Selasa, 20 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Sastra & Budaya

Menonton Pertunjukan Ludruk Tradisional Sinar Putra di Kampus UTM

Jumat, 09 Nov 2018 09:54 | editor : Abdul Basri

CERITA TOKOH: Ludruk Sinar Putra asal Sumenep mementaskan cerita Pangeran Trunojoyo di hadapan ratusan mahasiswa di halaman Gedung Pertemuan UTM, Senin malam (5/11).

CERITA TOKOH: Ludruk Sinar Putra asal Sumenep mementaskan cerita Pangeran Trunojoyo di hadapan ratusan mahasiswa di halaman Gedung Pertemuan UTM, Senin malam (5/11). (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

BANGKALAN - Tirai depan panggung pertunjukan masih tertutup. Master of ceremony (MC) ludruk mulai membacakan nama-nama pemain dan beberapa kata pengantar. Di sela-sela itu, kejungan terdengar merdu. Diiringi tabuhan gamelan sebagai musik pengiring. Khas Madura. Sementara kru pertunjukan di balik layar sibuk menyiapkan setting panggung.

Para pemeran juga mempersiapkan diri. Berdandan dan merias wajah sendiri, sesuai karakter yang akan diperankan. Ratusan mahasiswa di halaman Gedung Pertemuan Universitas Trunojoyo Madura (UTM) duduk manis. Ada yang lesehan, ada juga yang duduk di kursi.

Ketoprak Sinar Putra tampil di perguruan tinggi yang berstatus negeri pada 2001 itu. Grup ludruk asal Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep, kala itu tampil mengocok perut penonton. Pimpinan kampus UTM yang hadir juga tak bisa menahan tawa melihat lawakan kocak mereka.

Pertunjukan kesenian tradisional itu digelar sebagai perayaan Dies Natalis Ke-17 Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Nanggala pada Senin malam (5/11). Ketua Umum UKM Seni Nanggala Jailani mengatakan, ludruk memang jadi magnet tersendiri bagi para pencinta seni tradisional. Masyarakat biasanya rela duduk lama untuk menonton hiburan rakyat ini. Kadang bertahan hingga pertunjukan berakhir dini hari.

”Biasanya sampai pukul 03.00 dini hari baru selesai. Tapi karena ini di kampus, pukul 01.00 pertunjukan diakhiri,” ungkapnya.

Kesenian ludruk tahun ini sengaja dihadirkan untuk mengenalkan kekayaan seni Madura pada mahasiswa. Juga untuk mengenalkan kebudayaan di Madura. Dengan begitu, kaum intelektual tidak hanya tahu namanya saja, tapi juga tahu bentuk keseniannya.

”Ini juga sebagai bentuk pelestarian. Pertama kalinya UTM mengadakan pertunjukan ludruk,” kata mahasiswa asal Pakandangan Tengah, Kecamatan Bluto, Sumenep, itu.

Untuk pergelaran ini, kata Jailani, membutuhkan persiapan sekitar lima bulan. Pertunjukan ludruk menjadi sajian hiburan memperingati ulang tahun Nanggala yang lahir pada 2001 itu.

Penonton yang hadir didominasi kalangan mahasiswa. Mahasiswa yang hadir berasal dari semua fakultas serta organisasi intra dan eksternal kampus. Bahkan, masyarakat sekitar kampus UTM juga ada yang ikut menikmati.

Jailani menambahkan, rasa persatuan bisa terwujud salah satunya melalui kesenian. ”Seni budaya bisa mempersatukan kita sebagai bangsa, setelah dipetakan oleh persoalan politik,” kata mahasiswa program studi (Prodi) Hukum Bisnis Syariah, Fakultas Keislaman UTM semester 7 itu.

Sementara itu, Moh. Arnas, pimpinan ludruk Sinar Putra mengaku baru kali pertama tampil di kampus. Kali pertama pula ditonton ratusan mahasiswa dan petinggi kampus. ”Suatu kebanggaan bisa menghibur mahasiswa. Antusiasnya luar biasa. Apalagi mahasiswa di sini (UTM) tidak hanya dari Madura. Tapi, dari berbagai daerah di Indonesia,” ujar pria 45 tahun itu.

Malam itu Sinar Putra membawa 70 kru. Terdiri dari aktor, penabuh musik, penata panggung, lighting, dan divisi lainnya. Sinar Putra sudah berdiri sejak 1961. Ludruk di bawah pimpinannya biasa membawakan cerita tentang kehidupan rakyat sehari-hari. Kemudian, cerita perjuangan dan sebagainya yang diselingi dengan lawakan dan diiringi dengan gamelan.

”Di UTM kami mengangkat cerita tentang perjuangan Pangeran Trunojoyo. Sesuai nama kampus, yaitu Universitas Trunojoyo,” tuturnya.

Ada dua sesi pertunjukan yang dibawakan grup kesenian ludruk Madura ini. Diawali lawakan sebelum pertunjukan yang mengangkat cerita rakyat. Tak sedikit mahasiswa luar Madura yang ikut menyaksikan. Mereka juga tidak tahan untuk ikut tertawa. Padahal para pemeran pertunjukan saat itu lebih banyak menggunakan bahasa Madura.

”Walaupun tidak mengerti, tapi dari gerak tubuhnya saja kita sudah tahu apa yang dimaksud. Makanya ikut tertawa. Lucu,” kata Lalu Ardy Wiranata.

Mahasiswa asal Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini tidak mengerti bahasa Madura. Namun, bahasa tubuh dan mimik wajah para pemeran sudah terlihat lucu. Ardy mengaku takjub dan senang menonton pertunjukan khas Madura ini.

Selain itu, dia baru kali pertama mengenal ludruk. Dia kagum dengan para pelaku seni tradisional yang tetap eksis. Meskipun, banyak pemeran dan kru ludruk yang sudah berusia lanjut. ”Ceritanya menarik. Pemainnya memiliki karakter peran yang bagus,” ucap mahasiswa Prodi Sosiologi semester 1 itu.

(mr/bad/luq/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia