Sabtu, 23 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Ngaku Ditipu hingga Rp 77,3 Juta

Warga Masalembu Laporkan ASN ke Bupati

15 Desember 2018, 13: 31: 22 WIB | editor : Abdul Basri

KECEWA: Sahifurrahman (baju putih) melaporkan ASN Dinas Perikanan Mohammad Ramdan ke bupati Sumenep kemarin. Surat tersebut diterima staf di rumah dinas bupati.

KECEWA: Sahifurrahman (baju putih) melaporkan ASN Dinas Perikanan Mohammad Ramdan ke bupati Sumenep kemarin. Surat tersebut diterima staf di rumah dinas bupati. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

SUMENEP – Sahifurrahman, warga Desa Sukajeruk, Kecamatan Masalembu, terpaksa melayangkan surat ke Bupati Sumenep A. Busyro Karim Jumat (14/12). Dia melaporkan seorang aparatur sipil negara (ASN) Mohammad Ramdan yang kini bekerja di Dinas Perikanan Sumenep atas tuduhan penipuan. Angka penipuan yang dituduhkan mencapai Rp 77,3 juta dengan modus transaksi jual beli tanah.

Rahman, sapaan akrabnya, mendatangi rumah dinas bupati di Jalan Jenderal Sudirman sekitar pukul 14.00. Tapi sayang, orang nomor satu di Kota Keris itu sedang istirahat dan tidak bisa diganggu. Terpaksa dia hanya menitipkan surat kepada staf yang bertugas di rumah dinas bupati.

Rahman menceritakan, awal 2017 Mohammad Ramdan menawarkan satu kavling tanah ukuran 10 x 20 meter di Desa Kacongan, Kecamatan Kota Sumenep. Tanah tersebut dipatok Rp 100 juta. Saat itu Rahman memang sedang butuh tanah untuk dibangun rumah.

Tanah yang hendak dijual itu lebih dari 1 kavling. Bukti sertifikat tanah juga ditunjukkan oleh Ramdan kepada Rahman. Tanah yang hendak dijual sebenarnya bukan milik Ramdan, melainkan milik Suhaimatun. Hanya Ramdan melarang Rahman menemui Suhaimatun langsung dengan alasan seluruh kavlingan tanah akan dibeli oleh Ramdan.

”Saudara Mohammad Ramdan minta bayaran terlebih dahulu dan berjanji akan menyelesaikan transaksinya beserta semua surat-suratnya setelah Idul Fitri 2017,” kata Rahman.

Rahman melakukan pembayaran tanah tersebut secara bertahap. Hingga pada akhirnya uang yang masuk ke Ramdan sebesar Rp 77,3 juta. Kekurangannya akan dibayarkan setelah sertifikat tanah diserahkan kepada Rahman.

Akan tetapi, setelah uang diterima, ternyata Ramdan tidak menyelesaikan transaksi beserta semua surat-surat dimaksud pada waktu yang telah dijanjikan. Ketika ditanya secara kekeluargaan, yang bersangkutan berbelit-belit. Bahkan, Rahman mencium aroma tidak baik dari Ramdan. Buktinya, hingga saat ini Ramdan tidak mengembalikan uang yang sudah dibayar oleh Rahman.

”Sekalipun pada 10 Juli 2018 telah menyepakati surat perjanjian untuk dikembalikan (mengembalikan uang Rp 77,3 juta, Red),” tambahnya.

Dikonfirmasi terpisah, Ramdan mengaku memang ada transaksi jual beli tanah dengan Rahman. Sertifikat tanah tidak diserahkan karena masih berada di pemilik tanah. Pemilik tanah tidak mau menerima kalau hanya satu kavling yang terjual. ”Total tanahnya itu sekitar seribu meter persegi,” kata Ramdan saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Madura (JPRM).

Dari seribu meter itu akan dijual keseluruhan oleh Suhaimatun melalui Mohammad Ramdan. Ramdan kemudian memetakannya menjadi beberapa kavling. Satu kavling dibeli oleh Rahman.

Pemetaan tanah ini, jelas Ramdan, juga berdasarkan kesepakatan dengan Rahman. Sesuai kesepakatan, sisa tanah yang sudah dikavling itu akan dijual ke orang lain. Kedua belah pihak sama-sama mencari orang untuk membeli tanah milik Suhaimatun.

Akan tetapi, hingga saat ini rupanya tidak ada yang bersedia membeli tanah sisa dari yang sudah dikavling oleh Rahman. Sementara Ramdan mengaku tidak punya uang untuk membeli keseluruhan. Sebab, tanah tersebut ditaksir mencapai Rp 300 juta lebih.

Masalahnya, uang yang diterima dari Rahman telah dihabiskan oleh Ramdan. Uang tersebut tidak dibayarkan kepada pemilik tanah. Alasannya, pemilik tanah tidak mau kalau hanya sebagian yang terjual.

Ramdan tidak menjelaskan secara detail untuk apa uang Rp 77,3 juta itu. Yang jelas menurutnya uang tersebut dipakai untuk kebutuhan sehari-hari. ”Dipakai untuk kebutuhan pribadi,” tegasnya.

Ramdan mengaku bersedia mengembalikan uang yang telah dihabiskannya itu. Bahkan, dia telah menawarkan rumah pribadinya di Desa Pabian, Kota Sumenep, untuk dijual. Akan tetapi, menurutnya, Rahman tidak mau dengan usulan tersebut.

Sementara itu, Sekkab Sumenep Edy Rasiyadi mengaku belum mengetahui kronologi dugaan penipuan yang dilakukan oleh ASN tersebut. Tetapi dia berharap agar perkara itu diselesaikan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Paling tidak, atasan Mohammad Ramdan bisa melakukan mediasi.

”Kalau tidak dipertemukan kan belum jelas duduk perkaranya seperti apa. Kedua belah pihak perlu dimintai keterangan,” sarannya.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia