Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Pasar Kumuh Hambat Penghargaan Adipura

12 Desember 2018, 15: 17: 28 WIB | editor : Abdul Basri

KUMUH: Warga berada di Pasar Srimangunan, Sampang, Senin (10/12).

KUMUH: Warga berada di Pasar Srimangunan, Sampang, Senin (10/12). (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Sejak 2014, Kabupaten Sampang tidak meraih penghargaan Adipura. Salah satu kendalanya, pengelolaan kebersihan pasar tradisional belum maksimal.

”Mudah-mudahan tahun ini bisa terima Adipura, kita masih optimistis meraihnya,” kata Kabid Penataan dan Pengelolaan Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sampang Moh. Zainullah.

Berhasil dan tidaknya meraih penghargaan tersebut, kata Zainullah, tidak hanya menjadi tanggung jawab lembaganya. Semua organisasi perangkat daerah (OPD) terkait harus bahu-membahu menciptakan lingkungan yang bersih. Terutama di tempat pelayanan dan pusat perbelanjaan.

”Kebersihan pasar tradisional menjadi salah satu kategori yang masuk dalam penilaian untuk meraih penghargaan Adipura,” terangnya.

Zainullah tidak menampik kebersihan pasar tradisional sangat rendah. Lingkungan pasar kotor dan banyak fasilitas persampahan yang tidak dimanfaatkan dengan baik.

Kondisi paling parah yaitu kebersihan Pasar Srimangunan. Padahal, pasar tersebut merupakan pasar terbesar dan menjadi ikon pasar tradisional di Kota Bahari. Pihaknya sudah meminta kepada pihak pengelola pasar agar serius menjaga kebersihan pasar.

”Harus ada sinergitas dan komitmen dari semua pihak. Terutama terkait dengan pengelolaan kebersihan pasar. Dengan begitu, nilai Adipura meningkat dan memenuhi standar,” paparnya, Senin (10/12).

Sementara itu, Kepala Pasar Srimangunan Nanik Herawati tidak menampik bahwa kebersihan pasar yang dipimpinnya belum maksimal. Namun, saat ini pihaknya sudah memiliki dua unit kontainer Sampah yang ditempatkan di halaman belakang Pasar Srimangunan sisi barat dan timur.

Setiap pukul 14.00 petugas membersihkan sampah di dalam dan di luar pasar. Kemudian, sebagian sampah dimasukkan ke kontainer itu. ”Sampah kering kami masukkan ke kontainer. Untuk sampah basah langsung diangkut atau dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA),” tegasnya.

Pihaknya sangat terbantu dengan keberadaan alat tersebut. Banyak sampah berserakan di lingkungan pasar karena tempat sampah terbatas, tidak sebanding dengan volume sampah dari pedagang.

”Dengan alat itu, tidak akan ada sampah yang menumpuk baik di dalam maupun di luar pasar,” tandasnya. (nal/onk)

(mr/nal/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia