Senin, 16 Sep 2019
radarmadura
icon featured
Catatan

Sulap Pulau Garam Jadi Ladang Jagung

Oleh: Bahrul Ulum

24 November 2018, 11: 34: 41 WIB | editor : Abdul Basri

Bahrul Ulum Wartawan Jawa Pos Radar Madura.

Bahrul Ulum Wartawan Jawa Pos Radar Madura. (Ilustrasi)

Share this      

MADURA disebut sebagai Pulau Garam. Dengan sebutan Pulau Garam, seharusnya di segala penjuru mata angin ditemukan tambak garam dan pengembangan turunannya. Seperti pabrik garam konsumsi alias garam asin yang sering dinikmati.

Selain pabrik garam konsumsi, seharusnya ada juga pabrik garam produksi. Seperti garam bahan dasar infuse serta garam untuk campuran pembuatan kain dan kertas. Ataupun campuran bahan-bahan kebutuhan produk lainnya. Sebab, garam produksi banyak dibutuhkan sebagai bahan campuran produk lain.

Kenapa Madura hanya bisa memproduksi garam tanpa bisa mengembangkan turunannya? Jika ada beberapa pabrik garam besar di Madura pasti mampu menyerap tenaga kerja banyak. Sehingga meningkatkan taraf hidup orang banyak.

Kita ambil contoh. Biar tidak dikira omdong (omong doang). Madura bisa mengkiblatkan Kota Batu. Kota Batu dikenal sebagai Kota Apel. Kota dingin ini menunjukan jati diri sebagai penghasil buah apel. Julukan itu dibuktikan dengan melimpahnya produksi buah apel.

Kota Batu juga mengembangkan industri turunannya. Seperti memproduksi keripik apel, selai apel, sirup apel serta kue dan roti berbahan dasar apel. Bahkan untuk menarik konsumen, bungkus industri turunan itu dikemas sangat menarik.

Sekarang kembali fokus bahas Madura. Sebenarnya, selain penghasil garam, masih banyak potensi Madura sesuai resource base. Universitas Trunojoyo Madura (UTM) telah petakan enam klaster potensi unggulan Madura.

Pertama, garam dan  tembakau. Kedua, pangan (jagung, singkong, tebu, sapi, hasil laut). Ketiga, energi dan migas. Keempat, pendidikan (formal dan nonformal). Kelima, tenaga kerja dan wanita. Terakhir, pariwisata dan ekonomi kreatif (seni, bahasa, budaya, jamu, batik, kuliner, infrastruktur, tata ruang, lingkungan, pulau-pulau kecil, teknologi).

Selain garam, Madura sangat kaya sumber daya alam (SDA). Sampai di sini mau bahas potensi selain garam, he he he. Sekarang bahas produksi pangan berupa jagung. UTM telah melakukan riset jagung.

Hasilnya, riset menemukan enam varites jagung unggulan. Hasil penemuan varietas jagung diberi nama Madura satu hingga Madura enam. Bahkan, varietas jagung Madura satu dan dua sudah menapatkan lisensi resmi dari Kementerian Pertanian pada 2016.

Salah satu keunggulan paling mencolok jagung Madura 1 dan 2 yakni, jika jagung biasa ditaman di lahan 1 hektare hanya bisa memproduksi sekitar 2,7 ton. Jika jagung Madura 1 dan 2 ditanam di lahan seluas 1 hektare, hasilnya sekitar 7 ton. Dua kali lipat lebih.

Jika empat kabupten masing-masing bersedia menyiapkan lahan seluas 75.000 hektare, lahan tersedia untuk produksi jagung di Madura 300.000 hektare. Dengan begitu, Pemkab Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep harus membuat perda terkait sistem sewa lahan atau bagi hasil dengan pemilik lahan.

Sehingga dalam penggunaan lahan, warga tidak dirugikan. Kemudian untuk memproduksi jagung skala besar setiap kabupaten harus menunjuk BUMD untuk mengelola. Jika luas lahan 300.000 hektare kali 7 ton, hasilnya 2.100.000 ton jagung.

Ini hasil satu kali produksi. Katakanlah setahun ada dua kali produksi jagung. Hasilnya 4.200.000 ton jagung. Anggap saja harga jagung Rp 5.000 per kilogram. Kalikan 4.200.000 ton atau 4.200.000.000 kilogram. Hasilnya mencapai Rp 21 triliun.

Katakanlah keuntungan yang diperoleh 20 persen dari Rp 21 triliun untuk biaya garap. Seperti pembelian benih, sewa lahan, biaya penanaman seperti membajak lahan, menyiram, dan pemberian pupuk hingga ongkos panen. Berarti memperoleh keuntungan Rp 4,2 triliun.

Kemudian keuntungan Rp 4,2 triliun dibagi empat kabupaten. Tiap kabupaten memperoleh keuntungan Rp 1,05 trilun. Sementara APBD Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep rata-rata sekitar Rp 2,3 triliun. Dengan memproduksi jagung, dapat suntikan dana segar hampir separo APBD.

Tidak hanya sampai di situ. Jika hasil produksi jagung itu dikembangkan lagi ke industri turunan, mungkin keuntungan dari produksi jagung dan industri mencapai ratusan triliun. Misalkan Madura memiliki pabrik-pabrik besar dengan menggunakan bahan dasar jagung. Seperti pabrik tepung jagung, pabrik popcorn, dan pabrik makanan ringan berbahan dasar jagung.

Belum lagi banyak tenaga kerja terserap. Jika banyak tenaga terserap, pasti pendapatan masyarakat meningkat. Dengan begitu, kesejahteraan masyarakat meningkat.

Nanti semua bisa tahu jika Madura tidak hanya penghasil garam. Mereka pasti menilai Madura juga sebagai ladang jagung. Kebutuhan jagung nasional sekitar 15,5 juta ton. Sementara Madura bisa memproduksi 4.200.000 ton atau Madura menyumbang 27 persen kebutuhan jagung nasional. Namun, tidak sedikit pihak yang pesimistis untuk mewujudkan Madura sebagai ladang jagung.

Tahukah kisah sukses Kolonel Sanders? Pendiri Kentucky Fried Chicken KFC itu sempat mengalami kegagalan 1.009 Kali. Namun dia tidak pernah menyerah. Tetap bersemangat. Berkat kegigihan dan keuletan, KFC menjadi primadona masyarakat dunia. Banyak stan KFC hampir di segala penjuru negara. Masak masyarakat Madura mau menyerah?

Lebih-lebih memiliki abantal omba’ asapo’ angen. Alako berra’ apello koneng. Hal itu menujukkan etos kerja masyarakat yang enggan menyerah.

Jika 300.000 hektare lahan terwujud ditamani jagung, bukan tidak mungkin Pulau Garam jadi ladang jagung dan mengembangkan industri turunannya. Kemudian, dibangun pabrik besar yang menggunakan bahan dasar jagung. Sehingga banyak menyerap tenaga kerja dan pendapatan masyarakat meningkat.

Dengan begitu, Madura menjadi daerah maju. Jika kesempatan itu dimanfaatkan pemangku kebijakan, itu menunjukkan empat pemkab di Madura pandai membaca peluang. Pangapora ban mator sakalangkong.

(mr/bam/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia