Selasa, 19 Mar 2019
radarmadura
icon-featured
Sportainment

Kompetisi Seksi bagi Mafia

Ada Benalu di Tubuh PSSI

14 Desember 2018, 00: 40: 41 WIB | editor : Abdul Basri

BERMAIN BERMARTABAT: Salah seorang penggawa Madura FC (kaus hijau) berusaha tetap mengontrol bola dari gangguan pemain Madura United.

BERMAIN BERMARTABAT: Salah seorang penggawa Madura FC (kaus hijau) berusaha tetap mengontrol bola dari gangguan pemain Madura United. (MADURA FC FOR RadarMadura.id)

SUMENEP – Manajer Madura FC Januar Herwanto tergolong baru di dunia sepak bola Indonesia. Namun sejak beberapa hari terakhir, namanya menjadi perbincangan publik sepak bola tanah air. Hal itu tidak lepas dari keberaniannya membongkar dugaan adanya praktik pengaturan skor di Liga 2.

Di salah satu televisi nasional, dia menyatakan salah satu oknum Exco PSSI meminta timnya mengalah saat menjalani laga tandang menghadapi PSS Sleman. Sebagai kompensasinya, dia dijanjikan sejumlah uang. Namun, permintaan itu ditolak tegas. Pernyataan itu membuat mata publik terbuka.

Namun, bagi Januar, tindakan yang dilakukannya merupakan hal biasa. ”Jadi, saya belum terkontaminasi. Mengungkap hal itu sepertinya adalah hal biasa, tidak membutuhkan keberanian yang sangat tinggi. Ini hanyalah kejadian. Saya melontarkan apa yang saya alami,” ungkapnya.

Bagi Januar, apa yang dilakukan adalah hal sederhana. Sebab, masalah pengaturan skor sudah menjadi rahasia umum. Masalah itu menjadi luar biasa karena selama ini tidak ada yang berani menceritakan sevulgar dirinya. Sebagai orang yang terlibat langsung dalam proses tawaran pengaturan skor itu, dia merasa lega.

Januar menganggap terdapat benalu dalam federasi sepak bola Indonesia, yakni PSSI. Seharusnya PSSI lebih waspada. ”Ironisnya, yang menemukan ini adalah saya dan Madura FC yang baru berumur dua tahun. Mestinya, PSSI bisa menemukan benalu dalam dirinya sendiri,” jelas pria asal Sumenep itu.

Menurut Januar, Liga 2 adalah kompetisi paling seksi bagi mafia. Sebab, banyak pertandingan yang tidak live. Bahkan, pertandingan live juga kerap dimainkan. ”Bagaimana coba kami dikerjai oleh wasit sampai diganti saat melawan PSS Sleman. Kan ironis produk kita di Liga 2 itu hasil juara didapat dari sesuatu yang seperti itu. Sekarang gol top scorer ternyata banyak penalti,” tuturnya.

Kabar terkait Mafia itu sebenarnya sudah lama diketahui. Namun, beberapa laporan yang dikirimkan ke pihak Komdis PSSI terkait keanehan di laga lawan Sleman tak ditanggapi. ”Itu sebenarnya sudah lama. Cuma menunggu blow up media, jadi akhirnya muncul,” ungkap Januar. 

(mr/dam/han/bas/JPR)

Alur Cerita Berita

Jawa Pos Digital
E-Paper
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia