Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Disperta Klaim Persediaan Pupuk Bersubsidi Aman

Dewan Minta Pengawasan Diperketat

11 Desember 2018, 00: 44: 59 WIB | editor : Abdul Basri

SEMOGA TUMBUH SUBUR: Petani menanam padi di lahan pertanian Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang.

SEMOGA TUMBUH SUBUR: Petani menanam padi di lahan pertanian Desa Tanggumong, Kecamatan Sampang. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Para petani di Kabupatan Sampang tidak perlu khawatir tidak menemukan pupuk bersubsidi. Dinas pertanian (disperta) memastikan persediaan pupuk bersubsidi bisa memenuhi kebutuhan petani selama musim tanam.

Data yang dihimpun RadarMadura.id, tahun ini Sampang mendapat jatah 30.264 ton pupuk bersubsidi. Perinciannya, pupuk urea 19.872 kilogram (kg), SP-36 4.993 kg,  ZA 2.081 kg, NPK 2.336 kg, dan pupuk organik 1.082 kilogram.

Hal itu disampaikan Kabid Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Sampang Suyono. ”Kuota pupuk bersubsidi tahun ini cukup untuk memenuhi kebutuhan petani selama masa tanam,” klaimnya Minggu (9/12).

Pihaknya mengaku sudah berkoordinasi dengan 85 kios dan empat distributor pupuk resmi. Puluhan kios tersebut diawasi oleh tim Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida (KPPP) yang terdiri dari penyuluh pertanian, TNI, dan polisi.

Pengawasan yang dilakukan berkaitan dengan pengadaan, peredaran, penyimpanan, dan penggunaan pupuk. Termasuk, harga pupuk subsidi di masing-masing wilayah. Suyono meminta agar petugas di kios aktif melakukan verifikasi dan pendataan stok pupuk. Apabila terjadi kekurangan segera melapor ke dinas.

Dia menerangkan, harga pupuk bersubsidi lebih murah jika dibandingkan pupuk nonsubsidi. Untuk pupuk urea Rp 94 ribu per sak. Sementara nonsubsidi Rp 200 ribu per sak. Untuk harga eceran, subsidi Rp 6 ribu per kilogram dan nonsubsidi Rp 18 ribu per kilogram. ”Termasuk harga jenis pupuk subsidi lainnya. Itu berlaku di semua kios atau distributor,” ucapnya.

Untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk bersubsidi, kios dan distributor resmi diminta bersama-sama mengendalikan dan memperketat terhadap permintaan pupuk oleh petani. Mereka diwanti-wanti untuk tidak melayani petani dari luar daerah yang ingin membeli pupuk.

”Karena itu bisa merugikan pemkab dan petani. Kalau sampai terbukti, akan kami tindak,” ujarnya.

Pria asal Banyuwangi itu meminta agar petani tidak selalu tergantung pada pupuk jenis urea dan SP-36. Sebab, pupuk jenis lain seperti NPK, ZA, dan organik juga baik dan bagus untuk meningkatkan hasil produksi padi. Pihaknya berharap petani bisa mengubah kebiasaan ketergantungan pada satu jenis pupuk.

”Menanam apa pun, penggunaan pupuk organik harus ditambah. Agar tanaman bisa tumbuh subur dan menghasilkan produksi dengan kualitas bagus,” kata Suyono.

Pihaknya juga mengimbau supaya petani bisa menggunakan pupuk bokashi. Selama ini pupuk tersebut banyak diproduksi oleh kelompok petani (poktan) di Sampang. Setiap tahun hasil produksi pupuk mencapai empat ribu ton. Biasanya selain digunakan sendiri, poktan juga menjual kepada petani lain.

”Kualitas pupuk organik sama dengan pupuk pabrikan. Harganya juga jauh lebih murah sehingga bisa lebih menghemat biaya produksi,” ungkapnya.

Anggota Komisi III DPRD Sampang Sohebus Sulton membenarkan bahwa persediaan pupuk bersubsidi di dinas pertanian bisa mencukupi kebutuhan petani. Meski demikian, dirinya meminta agar dinas terkait bisa maksimal mengawasi pendistribusian pupuk, mulai dari kios hingga ke petani.

”Supaya tidak ada permainan di bawah. Karena ini berkaitan dengan kesejahteraan petani,” kata politikus Gerindra itu. 

(mr/nal/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia