Kamis, 12 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Hukum & Kriminal

Kejari Tunggu Tanggal Bagus, Untuk Pelimpahan Berkas Dua Kasus Korupsi

10 Desember 2018, 11: 34: 50 WIB | editor : Abdul Basri

Kejari Tunggu Tanggal Bagus, Untuk Pelimpahan Berkas Dua Kasus Korupsi

Share this      

SUMENEP – Menjelang peringatan Hari Antikorupsi Internasional, Kejaksaan Negeri (Kejari) Sumenep menahan empat tersangka dua kasus dugaan korupsi berbeda. Empat tersangka saat ini masih mendekam di Rutan Kelas II-B Sumenep. Belum ada kepastian kapan kejari akan melimpahkan berkas dua kasus tersebut ke pengadilan tindak pidana korupsi (tipikor) di Surabaya.

Empat tersangka yang kini mendekam di penjara yakni Babur Rahman, Koko Andriyanto, Hazmi Asyari, dan Fedryan Ariesandi Hermansyah. Babur dan Koko ditahan atas kasus dugaan korupsi proyek Pasar Pragaan yang dibiayai DAK APBD Sumenep 2014 senilai Rp 2,4 miliar. Sementara Hazmi dan Fedryan ditahan atas perkara dugaan korupsi pemeliharaan Jalan Sonok–Karang Tengah, Kecamatan Gayam yang dibiayai APBD Sumenep 2018 sebesar Rp 925,4 juta.

Kasipidsus Kejari Sumenep Herpin Hadat mengatakan, empat tersangka akan mendekam di penjara selama dua puluh hari. Selisih penahanan tersangka kasus pertama dengan kasus kedua hanya satu hari. Babur dan Koko ditahan sejak Rabu (5/11), sedangkan Hazmi dan Fedryan ditahan mulai Kamis (7/11).

Herpin menjelaskan, kasus dugaan korupsi tersebut nantinya akan dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Surabaya. Tapi, dia tidak bisa memastikan waktu secara pasti. Sebab, butuh persiapan khusus untuk pelimpahan berkas perkara tersebut. ”Tunggu tanggal bagus,” katanya singkat.

Ditanya mengenai tanggal bagus tersebut? Pria yang suka memotong rambutnya dengan model mohawk itu belum bisa memastikan. Pihaknya masih perlu koordinasi terlebih dahulu dengan Pengadilan Tipikor Surabaya. ”Kan masih ada waktu dua puluh hari ke depan,” tegasnya.

Herpin tidak bisa dikonfirmasi lebih panjang. Kemarin dia mengaku sedang menghadiri kegiatan peringatan Hari Antikorupsi Internasional di Surabaya. Dia meminta agar koran ini mengonfirmasi ulang hari ini.

Untuk diketahui, modus operandi tersangka dua kasus dugaan korupsi tersebut berbeda-beda. Babur diduga melakukan korupsi dengan cara mengerjakan proyek tidak sesuai rencana anggaran belanja (RAB) yang tercantum dalam kontrak. Sementara Koko yang bertindak sebagai konsultan pengawas pada proyek tersebut bermaksud melindungi Babur dengan mengatakan bahwa pekerjaan Pasar Pragaan sudah sesuai dengan spesifikasi teknis, volume, dan RAB. Padahal faktanya berbanding terbalik dengan yang disampaikan Koko.

Modus berbeda dilakukan oleh Hazmi Asyari dan Fedryan Ariesandi Hermansyah. Keduanya merupakan kontraktor pemenang tender proyek pemeliharaan berkala Jalan Sonok–Karang Tengah senilai Rp 925,4 juta. Hazmi merupakan direktur CV 3 Putri sedangkan Fedryan merupakan penerima kuasa direktur.

Hazmi dan Fedryan sudah mengambil uang muka sebesar 30 persen dari total nilai tender, yakni sekitar Rp 247,4 juta. Tapi hingga masa kontrak habis, pekerjaan fisik tidak dilakukan. Ironisnya, uang muka yang sudah diambil dipakai untuk keperluan pribadi.

(mr/mam/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia