebabkan perekonomian Indonesia menjadi goyah.

Perjalanan Nilai Dolar  Dari Tahun Ke Tahun

Rupiah sudah mengalami perjalanan yang panjang sampai dolar AS sampai di kisaran Rp 13.000-an. Pada 25 tahun lalu, dolar AS hanya sebesar Rp 2.000 saja, pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di kisaran Rp 2.000 dengan titik terendahnya di Rp 1.977 per dolar AS pada tahun 1991. Dolar AS bertahan di kisaran Rp 2.000-2.500 karena Indonesia belum menganut rezim kurs mengambang. Orde Baru kala itu tidak mau tahu, dolar AS harus bertahan di level itu,  Sampai terjadi krisis moneter (krismon) dan terjadi pelemahan rupiah yang sangat drastis. Memasuki pertengahan 1997 Indonesia pun meninggalkan sistem kurs terkendali.

Penyebabnya, cadangan devisa Indonesia rontok karena terus-terusan menjaga dolar AS bisa bertahan di Rp 2.000-2.500. Setelah memakai kurs mengambang, dolar AS secara perlahan mulai merangkak ke Rp 4.000 di akhir 1997, lanjut ke Rp 6.000 di awal 1998, setelah sempat mencapai Rp 13.000, dolar AS sedikit menjinak dan kembali menyentuh Rp 8.000 pada April 1998. Namun pada Mei 1998, Indonesia memasuki periode kelam. Penembakan mahasiswa, kerusuhan massa, dan kejatuhan Orde Baru membuat rupiah 'terkapar' lagi. Sampai akhirnya dolar AS menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di Rp 16.650 pada Juni 1998. Pasca Orde Baru, Indonesia mengalami masa reformasi. Kepercayaan investor pun sedikit demi sedikit kembali, dan rupiah mulai menguat kembali. Dolar AS terus melemah, dan mencapai Rp 8.000 pada Oktober 1998. Seiring berjalannya waktu, dolar AS pun kembali menguat, memasuki masa krisis finansial global di 2007 akibat krisis subprime mortgage di AS, nilai tukar rupiah sudah berada di kisaran Rp 9.000-10.000, pelemahan rupiah justru terjadi setelah krisis finansial berakhir dan mata uang negara-negara barat mulai pulih. Sekitar tahun 2009, dolar AS sudah berada di rentang Rp 11.800 hingga di atas Rp 12.000.

Namun berkat pertumbuhan ekonomi RI yang kuat di 2010-2012, rupiah bisa kembali perkasa. Dolar AS pun sempat turun hingga ke Rp 8.500. Sayangnya, Indonesia yang ketergantungan bahan bakar minyak (BBM) harus mengimpor dalam jumlah banyak tiap tahun. Pemerintah juga terus memberi subsidi kepada masyarakat sehingga konsumsi BBM tetap tinggi. Tingginya impor ini memicu neraca perdagangan RI jadi defisit, besar pasak daripada tiang alias terlalu banyak impor ketimbang ekspornya. Akibatnya secara perlahan dolar AS terus menanjak sampai menembus kisaran Rp 12.000 lagi, setelah pergantian rezim dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Presiden Joko Widodo (Jokowi), subsidi BBM pun dicabut supaya Indonesia bisa mengurangi konsumsi minyak dan menekan impor.

Dolar AS sudah menguat sebanyak 7,7% sejak awal tahun ini. Banyak faktor yang bisa menyebabkan pelemahan rupiah ini, mulai dari inflasi yang cukup tinggi hingga rencana The Federal Reserve menaikkan tingkat suku bunga acuan. Posisi tertinggi dolar AS tahun ini berada di Rp 13.440 atau setara saat krismon bulan Agustus 1998. Pada perdagangan hari ini, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/6/2015), dolar AS berada di kisaran Rp 13.340.

Rupiah akhir tahun di kisaran 14.700-14.900 masih berpotensi melemah akibat rencana kenaikan suku bunga. Gejolak Brexit di Eropa juga membuat pelaku pasar beralih ke aset yang lebih aman , Senin (26/11/2018). Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia , rupiah dipatok di angka 14.551 per dolar AS, menguat 1 poin jika dibandingkan dengan patokan 23 November lalu yang ada di angka 14.552 per dolar AS.

Penyebab Rupiah Melemah

Penyebab utama pelemahan rupiah pada tahun ini berkaitan dengan keluarnya dana asing hingga USD 20 miliar dari Indonesia pada 2017. Dana tersebut merupakan repatriasi dari keuntungan perusahaan-perusahaan asing yang ada di Indonesia. Pada tahun lalu, mata uang asing membawa pulang keuntungan yang berhasil mereka dapatkan di Indonesia hingga USD 20 miliar. Jadi sumber rupiahnya memburuk itu bukan karena impornya naik, namun penyebab utamanya adalah repatriasi laba perusahaan asing di Indonesia.

Dampak Nilai Rupiah Yang Melemah

Dampak dari nilai rupiah akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia di semua golongan. Terutama di gologan menengah keatas sedangkan untuk menengah ke bawah belum akan terasa dampaknya karena masih ada kebijakan pemerintah untuk meredam dampak pelemahan rupiah. Contoh dari golongan kebawah yaitu dari  sisi rumah tangga yakni akan adanya kenaikan harga-harga barang, terutama  barang-barang import. Contohnya sekarang harga beras sudah meningkat akibat melemahnya rupiah karena harga beras yang ada di luar negeri lebih rendah dari harga di indonesia. Contoh lain yaitu tempe, akibat melemahnya rupiah yang melemah sekarang tempe-tempe yang ada di pasar ukurannya semakin kecil. Sedangkan untuk golongan keatas yaitu aktivitasnya  berhubungan dengan valuta asing, misalnya usaha ekspor dan impor. Dalam bidang-bidang tersebut, mata uang selain rupiah digunakan untuk membeli bahan baku produksi.

Dampak lain dari menurunnya nilai rupiah adalah Daya beli menurun.  Seperti hal nya yang sudah di jelaskan diatas daya beli akan menurun akibat harga – harga bahan pokok yang semakin tinggi. Jika nilai rupiah terus menerus menurun maka negara indonesia akan mengalami perekonomian yang menurun sehingga kesejahteraan rakyat juga akan menurun.

Solusi Mengatasi Nilai Rupiah Yang Terpuruk

Satu hal yang perlu dilakukan Pemerintah adalah, memangkas impor untuk  memperkuat posisi rupiah. Selama ini Indonesia dibanjiri barang-barang impor. Selama pemerintah belum benar-benar berkomitmen untuk memperbaiki kemandiriian pangan,  impor akan terus-menerus jadi solusi Pemerintah harus terus menerus menekankan pentingnya melakukan transformasi dari sektor konsumsi ke sektor produksi, sehingga akan terjadi penguatan di sektor produksi. Selain itu, Pemerintah harus memperluas ekspor dengan  mencari pasar alternatif untuk eksport. Eksport yang diprioritaskan, adalah hasil pertanian, karena tidak terlalu berdampak terhadap nilai kurs Dolar. Persoalannnya apakah pasar juga merespon hasil hasil pertanian kita, karena daya beli dinegera negara tujuan eksport juga melemah. Masyarakat Indonesia, juga dapat membantu penguatan rupiah, dengan  mencintai produksi dalam negeri, terutama yang kandungan lokalnya lebih tinggi.

Rupiah melemah bukan kejadian baru bagi indonesia. Pada tahun 1997, indonesia sudah mengalami kejadian ini. Namun, hal tersebut tidak menjadikan pemerintah untuk berbenah. Seharusnya kondisi-kondisi di masa lalu dapat dijadikan pengalaman yang berharga dalam menghadapi kondisi yang serupa.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia