Selasa, 11 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Sumenep

Penderita HIV/AIDS Meningkat

Dinkes Minta Tidak Malu untuk Berobat

16 November 2018, 06: 45: 59 WIB | editor : Abdul Basri

TAMU HARAP LAPOR: Seorang staf berada di ruang resepsionis kantor Dinas Kesehatan Sumenep.

TAMU HARAP LAPOR: Seorang staf berada di ruang resepsionis kantor Dinas Kesehatan Sumenep. (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

SUMENEP – Kasus HIV/AIDS di Sumenep meningkat. Saat ini ada 93 penyakit yang terdeteksi. Angka tersebut meningkat daripada September lalu yang hanya sekitar 69 kasus.

Kabid Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit (P2D) Dinas Kesehatan Sumenep Kusmawati mengatakan bahwa angka tersebut baru yang terlaporkan ke instansinya. Tidak menutup kemungkinan, masih ada kasus-kasus lain yang belum dilaporkan. Sebab, masyarakat rata-rata malu untuk melaporkan penyakit HIV/AIDS.

Dia menjelaskan, banyak faktor yang menjadi penyebab HIV/AIDS. Di antaranya, sering gonta-ganti pasangan. Bisa juga melalui jarum suntik dan penularan dari orang tua ke anak. ”Tapi, rata-rata penyakit HIV/AIDS itu terjadi karena faktor tidak setia kepada pasangan alias gonta-ganti pasangan,” jelasnya.

Istri ketua DPRD Herman Dali Kusuma itu berharap para penderita HIV/AIDS tidak malu untuk berobat. Jika sudah ada gejala terkena penyakit tersebut segeralah mendatangi rumah sakit atau puskesmas. Sebab, jika tidak segera ditangani, akan semakin membahayakan penderita.

”Ibu-ibu penderita HIV diharapkan mau berobat. Masyarakat yang merasa ada gejala yang tampak, maka periksalah,” pintanya. ”Pengobatan HIV ini tidak dipungut biaya, gratis,” tegasnya.

Pihaknya juga menyarankan agar seluruh ibu yang hamil memeriksakan kesehatannya. Pemeriksaan pada triwulan pertama sangat penting. Jika misalnya diketahui ada penyakit HIV/AIDS, hendaknya langsung melakukan pengobatan.

”Jadi, misalnya ditemukan pada triwulan pertama, maka ibunya minum obat. Kalau minum obat maka penularannya insyaallah bisa berkurang,” paparnya. ”Setelah bayi umur delapan bulan, maka perlu diperiksa apakah positif atau negatif. Biasanya kalau ibunya minum obat, bayinya negatif HIV,” imbuhnya.

Dia juga meminta masyarakat tidak mengucilkan penderita HIV/AIDS. Sebab, penyakit itu tidak akan menular hanya dengan tatap muka atau bersentuhan kulit. Penderita HIV/AIDS juga berhak bersosialisasi dengan masyarakat umum.

Selain itu, dia menyarankan kepada pasangan penderita HIV/AIDS untuk protektif. Jika ada istri atau suami yang terkena penyakit tersebut, hendaknya didukung untuk berobat. ”Kalau sudah terdeteksi berpenyakit HIV, jangan lupa pakai kondom saat berhubungan suami istri,” tukasnya. 

                                                                                                                                                                                                                       

(mr/mam/han/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia