Sabtu, 15 Dec 2018
radarmadura
icon featured
Pamekasan

IAIN Madura Kembali Gelar International Conference on Islamic Studies

29 Oktober 2018, 10: 44: 01 WIB | editor : Abdul Basri

SATU SEMANGAT: Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. (paling kanan) bersama pemateri Iconis 2018, Sabtu (27/10).

SATU SEMANGAT: Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. (paling kanan) bersama pemateri Iconis 2018, Sabtu (27/10). (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

PAMEKASAN - IAIN Madura menggelar International Conference on Islamic Studies (Iconis) 2018. Kegiatan tersebut menjadi ajang bagi akademisi mempresentasikan hasil penelitian.

 Sejumlah akademisi dari berbagai perguruan tinggi memasuki aula IAIN Madura di Jalan Panglegur, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, sekitar pukul 07.40 Minggu (28/10). Panitia Iconis 2018 yang stand by di depan pintu aula menyambut para akademisi itu dengan ramah.

Tamu dan para akademisi diantar menuju tempat duduk masing-masing. Para akademisi yang hadir dalam kegiatan Iconis 2018 akan mempresentasikan pemikiran dan hasil penelitiannya.

BERSAHAJA: Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. memberikan sambutan di kegiatan Iconis 2018.

BERSAHAJA: Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag. memberikan sambutan di kegiatan Iconis 2018. (ANIS BILLAH/RadarMadura.id)

Beberapa waktu lalu akademisi beberapa perguruan tinggi dari dalam dan luar negeri sudah mengirimkan abstrak hasil penelitian mereka. Sebanyak 128 abstrak hasil penelitian diterima panitia Iconis 2018. Namun, tidak semua terpilih untuk presentasi.

”Setelah dilakukan seleksi, yang terpilih untuk presentasi 65 abstrak hasil penelitian. Di forum Iconis 2018 ini, para akademisi itu akan menyampaikan dan mempertahankan gagasannya,” jelas Rektor IAIN Madura Dr. H. Mohammad Kosim, M.Ag., Sabtu (27/10).

Abstrak hasil penelitian itu dipresentasikan secara parallel session yang dimulai pukul 13.00 hingga 17.30. Presentasi dibagi menjadi enam ruang untuk efisiensi waktu.

Ada dua perguruan tinggi luar negeri yang ikut dalam Iconis kali kedua ini. Yaitu, Scientific Research Tashkent Uzbekistan dan Aligarh Muslim University, India.

Perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia juga banyak yang berpartisipasi. Di antaranya, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh; UIN Sultan Syarif Kasim, Riau; IAIN SAS, Bangka Belitung; ITB, Bandung; UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta; UPI, Bandung; UNS, Surakarta, Universitas Hasanuddin, Makassar; IAIN Pekalongan; UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta; dan beberapa kampus di Jawa Timur.

Iconis 2018 mengangkat tema Exploring The Moderation of Islam Within Indonesian Civilization. Akademisi menggali beragam praktik moderasi beragama di kalangan umat Islam Indonesia.

”Sebagaimana kita ketahui, dalam sejarahnya yang panjang, Islam Indonesia tumbuh dan berkembang secara santun. Disebarkan para wali yang humanis. Kemudian, dikembangkan oleh ormas Islam moderat yakni, NU dan Muhammadiyah,” urai Kosim.

Menurut dia, selama dua ormas tersebut konsisten menebarkan Islam damai, moderasi beragama di Indonesia akan tetap lestari. Kegiatan Iconis sebagai bentuk peran serta perguruan tinggi dalam mengampanyekan moderasi agama.

Diharapkan tercipta Islam yang damai dan memberikan rahmat bagi seluruh alam. ”Menurut kami, ajaran Islam sangat moderat. Bahkan, tujuan utama Islam adalah menebar rahmat ke seluruh alam. Tapi, tidak otomatis pemeluknya bersikap moderat,” terang Kosim.

Dia menyampaikan, saat ini banyak kelompok yang merasa paling benar. Mereka menebar kebencian melalui berbagai cara. Melalui media sosial (medsos) dengan mudah mereka menyebarkan hal-hal yang tidak baik.

”Ini kalau dibiarkan, membahayakan. Bisa menggoyahkan moderasi beragama yang telah dibangun para pendahulu. Kami akan berusaha mempertahankan moderasi beragama,” tandas Kosim. 

65 Abstrak dari Dalam dan Luar Negeri Dipresentasikan

(mr/hud/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia