Jumat, 13 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Bangkalan

Desa Paterongan Luput dari Distribusi Air Bersih

28 Oktober 2018, 06: 30: 59 WIB | editor : Abdul Basri

BUTUH PERHATIAN PEMKAB: Warga saat menimba air sumur di Dusun Tok Koning, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Jumat (26/10).

BUTUH PERHATIAN PEMKAB: Warga saat menimba air sumur di Dusun Tok Koning, Desa Paterongan, Kecamatan Galis, Jumat (26/10). (JUPRI/RadarMadura.id)

Share this      

BANGKALAN – Pemkab Bangkalan sudah setiap hari memberikan bantuan pendistribuan air bersih terhadap 25 desa dari 12 kecamatan yang mengalami kekeringan kritis. Hanya, penyaluran air belum dirasakan warga Desa Peterongan, Kecamatan Galis.

Seperti yang disampaikan Masiyah, 35, warga Dusun Tok Koning, desa setempat. Dia dan tetangganya harus menimba air sumur milik salah satu warga yang berjarak setitar 500 meter dari rumahnya. ”Jeriken ini yang jemput suami saya pakai motor,” ujarnya.

Air itu untuk memenuhi kebutuhan mandi, masak, dan minum. Dia mengaku terpaksa mencari air layak konsumsi walaupun jauh dari rumahnya. ”Kalau beli satu pikap di rumah itu Rp 120 ribu. Jadi tidak punya uang untuk membelinya,” tuturnya.

Masiyah menambahkan, selama musim kemarau, dia tidak pernah mendapatkan bantuan air bersih dari pemerintah. Karena itu, dia berharap ada bantuan air bersih dari pemkab. ”Kalau dari pemerintah tidak ada bantuan air bersih sama sekali,” ungkap dia.

Di tempat terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bangkalan Rizal Morris menyampaikan, selama ini pihaknya telah mendistribusikan 5 tangki air bersih setiap hari. Pihaknya mengaku tidak bisa melakukan penambahan karena keterbatasan armada. ”Memang keterbatasan armada. Ini kan punya PDAM,” katanya Sabtu (27/10).

Rizal menambahkan, lembaganya memiliki data desa yang mengalami kekeringan kritis.  Yakni, 25 desa yang tersebar di 12 kecamatan. Pihaknya juga mengklaim bahwa Desa Paterongan, Kecamatan Galis, tidak masuk desa yang mengalami kekeringan kritis. ”Dari data kami, Desa Paterongan tidak masuk kategori kering kritis,” tegasnya.

Untuk menentukan bahwa suatu daerah mengalami kekeringan kritis, kata Rizal, pihaknya menunggu pemberitahuan dari pihak kecamatan. Sementara yang mengusulkan bahwa sebuah desa bisa dikatakan sebagai daerah kekeringan kritis, harus disampaikan oleh kepala desa ke kecamatan.

”Secara aturan, dropping air itu harus ada laporan dulu, dari kepala desa (Kades) ke Pak Camat. Lalu, Pak Camat kepada kami,” tambahnya.

Dropping air bersih dilakukan ke rumah Kades. Sementara yang menentukan titik pendistribusian bantuan air adalah Kades. ”Yang menentukan titik distribusi adalah kepala desa. Sebab, kepala desa yang tahu dusun mana yang butuh air,” pungkasnya. (c3)

(mr/onk/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia