Sabtu, 14 Dec 2019
radarmadura
icon featured
Sastra & Budaya

Ngobrol Bareng Budayawan Nasional Zastrow Al-Ngatawi

Islam dan Pancasila ibarat Tebu dengan Gula

26 Oktober 2018, 19: 18: 43 WIB | editor : Abdul Basri

SANTAI: Budayawan Nasional Zastrow Al-Ngatawi (pegang mik) didampingi senior Ikasuka KH Shovi Bahar (kiri), Ketua Ikasuka Sumenep Fathol Haliq (dua dari kanan), dan Ketua PC ISNU Sumenep KH Mohammad Hosnan mengisi diskusi Ikasuka di Aula GP Ansor Sumenep,

SANTAI: Budayawan Nasional Zastrow Al-Ngatawi (pegang mik) didampingi senior Ikasuka KH Shovi Bahar (kiri), Ketua Ikasuka Sumenep Fathol Haliq (dua dari kanan), dan Ketua PC ISNU Sumenep KH Mohammad Hosnan mengisi diskusi Ikasuka di Aula GP Ansor Sumenep, (IMAM S. ARIZAL/RadarMadura.id)

Share this      

PAMEKASAN - Islam dan Pancasila menjadi diskursus yang tidak pernah habis didiskusikan. Pro dan kontra terus bermunculan. Tak sedikit yang membenturkan antara Islam dan Pancasila.

Zastrow Al-Ngatawi mengisi acara Nada dan Dakwah di depan Masjid Jamik Sumenep tadi malam. Sebelum acara tersebut, dia terlebih dahulu mengisi beberapa pertemuan. Di antaranya, yakni Ngobrol Bareng yang digelar Ikasuka Sumenep di aula PC GP Ansor Sumenep, Rabu siang (24/10).

Kang Sastro, demikian dia biasa disapa, tiba di aula PC GP Ansor Sumenep di Desa Kebonagung sekitar pukul sembilan pagi. Dia datang dengan ciri khasnya, yakni memakai belangkon. Ikatan Alumni Sunan Kalijaga (Ikasuka) Sumenep mengundangnya untuk berdiskusi karena dia kebetulan singgah di Kota Keris.

Banyak hal yang didiskusikan pria yang pernah menjadi ajudan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu. Salah satunya terkait relevansi antara Islam dan Pancasila serta diskursus Islam Nusantara. Sebab menurutnya, dua hal itu sering kali disalahtafsirkan oleh masyarakat.

Menurut pria kelahiran Pati, 27 Agustus 1966 tersebut, Islam dan Pancasila tidaklah perlu diperdebatkan. Sebab, Pancasila merupakan intisari dari ajaran-ajaran Islam. Bahkan, menurut dia, tidak ada satu pun sila dalam Pancasila yang bertentangan dengan ajaran Islam.

”Islam dan Pancasila itu ibarat tebu dengan gula,” katanya memberikan perumpamaan sederhana.

Menurut dia, Pancasila merupakan saripati dari tebu, yakni gula. Orang memakan gula bukan berarti tidak mau pada tebu. Begitu pun orang tidak bisa mempertentangkan antara gula dengan tebu.

Alumnus IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Jogjakarta itu juga menegaskan bahwa orang yang ingin membuat kopi tidak perlu membicarakan lebih mulai mana antara gula dengan tebu. Sebab ketika dia diberi tebu, justru tidak bisa dicampur dengan kopi. Maka satu-satunya cara yakni diambil saripatinya yang sudah berbentuk gula.

Dia juga menjelaskan kenapa harus ada jargon NKRI harga mati. Menurutnya, ada beberapa kelompok yang menanyakan kenapa bukan syariat Islam harga mati? Padahal syariat Islam lebih tinggi daripada Pancasila.

Menurut Kang Sastro, pemahaman semacam itu terlalu dangkal. Sebab, untuk membela syariat Islam tidak perlu dijargonkan. Membela syariat Islam sudah menjadi kewajiban individual umat Islam itu sendiri.

”Semua umat Islam wajib menjalankan syariat Islam. Karena kalau tidak menjalankan syariat Islam, dia bukan lagi menjadi umat Islam,” paparnya.

Tetapi, bagaimana cara menjalankan syariat Islam? Syariat Islam itu bisa jalan, bisa tegak, dan bisa diamalkan kalau negaranya tenteram, berdaulat, utuh. Kalau negaranya perang terus, bergejolak terus, maka umat Islam di dalamnya tidak akan mungkin bisa menjalankan syariat Islam dengan baik.

”Coba sampean hidup di Suriah, hidup di Afganistan. Bisa nggak menjalankan syariat Islam? Jangankan mau mendidik anak, mau ngaji, mau salat saja susah,” imbuhnya. ”Di Indonesia sampean menjalankan syariat Islam, mana yang sampean tidak bisa,” tegasnya.

Selain relasi Islam dan Pancasila, dia juga menguatkan gagasan Islam Nusantara. Islam Nusantara merupakan solusi alternatif di tengah munculnya citra buruk Islam di dunia internasional. Selain itu, Islam Nusantara juga menjadi benteng keutuhan negara. Terutama di saat negara berada di hadapan dua kekuatan kepentingan global.

”Indonesia saat ini sedang dalam tekanan dua kekuatan. Yakni, liberalisme humanisme dan fundamentalisme formal religius,” tegasnya.

Kedua kelompok sayap kiri dan sayap kanan ini sama-sama ingin menghancurkan kelompok nasionalis. Di Indonesia, kelompok keagamaan yang memiliki semangat nasionalisme yaitu Nahdlatul Ulama (NU). Karena Islam Nusantara itu dimunculkan oleh NU, maka diseranglah habis-habisan.

”NU akan menjadi batu sandungan bagi kepentingan internasional yang ingin mengorganisasi kepentingannya di Indonesia,” tambahnya.

Rata-rata, kata dia, para pengkritik Islam Nusantara tidak paham dengan istilah Islam Nusantara itu sendiri. Mereka membuat definisi sendiri yang salah. Kemudian, definisi itu mereka kritik. Sebab, dari hampir seluruh kritik Islam Nusantara, rata-rata yang dikritik bukan konsepsi Islam Nusantara yang digagas oleh NU.

Para pengkritik biasanya menyebut Islam Nusantara antihabaib. Padahal menurutnya, tidak ada bangsa di dunia yang cinta terhadap para habaib melebihi bangsa Nusantara. Bangsa Nusantara juga sangat menghormati keturunan Arab.

”Seluruh pesantren bahasanya pakai bahasa Arab. Tidak ada pesantren yang tidak mengerti bahasa Arab. Huruf saja pakai huruf Arab. Yang begitu kok disebut anti-Arab,” paparnya.

”Yang dikritik Islam Nusantara itu Arabisme. Arabisme penggunaan pemahaman dan simbol-simbol kearaban yang menindas tradisi Nusantara,” tegasnya.

(mr/mam/luq/bas/JPR)

 TOP
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia