Kamis, 13 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Esai

Merangsang Potensi Guru dalam Menulis

Oleh M. Masyhur Billah*

08 November 2018, 02: 25: 59 WIB | editor : Abdul Basri

Merangsang Potensi Guru dalam Menulis

DALAM upaya memberikan nilai tambah posisi guru dalam bargaining di tengah-tengah kehidupan dunia pendidikan serta untuk menggalakkan minat menulis guru di Sampang, Dinas Pendidikan Sampang bekerja sama dengan Jawa Pos Radar Madura (JPRM) mengadakan Pelatihan Guru Menulis tiga hari sejak 31 Oktober 2018. Kegiatan tersebut diikuti segenap guru Sampang dalam berbagai jenjang pendidikan.

Guru diartikan sebagai sosok teladan yang harus digugu lan ditiru. Pribadi yang tidak hanya bertugas mendidik dan mentransformasi pengetahuan (ilmu) di dalam kelas saja. Guru dianggap sebagai sumber informasi bagi perkembangan kemajuan masyarakat ke arah yang lebih baik. Karena itu, dalam masyarakat seorang guru dituntut pandai dan mampu menjadi ujung tombak dalam setiap aspek perkembangan masyarakat (multitalenta).

Sepertinya Pelatihan Guru Menulis terdengar ganjil dan terkesan mengada-ada. Masa sih guru dilatih menulis? Padahal menulis dan membaca merupakan rutinitas pokok guru. Mengapa harus diadakan pelatihan? Bukankah seperti memberi garam di air laut?

Pelatihan tersebut bukan serta-merta dan terkesan dipaksakan. Tetapi, lebih dari sebuah mencari nurani guru yang akan (mulai) hilang. Ya, nurani yang paling esensial dan fundamental terancam hilang dari khazanah guru. Kita harus sadar bahwa esensi guru adalah menulis dan membaca. Dua aktivitas ini yang dalam dekade terakhir (khususnya) di Sampang mulai tergerus bahkan cenderung terpental dari hiruk-pikuk guru itu sendiri.

Adalah tepat dan bijaksana membentuk suatu wadah kegiatan yang diprakarsai Disdik Sampang dengan menggelar pelatihan guru menulis untuk merespons kecenderungan yang mulai senyap (kalau tidak dikatakan mati suri), bahwa guru zaman now mulai alergi baca tulis. Meski demikian, asumsi ini tidak berlaku pada semua guru. Masih ada yang peduli terhadap aktivitas baca tulis. Walau persentasenya sangat minim.

Permen PAN-RB 16/2009 tentang Jabatan Fungsional Guru Angka Kreditnya, pasal 1 ayat 2 menyebutkan, ”Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”. Untuk mencapai derajat tersebut, guru profesional tidak bisa serta-merta. Perlu tahapan dan melalui proses panjang berkesinambungan serta menyeluruh. Seminar guru menulis yang diadakan Disdik Sampang bekerja sama dengan JPRM merupakan salah satu cara untuk melawan kemalasan guru dalam menulis dan membaca.

Penulis sudah 20 tahun lebih menjadi guru, (sudah barang tentu) memahami mengapa sebagian besar guru lemah dalam aktivitas menulis dan membaca. Bukan berarti mereka tidak mampu. Namun, masih perlu dirangsang dan dibangkitkan kebiasaan menulis dan membaca.

Terbelenggu oleh Rutinitas

Alasan ini cenderung klise. Alasan ini hanya membela diri. Mana ada sih manusia di dunia ini yang tidak sibuk dengan kegiatan rutinitas? Mereka (guru) sering kali mengeluhkan tugas akademik yang membelenggunya. Mulai membuat rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), prota (program tahunan), promes (program semester), analisis hasil ulangan, remidi, membuat soal ujian, dan seabrek tugas-tugas akademik lainnya. Belum lagi kesibukan sebagai manusia dalam rumah tangga dan masyarakat.

Praktisnya, mereka (guru) menggerutu supersibuk. Rutinitas kesibukan bisa saja direduksi secara terprogram dan terencana, sesibuk apa pun sebagai guru (manusia), apabila ada program dan perencanaan yang matang pasti mampu menghadapi (baca: melawan) padatnya kegiatan tersebut. Guru harus menata kegiatannya secara terencana dan terprogram, sehingga lambat-laun mampu melatih diri yang akhirnya dapat menjadikan budaya baca-tulis sebagai kegiatan dan menjadi budaya positif.

Untuk melatih diri, mulailah menulis hal-hal yang ringan, yang ada dalam benak dirinya, sambil (tentunya) membuka referensi yang diperlukan. Jangan takut salah. Perasaan takut salah akan menjadi momok yang sulit untuk berkembang. Adalah bijak bila kita merencanakan program membaca dan menulis dalam aktivitas sehari-hari (sesibuk apa pun), supaya makna sebagai guru melekat pada sikap dan sifat kita.

Menutup Diri (Miskin Wawasan)

Bisa jadi kita atau siapa saja yang menjadi guru (diangkat negara) atau yang mengabdi secara GTT (guru tidak tetap) mungkin hanya karena nasib lagi mujur. Jangan-jangan kita terjebak menjadi guru tanpa memikirkan fungsi dan peranannya untuk mendewasakan anak didik. Bahkan, tanpa ada rasa kewajiban untuk meningkatkan kualitas keilmuan.

Guru yang menutup diri (miskin wawasan) menggambarkan bahwa mereka tergolong guru yang sulit diajak maju. Dalam benaknya, yang terpikir hanya untuk menggugurkan tugas kewajiban. Mereka bekerja tapi tidak bertugas. Hadir di institusi pendidikan, tapi belum mampu memberi nilai lebih. Dari tahun ke tahun begitu-begitu saja. Belum mampu menemukan inovasi dalam kegiatan belajar mengajar.

Hendaknya guru bersangkutan membuka diri dan memperkaya wawasan, dengan cara mulailah (harus dipaksa) untuk melatih diri menulis dan membaca sesekali minta saran (masukan) dari koleganya. Pelan tapi pasti akan memperoleh wawasan baru yang dapat memberikan nilai tambah pada dirinya.

Tidak Bersemangat

Energi negatif yang paling membunuh mental dan jati diri guru adalah tidak bersemangat atau malas. Tiap individu bila masuk pada posisi ini (tidak bersemangat/malas), tunggulah kehancuran dirinya. Siapa pun, kapan pun, dan di mana pun penyakit malas ini akan selalu membayangi. Sampai saat ini belum ditemukan obat paling ampuh untuk membunuh rasa malas ini. Teori apa pun akan sia-sia. Namun penyakit ini harus dilawan dirinya sendiri dengan niat menggelora untuk menekan rasa malas.

Mulailah melakukan aktivitas paling kecil yang Anda sanggup untuk menuju ke target. Kuncinya adalah melakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Melatih diri untuk memenuhi target merupakan bagian dari integritas diri. Pemula tidak perlu langsung melakukan pekerjaan yang banyak atau besar. Cukup yang ringan dan kecil-kecil saja tapi harus konsisten. Begitu juga dalam aktivitas membaca dan menulis.

Ironis sekali apabila pelatihan guru menulis yang diprakarsai Disdik Sampang bekerja sama JPRM hanya ditangkap sebagai kegiatan seremonial tanpa adanya refleksi positif dari guru untuk membudayakan menulis. Maka akan menjadi trade mark yang negatif di dunia pendidikan. Harusnya pelatihan guru menulis dapat membangkitkan asa untuk mengaktualisasikan dirinya dengan ide-ide yang dimiliki sebagai sumbangsih pemikiran demi kemajuan pendidikan yang notabene akan memberikan andil dalam pencapaian manusia (anak didik) yang paripurna.

Kita harus memahami, guru merupakan agent of change (agen perubahan). Pintu masuk aura positif dan peletakan dasar nilai-nilai kemanusiaan yang bermartabat. Mari kita mengubah pola pikir dan pola pandang. Jangan takut salah untuk berbuat. Tapi takutlah bila Anda tidak berbuat apa-apa. Ora et Labora. (*)

*)Kepala SMP Negeri 1 Karang Penang, Sampang.

(mr/*/bas/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia