Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sampang

Disporabudpar Hapus Dua Tempat Wisata

Penyelesaian Sengketa Lahan Buntu

28 November 2018, 16: 25: 04 WIB | editor : Abdul Basri

DIHAPUS DARI KALENDER WISATA: Pemuda berada di wisata Goa Lebar, Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang.

DIHAPUS DARI KALENDER WISATA: Pemuda berada di wisata Goa Lebar, Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang. (ZAINAL ABIDIN/RadarMadura.id)

Share this      

SAMPANG – Pemkab Sampang sudah mengeluarkan dana Rp 1,6 miliar untuk program pengembangan tempat wisata. Namun, dinas pemuda, olahraga, kebudayaan, dan pariwisata (disporabudpar) justru menghapus dua objek wisata alam dari kalender kunjungan wisata. Alasannya, lahan wisata tersebut berstatus sengketa.

Yakni, wisata Goa Lebar di Kelurahan Dalpenang, Kecamatan Sampang dan pemandian Sumber Otok di Desa Taddan, Kecamatan Camplong. Sejak 2015 sampai 2018 pembebasan lahan di wisata tersebut tak kunjung selesai.

Kepala Disporabudpar Sampang Aji Waluyo mengatakan, proses pembebasan lahan dua wisata tersebut tidak mudah. Beberapa upaya yang selama ini dilakukan selalu gagal. Karena itu, pihaknya belum bisa mengelola dan mengembangkan wisata dengan maskimal.

Sengketa lahan di lokasi wisata tersebut berjalan lama dan masuk ke meja pengadilan. Namun, hingga saat ini belum ada keputusan jelas. Berulang-ulang upaya mediasi dengan warga pemilik lahan selalu buntu.

”Lahan di wisata Goa Lebar hanya 20 persen yang dimiliki pemkab. Selebihnya milik masyarakat. Kalau lahan Sumber Otok diklaim milik warga,” ungkap dia Selasa (27/11).

Kini pihaknya angkat tangan untuk mengurus pembebasan lahan di lokasi tersebut. Sebab, harga tanah yang dipatok warga yang mengaku pemilik lahan sangat mahal dan berada di atas nilai jual objek pajak (NJOP). Lembaganya memilih mundur dan tidak berani mengambil risiko.

Diporabudpar sudah berkoordinasi dengan tokoh masyarakat dan kepala desa (Kades) atau lurah setempat. Mereka sudah menyerah dan tidak bisa membantu lantaran pemilik lahan tetap kukuh pada keputusannya.

”Kami sudah menghapus wisata Goa Lebar dan kolam Sumber Otok dari kelender kunjungan wisata. Jadi kami sudah tidak mempunyai tanggung jawab apa-apa mengenai tempat wisata itu,” bebernya.

Tahun ini lembaganya fokus mengembangkan sejumlah wisata yang lahannya tidak bermasalah. Terutama objek wisata yang masuk Visit Madura. Meliputi wisata Pantai Camplong; Air Terjun Toroan, Ketapang; Pantai Lon Malang, Sokobanah; dan Hutan Kera Nepa, Banyuates.

Kemudian, situs Makam Rato Ebu, Kampung Madegan, Kelurahan Polagan, Sampang. Lalu, Makam Sayyid Ustman, Makam Pangeran Santo Merto, dan tujuh sumur petilasan Pangeran Panji Laras yang juga berada di Kampung Madegan.

”Pengelolaan dan pengembangan wisata religi akan kami maksimalkan. Karena daya tarik terhadap pengunjung cukup tinggi. Setiap tahun rata-rata minimal ada sekitar dua ribu pengunjung,” terangnya.

Sementara itu, Mustofa, 44, pemilik lahan wisata Sumber Otok mengatakan, dia memang tidak pernah berniat untuk menjual lahan tersebut. Karena lahan itu merupakan warisan keluarga.  

Sebelum dibangun oleh pemerintah, kolam itu sudah ada sejak puluhan tahun lalu. ”Kami hanya ingin semua masyarakat bisa menikmati kolam tersebut dengan gratis, dan itu sudah amanah dari sesepuh keluarga,” tegasnya. 

(mr/nal/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia