Jumat, 15 Nov 2019
radarmadura
icon featured
Features
Cerita Muh. Syarif, Rektor UTM Dua Periode

Semasa Kuliah Jualan Jamu, Sami’na wa Atho’na kepada Orang Tua

14 Desember 2018, 07: 00: 59 WIB | editor : Abdul Basri

ZERO TO HERO: Rektor UTM Muh. Syarif berbincang dengan wartawan Jawa Pos Radar Madura.

ZERO TO HERO: Rektor UTM Muh. Syarif berbincang dengan wartawan Jawa Pos Radar Madura. (RYAN TRI INDRAWAN/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN - Semasa kuliah, Muh. Syarif berjualan batik dan jamu. Siapa sangka, pria asal Sampang itu kini menjadi rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Untuk periode kedua pula.

Jawa Pos Radar Madura sengaja datang siang hari ke UTM, Selasa (11/12). Sebab pagi harinya dilaksanakan sidang tertutup senat bersama Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk pemilihan rektor UTM  periode 2018–2022.

Kaki melangkah menuju ruangan Humas UTM di lantai dasar Graha Utama. Tak lama derada di situ, Kasubbag Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat UTM Taufiqurahman Hasbullah mengajak menuju lantai V menggunakan lif. Lantai V Graha Utama merupakan ruangan rektor UTM  Muh. Syarif.

”Wa’alaikumsalam,” ucap Syarif menjawab salam koran ini. Dia mempersilakan masuk dan meminta duduk pada sofa di sampingnya. Saat berada di ruangan Pembina Angkatan Muda Putera Madura Indonesia itu, sudah ada beberapa awak media.

Syarif yang juga menjabat Penasihat Himpunan Masyarakat Petani Garam (HMPG) Jatim begitu ramah melayani awak media. Wawancara dilakukan dengan santai. Tidak ada batasan antara pucuk pimpinan UTM itu dengan awak media. Wartawan lebih dominan menanyakan proses pelaksanaan pemilihan rektor UTM periode 2018–2022.

Dewan Ahli Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Cabang Bangkalan itu mulai menjelaskan. Dia keluar sebagai pemenang pemilihan rektor UTM dengan dukungan 28 suara. Posisi kedua ditempati mantan Dekan FEB UTM Muhammad Nizarul Alim dengan 12 suara. Posisi ketiga yakni Dekan Fakultas Pertanian UTM Slamet Subari dengan 3 suara.

Saat awak media mulai merasa cukup dengan wawancara tentang pemilihan rektor UTM periode 2018–2022, Jawa Pos Radar Madura mengalihkan materi pada perjalanan hidup Wakil Ketua LPTNU PWNU Jawa Timur itu. Pria kelahiran Sampang, 30 November 1963 dari pasangan almarhum Muhammad Syafiuddin dan almarhumah Siti Maryam itu pun semangat memaparkan.

Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Bangkalan ini lahir dari bapak yang berprofesi sebagai PNS di Sampang. Sementara ibunya hanya ibu rumah tangga. Dia anak pertama dari empat bersaudara.

Dewan Pembina PB PMII Masa Khidmat 2014–2017 mengenyam pendidikan di SDN Dalpenang 1 Sampang lulus pada 1976. Kemudian, SMPN 1 Sampang lulus 1979 dan SMAN Sampang lulus 1982.

Mustasyar MWC NU Kamal ini melanjutkan pendidikannya di Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Jember (Unej). Dia memperoleh gelar sarjana ekonomi pada 1988. Saat kuliah di Unej itulah dia sambil berjualan batik, jamu, dan miniatur celurit.

Dia kulakan barang-barng itu di Madura. Kemudian dijual kembali di kawasan Kota Jember. Keuntungan dari jualan batik, jamu, dan miniatur celurit digunakan sebagai biaya kuliah dan biaya hidup. Uang kiriman dari orang tua hanya cukup untuk 15 hari.

Sebab, orang tua Syarif masih memberi nafkah dan biaya pendidikan bagi ketiga adiknya. Lulus dari Unej dia diterima sebagai dosen di Universitas Bangkalan (Unibang). Unibang kini sudah berubah menjadi UTM.

Tahun 1990 Syarif menikah dengan Hera Wati Nurdiana dan dikaruniai dua anak. Anak pertamanya Muhammad Ersya Faraby lahir tahun 1991. Sekarang berprofesi sebagai karyawan swasta di Surabaya. Sibungsu Firza Raghda Faradiba lahir pada 1997. Sekarang masih kuliah di Unair Surabaya.

Tahun 1997 Syarif menyelesaikan pendidikan Pascasarjana Ilmu Manajemen Universitas Airlangga. Dalam kurun waktu 13 tahun, sejak 1988 hingga 2001, selain menjadi dosen, Dewan Pertimbangan PW IKA PMII Jawa Timur ini juga pernah menjabat Pembantu Dekan Fakultas Ekonomi Unibang.

Berdasarkan Keputusan Presiden 5 Juli 2001, UTM diresmikan menjadi perguruan tinggi negeri (PTN) ke-7 di Jawa Timur oleh Presiden Abdurrahman Wahid. Unibang berubah menjadi UTM. Peralihan dari perguruan tinggi swasta (PTS) menjadi PTN disambut sukacita masyarakat Madura. Dari situlah karir Syarif mulai meroket.

Periode 2002–2007, Syarif yang sedikitnya memiliki 34 riwayat penelitian dipercaya sebagai Pembantu Rektor II UTM. Periode 2013–2014 dia mendapatkan mandat sebagai Pembantu Rektor III UTM. Tahun 2013 Syarif merampungkan Program Doktor Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair Surabaya.

Tahun 2014 dia yang sedikitnya memiliki 18 riwayat pelatihan atau workshop mencalonkan diri dalam pemilihan rektor dan keluar sebagai pemenang. Warga Perumnas, Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal ini menjabat rektor UTM 2014–2018. Tahun ini Syarif juga mencalonkan lagi dan berhasil menang. Dia ditetapkan menjabat rektor UTM periode 2018–2022.

Syarif bersyukur lahir dari keluarga yang sangat peduli terhadap pendidikan. Kedua orang tuanya tegas dalam mendidik anak-anaknya. Syarif dan ketiga saudaranya harus menjalani rutinitas sesuai aturan kedua orang tua.

Pagi hingga siang hari harus sekolah formal. Yaitu SD, SMP, dan SMA. Siang harus sekolah madrasah dan malamnya wajib mengaji di kediaman kiai kampung. Sepulang mengaji harus belajar, lalu tidur. Aktivitas rutin itu dilakukan selama belasan tahun di Sampang. ”Pendidikan orang tua luar biasa. Jadi ada korelasi bagus antara orang tua, guru, dan kiai,” katanya.

Waktu itu, sambung Syarif, serba sederhana merupakan hal biasa. Tidak ada mainan modern dan teknologi secanggih saat ini. Dengan kondisi serba biasa dan kesederhanaan itu, kemudian ditopang ketegasan orang tua mendidik anak, membentuk karakter agamais, jujur, berkomitmen, dan bertanggung jawab.

Syarif mengajak generasi muda sami’na wa atho’na kepada kedua orang tua, tokoh panutan seperti guru, ustad, kiai, ulama, dan kepada rato atau pemerintah. Agar terbentuk menjadi generasi berkarakter agamais, jujur, berkomitmen, dan bertanggung jawab.

Selalu bersemangat dan konsisten belajar penting dimiliki generasi muda agar menjadi insan intelektual berakhlakul karimah. Yang berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. ”Kalau kita menanam kebaikan, akan menuai kebaikan,” tutupnya.

(mr/bam/hud/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia