Kamis, 15 Nov 2018
radarmadura
 
icon featured
Bangkalan
Cerita Ibu Ini Bikin Iri Kita Semua

Tidak Tamat SD Gigih Kuliahkan Enam Anaknya Hingga Sukses

Sabtu, 20 Oct 2018 00:54 | editor : Abdul Basri

PENGUSAHA SUKSES : Zahtoh Jumaati foto bersama suaminya (almarhum) yang sukses menyekolahkan anaknya hingga jadi pejabat.

PENGUSAHA SUKSES : Zahtoh Jumaati foto bersama suaminya (almarhum) yang sukses menyekolahkan anaknya hingga jadi pejabat. (ANIS MAULIDYA SOFA/Radarmadura.id)

BANGKALAN - Zahroh Jumaati biasa di panggil Jih Ma’ati oleh warga setempat di Jalan Letkol 212 Arosbaya Bangkalan. Dia pengusaha kelapa yang gigih menyekolahkan anaknya hingga perguruan tinggi. Bahkan anaknya berhasil jadi dokter, pilot dan anggota DPRD Bangkalan.

Dia memang tidak tamat sekolah dasar (SD) dan memilih menjual kelapa. Selama bertahun-tahun dia menjual kelapa kupas di Pasar Selasaan Arosbaya Bangkalan. Namun, kegigihannya terus berjuang membiayai anaknya sekolah sampai tamat perguruan tinggi.

Zahtoh Jumaati dinikahi oleh almarhum Anwar Maslui pada usia lima belas tahun. Mereka dikaruniai enam orang anak. Semua anaknya sukses sesuai bidangnya masing –masing. ”Kami berjuang agar semua anak saya sekolah sampai tamat perguruan tinggi,” katanya.

Anak pertama pasangan Zahtoh Jumaati dan Almarhum Anwar Maslui, Masterah menjadi dokter gigi, anak kedua Mahmudi kini merupakan anggota DPRD Bangkalan, Budi Hartono seorang pilot disalah satu maskapai penerbangan, dan Ahmad Susilowanto bekerja swasta berlayar di perusahaan luar negeri.

Termasuk Ardi sebagai dokter umum dan kepala di salah satu Puskesmas di Bangkalan. Sementara anak bungsu, Fahrul Abdul Azis menjadi dokter spesialis penyakit dalam di Makasar.

Jumaati menjual kepala kupas dari lapak meja bambu yang sekarang sudah memiliki gudang sendiri. Panit manis berdagang sudah ia rasakan. Tidak hanya untung, kerugian cukup besarpun ia alami. ”Kami terus berupaya untuk tetap bertahan. Jatuh bangun dalam usaha itu wajar,” ucapnya.

Jih Maati terus mengembangkan usahanya. Tidak hanya kelapa kupas yang dijualnya. Namun, dia mulai memanfaatkan semua bagian dari kelapa. Mulai dari serabut, batok hingga air kelapa. Saat ini usahanya hanya mengambil keuntungan dari sesama pedagang kelapa. Setiap hari kelapa dikirim ke Bali dengan omset sekitar Rp 9 juta setiap bulan.

”Cibiran dari orang itu sudah biasa. Hanya tukang penjual kelapa kok menyekolahkan anaknya. Hal seperti itu justru menjadi semangat bagi saya dan suami untuk membiayai anak,” imbuhnya. (RM1)

(mr/fat/bas/JPR)

Jawa Pos Digital
E-Paper
Most Read
 TOP
Artikel Lainya
 
 
 

Subscribe

E-Paper
Follow us and never miss the news
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia