Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Features

Madura Jadi Pilot Project Pengembangan Hutan Kayu Putih

Selasa, 06 Nov 2018 09:54 | editor : Abdul Basri

GAGAS POTENSI ALTERNATIF: Dari kiri, Rektor UTM Muh. Syarif, Direktur BPEE Kementerian LHK Tandya Tjahjanto, Dekan Fakultas Pertanian UTM Slamet Subari, dan Anggota Komisi IV DPR RI Yus Sudarso menunjukkan dokumen perjanjian pengembangan kayu putih.

GAGAS POTENSI ALTERNATIF: Dari kiri, Rektor UTM Muh. Syarif, Direktur BPEE Kementerian LHK Tandya Tjahjanto, Dekan Fakultas Pertanian UTM Slamet Subari, dan Anggota Komisi IV DPR RI Yus Sudarso menunjukkan dokumen perjanjian pengembangan kayu putih. (BADRI STIAWAN/RadarMadura.id)

Madura kini dilirik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) untuk dijadikan pilot project pengembangan kayu putih. Tanaman yang menjadi cikal bakal bahan pembuatan minyak kayu putih itu masih dikaji pihak kementerian, akademisi, dan pemerintah daerah.

***

SENIN (5/11) Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan menandatangani kesepakatan inisiasi kerja sama pengembangan kayu putih bersama Fakultas Pertanian Universitas Trunojoyo Madura (UTM). Selain itu, dilaksanakan focus group discussion (FGD) mengenai pengembangan kayu putih di Madura.

Direktur Bina Pengelolaan Ekosistem Esensial (BPEE) Kementerian LHK Tandya Tjahjanto menyampaikan, program hutan kayu putih bertujuan meningkatkan taraf hidup masyarakat. Selain bisa mengangkat perekonomian, bisa menjadi tujuan wisata.

”Program ini membutuhkan proses panjang. Manfaatnya kami yakin akan berdampak dalam jangka waktu panjang,” ucap ketua Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan itu.

Anggota Komisi IV DPR RI Yus Sudarso menerangkan, Kementerian LHK merupakan salah satu mitra kerjanya. Untuk itu, dia merasa berkewajiban mengawal program Kementerian LHK ini. Menurut dia, pengembangan kayu putih bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Program pemerintah pusat itu diharapkan bersinergi dengan pemerintah daerah. Selain itu, mendapat pendampingan aktif dari perguruan tinggi. Dengan demikian, bermanfaat bagi petani dan masyarakat Madura. Penanaman pohon kayu putih tersebut merupakan bagian pilot project. ”Jika program ini dimanfaatkan dengan baik oleh pekebun atau petani, akan memicu petani yang lain untuk berlomba-lomba menanam kayu putih,” katanya.

Politikus Partai Demokrat itu menjelaskan, program itu ditargetkan bisa memanfaatkan lahan tidak produktif. Tujuannya, mewujudkan Madura hijau. Jika lahan kering dapat dimanfaatkan menjadi hutan kayu putih, lanjut dia, bukan hanya penghijauan, melainkan Madura bisa menjadi penghasil minyak kayu putih terbesar kedua setelah Ambon.

Yus Sudarso mengatakan, keberhasilan program itu terletak pada varietas kayu putih dari Kementerian LHK yang sudah terbukti unggul. Dukungan pemerintah daerah sangat penting. Program tersebut diharapkan dapat menghindarkan dari ego sektoral. Sebab, program itu merupakan inisiasi Kementerian LHK dan yang menyiapkan lahan dinas pertanian setempat.

”Penggarapnya kelompok tani. Bibitnya dari kementerian kehutanan, pompa sumur bornya dari bagian pertanian. Jadi bersinergi,” ujarnya.

Perguruan tinggi ikut terlibat. Dengan adanya sinergi tersebut, hutan kayu putih diyakini diyakini memberikan manfaat kepada masyarakat. Dia menambahkan, keseluruhan pilot project itu akan dilakukan pada lahan seluas 400 hektare di Madura. Pertama dimulai dari Bangkalan 100 hektare. Kemudian dilanjutkan ke tiap kabupaten lain 100 hektare.

Rencananya, program itu dirampungkan pada tahun anggaran 2019–2020. Yus Sudarso mengaku sudah berbicara langsung dengan menteri LHK. Menurut dia, pihak kementerian sangat berharap program tersebut terwujud dan berhasil di Madura.

”Jelas kemanfaatannya. Satu tahun tiga bulan daunnya sudah bisa disuling menjadi minyak kayu putih. Masa produktifnya bisa sampai 25 tahun,” tuturnya.

Rektor UTM Muh. Syarif mengaku siap ikut mengawal program itu. Terlebih Madura memang butuh percepatan pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat. Penandatanganan kerja sama UTM dengan Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan menjadi bukti keterlibatan UTM untuk program tersebut.

”Lahan kering di Madura berpotensi untuk pengembangan kayu putih. Jika terwujud, ini akan menjadi pencapaian luar biasa,” ujar rektor asal Sampang itu.

Sementara itu, Asisten Administrasi Perekonomian dan Pembangunan Pemkab Bangkalan Puguh Santoso mengungkapkan, Pemkab Bangkalan mendukung program pengembangan hutan kayu putih tersebut. Menurut dia, program pemerintah pusat untuk memajukan dan menyejahterakan masyarakat tersebut sejalan dengan visi bupati. ”Yakni, terwujudnya Bangkalan yang agamais dan sejahtera berbasis potensi lokal. Kami punya potensi memadai,” tuturnya.

Dia memaparkan, pihaknya mampu menyediakan 100 hektare lahan yang ditargetkan ditanami kayu putih. Bahkah bisa lebih. ”Ini bukan sekadar program menanam pohon, tapi membuat hutan. Kami harapkan bisa jadi destinasi wisata,” pungkasnya.

(mr/bad/hud/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia